Berpikir sebagai Jalan Manusia Menemukan Dirinya
Tidak semua orang benar-benar sempat berpikir tentang kehidupan yang sedang ia jalani. Banyak yang berjalan cukup jauh, terlihat sibuk, bahkan tampak yakin dengan arah yang ditempuh, namun jarang berhenti untuk memastikan apakah semua itu benar-benar dipahami atau sekadar diikuti. Di titik yang sering terlewatkan itulah akal sebenarnya berhasil.
Manusia tidak kekurangan akal. Yang lebih sering terjadi, ia tidak cukup memberi ruang bagi akalnya sendiri. Ia lebih mudah menerima daripada menimbang, lebih cepat menyimpulkan daripada memahami. Padahal yang membedakan bukanlah seberapa banyak yang diketahui, melainkan seberapa jauh seseorang mau mendekati apa yang ia pikirkan.
Prof Warsono pernah mengingatkan bahwa perbedaan manusia bukan pada ada atau tidaknya akal, tetapi pada bagaimana ia digunakan. Sebuah pernyataan yang sederhana, namun tidak selalu mudah dijalani. Karena berpikir, pada saat tertentu, menuntut kejujuran. Dan kejujuran tidak selalu menghadirkan kenyamanan.
Descartes pernah sampai pada keyakinan bahwa keberadaan manusia bertumpu pada aktivitas berpikirnya. Aristoteles pun memandang akal sebagai pembeda utama manusia. Namun dalam kesekharian, berpikir sering kali cukup sampai pada rasa yakin. Tidak selalu dilanjutkan pada usaha untuk benar-benar memahami apa yang diyakininya.
Berpikir tidak selalu membawa ketenangan. Kadang justru menghadirkan kegelisahan yang sebelumnya tidak terasa. Tetapi mungkin dari situlah pemahaman tumbuh. Ketika seseorang mulai menyadari bahwa apa yang ia lihat belum tentu utuh, bahwa setiap peristiwa tidak berdiri sendiri. Ada sebab yang bekerja diam-diam, ada keterkaitan yang tidak selalu langsung terlihat.
Akan memberi kemampuan untuk menalar, tetapi tidak selalu memberi arah. Di titik ini hati nurani mengambil persetujuan. Bukan untuk menggantikan, tapi untuk mengingatkan. Baik berjalan dalam waktu yang sama, waktu yang terus bergerak tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Tentang hati nurani dan waktu, mungkin perlu dibicarakan lebih jauh di kesempatan lain. Di sini, cukup disadari bahwa keduanya tidak pernah benar-benar terpisah dari cara kita berpikir.
Al-Qur'an menyebut aktivitas berpikir sebagai sesuatu yang dilakukan, bukan sekadar dilakukan. Kata-kata yang digunakan berbentuk kerja, seakan-akan menegaskan bahwa akal tidak cukup disimpan. Ia perlu dijalankan. Dan ketika banyak di antaranya berbentuk jamak, ada pesan yang terasa pelan namun di dalam. Bahwa berpikir tidak berhenti pada diri sendiri.
Barangkali di tenggelam yang sering luput. Berpikir bukan tentang menjadi paling benar, tetapi tentang kesediaan untuk terus memperbaiki cara memahami. Suatu masyarakat tidak serta-merta kuat karena banyaknya suara, tetapi karena ada yang mau menimbang sebelum berbicara, dan ada yang cukup lapang untuk mendengar.
Pada akhirnya, berpikir bukanlah sesuatu yang jauh. Ia justru dekat, hanya saja sering tidak diajak hadir. Ia ada dalam keputusan kecil, dalam cara melihat sesuatu, bahkan dalam diam yang sering dianggap biasa. Dan mungkin, manusia tidak benar-benar kehilangan arah. Ia hanya belum cukup lama duduk bersama akalnya sendiri.
Dari sanalah semuanya bisa dimulai. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu merasa harus sampai. Barangkali cukup dengan memberi sedikit ruang, agar akal tidak hanya digunakan, tetapi juga didengarkan.








Komentar
Posting Komentar