Portal As'ad Khunaifi

As'ad Fauzuddin Khunaifi

As'ad Fauzuddin Khunaifi

"Menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat akar rumput"

Mantup, Lamongan, Jawa Timur

Biodata Singkat

Pemuda yang tumbuh dari perbatasan Lamongan Selatan, dengan keseharian yang sederhana dan banyak belajar dari sekitar.

Dari situ pelan-pelan terbentuk cara pandang tentang menolong sesama dan ikut membangun masyarakat di akar rumput.

Domisili: Mantup, Lamongan, Jawa Timur

Rekam Jejak Organisasi

Ketua PRM Rumpuk

2020 - Sekarang

Ketua Takmir Masjid Al-Muhsinun Rumpuk

2020 - Sekarang

MPID PCM Mantup

Pengelolaan digitalisasi & media @muhammadiyah_mantup • 2022 - Sekarang

Sekretaris Umum PD IPM Lamongan

Maret 2024 - Sekarang

Anggota Monev LFP PW IPM Jawa Timur

Juni 2023 - Agustus 2025

Anggota Perkaderan PD IPM Lamongan

Desember 2021 - Maret 2024

Ketua Umum PC IPM Mantup

Desember 2019 - Maret 2022

Sekretaris KFPD PD IPM Lamongan

Agustus 2018 - 2021

Anggota Bid. Hukum & HAM PC IMM Surabaya

2026 - Sekarang

Ketua Bid. Kader & IMMawati Korkom UNESA

November 2024 - Juni 2025

Ketua Bid. Kader PK IMM HEKSOS UNESA

Oktober 2023 - November 2024

Sekretaris Bid. Kader PK IMM HEKSOS UNESA

Oktober 2022 - Oktober 2023

Anggota Komisi I MPM UNESA

2024

Staf Kementerian Agitprop BEM UNESA

2023

Anggota Dept. Ekraf HMJ PMP-KN UNESA

2022

Wakil Ketua Karang Taruna Prisma

2024 - Sekarang

PPS Desa Rumpuk - KPU Lamongan

2024

Kontributor Penyuntingan Buku LBB Master J

2023

Pendidikan Formal

Universitas Negeri SurabayaS1 PPKn • 2021 - Sekarang
SMA Negeri 1 MantupMIPA • 2018 - 2021
SMP Negeri 2 Mantup2015 - 2018
SD Negeri Sidomulyo2009 - 2015

Pencapaian

Pramuka Penegak Garuda - Kwartir Cabang Lamongan (2022)

Berpikir sebagai Jalan Manusia Menemukan Dirinya

As'ad Fauzuddin Khunaifi

Tidak semua orang benar-benar sempat berpikir tentang kehidupan yang sedang ia jalani. Banyak yang berjalan cukup jauh, terlihat sibuk, bahkan tampak yakin dengan arah yang ditempuh, namun jarang berhenti untuk memastikan apakah semua itu benar-benar dipahami atau sekadar diikuti. Di titik yang sering terlewatkan itulah akal sebenarnya berhasil.

Manusia tidak kekurangan akal. Yang lebih sering terjadi, ia tidak cukup memberi ruang bagi akalnya sendiri. Ia lebih mudah menerima daripada menimbang, lebih cepat menyimpulkan daripada memahami. Padahal yang membedakan bukanlah seberapa banyak yang diketahui, melainkan seberapa jauh seseorang mau mendekati apa yang ia pikirkan.

Prof Warsono pernah mengingatkan bahwa perbedaan manusia bukan pada ada atau tidaknya akal, tetapi pada bagaimana ia digunakan. Sebuah pernyataan yang sederhana, namun tidak selalu mudah dijalani. Karena berpikir, pada saat tertentu, menuntut kejujuran. Dan kejujuran tidak selalu menghadirkan kenyamanan.

Descartes pernah sampai pada keyakinan bahwa keberadaan manusia bertumpu pada aktivitas berpikirnya. Aristoteles pun memandang akal sebagai pembeda utama manusia. Namun dalam kesekharian, berpikir sering kali cukup sampai pada rasa yakin. Tidak selalu dilanjutkan pada usaha untuk benar-benar memahami apa yang diyakininya.

Berpikir tidak selalu membawa ketenangan. Kadang justru menghadirkan kegelisahan yang sebelumnya tidak terasa. Tetapi mungkin dari situlah pemahaman tumbuh. Ketika seseorang mulai menyadari bahwa apa yang ia lihat belum tentu utuh, bahwa setiap peristiwa tidak berdiri sendiri. Ada sebab yang bekerja diam-diam, ada keterkaitan yang tidak selalu langsung terlihat.

Akan memberi kemampuan untuk menalar, tetapi tidak selalu memberi arah. Di titik ini hati nurani mengambil persetujuan. Bukan untuk menggantikan, tapi untuk mengingatkan. Baik berjalan dalam waktu yang sama, waktu yang terus bergerak tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Tentang hati nurani dan waktu, mungkin perlu dibicarakan lebih jauh di kesempatan lain. Di sini, cukup disadari bahwa keduanya tidak pernah benar-benar terpisah dari cara kita berpikir.

Al-Qur'an menyebut aktivitas berpikir sebagai sesuatu yang dilakukan, bukan sekadar dilakukan. Kata-kata yang digunakan berbentuk kerja, seakan-akan menegaskan bahwa akal tidak cukup disimpan. Ia perlu dijalankan. Dan ketika banyak di antaranya berbentuk jamak, ada pesan yang terasa pelan namun di dalam. Bahwa berpikir tidak berhenti pada diri sendiri.

Barangkali di tenggelam yang sering luput. Berpikir bukan tentang menjadi paling benar, tetapi tentang kesediaan untuk terus memperbaiki cara memahami. Suatu masyarakat tidak serta-merta kuat karena banyaknya suara, tetapi karena ada yang mau menimbang sebelum berbicara, dan ada yang cukup lapang untuk mendengar.

Pada akhirnya, berpikir bukanlah sesuatu yang jauh. Ia justru dekat, hanya saja sering tidak diajak hadir. Ia ada dalam keputusan kecil, dalam cara melihat sesuatu, bahkan dalam diam yang sering dianggap biasa. Dan mungkin, manusia tidak benar-benar kehilangan arah. Ia hanya belum cukup lama duduk bersama akalnya sendiri.

Dari sanalah semuanya bisa dimulai. Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu merasa harus sampai. Barangkali cukup dengan memberi sedikit ruang, agar akal tidak hanya digunakan, tetapi juga didengarkan.

Komentar