![]() |
| Ilustrasi: AI |
Pemuda yang tumbuh dari Perbatasan Lamongan Selatan
Ada hal yang kadang terasa lucu dalam hidup saya. Di usia 23 tahun, sebagian orang mengira saya punya pasangan, atau setidaknya sedang dekat dengan seseorang. Mungkin karena mereka melihat hidup saya dari permukaan saja. Ada yang menilai dari cara berpakaian, cara berbicara, relasi sosial, atau menganggap kondisi finansial saya sepertinya cukup “aman” untuk memulai hubungan.
Padahal kenyataannya sederhana. Sampai hari ini, saya belum pernah pacaran.
Saya menulis ini bukan untuk terlihat suci, alim, atau berbeda dari orang lain. Saya juga bukan sedang mencari pengakuan moral. Saya hanya sedang mencoba jujur terhadap diri sendiri tentang pilihan hidup yang mungkin bagi sebagian orang terasa aneh di zaman sekarang.
Bagi banyak orang, hubungan sering kali dimulai dari rasa tertarik, lalu berjalan mengikuti suasana. Tetapi bagi saya, urusan hati tidak sesederhana itu. Ada pertimbangan tentang kesiapan, tanggung jawab, arah hidup, bahkan tentang bagaimana seseorang memandang makna kedekatan itu sendiri.
Mungkin secara logika saya punya peluang untuk masuk ke dalam riuh dunia percintaan seperti anak muda pada umumnya. Tapi entah kenapa, sejak dulu saya tidak pernah terlalu tertarik mengejar itu. Ada semacam sikap cuek yang bahkan kadang membuat saya sendiri heran. Pesan sering dibalas seperlunya, obrolan tidak pandai dirangkai manis-manis, dan saya bukan tipe orang yang pandai membuat seseorang merasa “diistimewakan” lewat kata-kata romantis.
Anehnya, dalam keadaan seperti itu, tetap saja ada orang yang datang membawa rasa.
Dan hidup memang sering begitu. Kadang kita justru mendapatkan perhatian dari hal yang tidak kita kejar. Sementara pada saat yang sama, kita diam-diam masih menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai di dalam dada.
Saya tidak munafik. Saya pernah menyukai seseorang dengan sungguh-sungguh. Bahkan kalau jujur, sampai hari ini rasa itu mungkin masih ada pada nama yang sama. Saya pernah menyampaikannya, meski saya sendiri tidak tahu apakah ia masih mengingatnya atau tidak. Waktu berjalan, hidup berubah, dan manusia dipaksa belajar menerima bahwa tidak semua hal harus berakhir menjadi milik.
Dulu saya pernah berpikir sangat jauh. Kalau bukan dia, mungkin saya tidak akan menikah sama sekali. Sekarang kalau diingat, pikiran itu terdengar terlalu emosional. Tapi mungkin memang begitulah manusia ketika sedang jatuh dalam perasaan yang dalam. Kita sering membuat keputusan besar hanya karena satu nama.
Hari ini saya tidak lagi berpikir seekstrem itu. Saya tidak sedang mengejar siapa pun, tapi juga tidak sedang menutup hati rapat-rapat. Saya hanya memilih untuk tidak terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum tentu ditakdirkan menjadi bagian hidup saya.
Ada banyak hal lain yang jauh lebih mendesak untuk dipikirkan.
Tanggung jawab hidup, pendidikan, keluarga, organisasi, dan masa depan kadang sudah cukup membuat kepala penuh. Saya sedang berada pada fase hidup di mana bertahan saja kadang melelahkan. Maka urusan hati, untuk sementara, saya letakkan di tempat yang tenang.
Banyak orang salah paham ketika melihat kontak ponsel saya penuh nama perempuan. Mereka mengira saya dekat dengan banyak orang atau sedang memainkan perasaan sana-sini. Padahal sebagian besar hanyalah relasi teman, organisasi, kepanitiaan, atau aktivitas sosial yang memang menuntut komunikasi dengan banyak pihak.
Tidak semua kedekatan harus dimaknai sebagai hubungan romantis.
Saya juga sadar, di zaman sekarang, pilihan hidup seperti ini sering dianggap terlalu kaku. Ada yang memanggil saya ustaz, abah, sekda, atau sebutan lain sambil bercanda. Saya tidak marah. Saya paham itu hanya cara orang melihat seseorang yang dianggap “terlalu serius” menjalani hidup.
Padahal sebenarnya saya hanya sedang berusaha menjaga diri agar tidak hidup sembarangan.
Sebab semakin bertambah usia, saya semakin percaya bahwa hidup bukan cuma soal mencari siapa yang mencintai kita. Ada hal yang lebih penting, yaitu menjadi manusia yang punya arah, punya tanggung jawab, dan tidak merusak hidup orang lain hanya karena sedang kesepian.
Saya tidak ingin menjadikan hubungan sebagai pelarian dari kekosongan. Saya juga tidak ingin hadir dalam hidup seseorang hanya karena takut sendiri. Kalau suatu hari nanti memang ada seseorang yang datang dan dipertemukan dengan cara yang baik, saya akan menerimanya dengan sungguh-sungguh. Tapi kalau belum, hidup tetap harus berjalan.
Barangkali memang pilihan ini terlihat sunyi. Ketika banyak orang sibuk memamerkan hubungan, membagikan foto kebersamaan, atau berlomba terlihat romantis di media sosial, saya justru lebih sering diam dengan hidup saya sendiri.
Namun justru dalam kesunyian itu saya belajar banyak hal. Belajar bahwa mencintai tidak selalu harus memiliki. Belajar bahwa tidak semua rasa harus dipaksakan menjadi hubungan. Dan belajar bahwa ketenangan sering kali lahir ketika kita berhenti memaksa hidup berjalan sesuai keinginan kita.
Saya hanya ingin menjalani hidup dengan sebaik mungkin. Membantu orang semampunya, menyelesaikan tanggung jawab satu per satu, dan menjaga diri agar tetap waras di tengah dunia yang semakin bising.
Soal hati nanti bagaimana, biarkan waktu dan Tuhan yang menentukan arahnya.
#As'ad Fauzuddin Khunaifi
.png)
Komentar
Posting Komentar