![]() |
| Drs. H. Sujudna di stan soto peserta Milad ke-112 Muhammadiyah di PDM Lamongan. Potret sederhana dari sosok yang selalu hadir dalam kerja-kerja persyarikatan. |
As'ad Fauzuddin Khunaifi
Kabar wafatnya Drs. H. Sujudna membuat saya kembali mengingat beberapa percakapan yang pernah terjadi di antara kami. Bukan percakapan panjang atau petuah yang rumit. Justru kalimat-kalimat sederhana yang dulu terdengar biasa, tetapi semakin terasa maknanya setelah beliau tidak lagi ada.
Saya mengenal Pak Sujudna dalam beberapa ruang. Di IPM, ketika saya dipercaya menjadi Ketua PC IPM Mantup periode 2020-2022. Di Muhammadiyah, ketika saya menjadi Ketua PRM Rumpuk mulai 2020. Di Pramuka, ketika saya dan beberapa teman berusaha merintis Dewan Kerja Ranting (DKR) Mantup pada 2022.
Di semua ruang itu, saya menemukan sosok yang kurang lebih sama: tenang, sederhana, tetapi punya keyakinan yang kuat terhadap apa yang sedang dikerjakan.
Ada satu pesan yang paling saya ingat ketika masih aktif di IPM.
“Allah Maha Kaya.”
Pak Sujud pernah mengatakan kepada saya, “Kita punya Allah. Allah Maha Kaya. Minta sama Allah.”
Pesan itu muncul ketika kami membicarakan kegiatan IPM dan biaya kader yang hendak mengikuti kegiatan di luar daerah. Bagi beliau, jangan sampai persoalan biaya menjadi alasan kader tidak berangkat. Kalau kader sudah punya kemauan untuk belajar, pimpinan harus berusaha mencari jalan.
Pesan itu pernah saya tulis dalam catatan perjalanan delapan tahun saya bersama IPM. Saat itu saya belum tentu memahami seluruh kedalaman kalimat tersebut. Namun semakin lama berorganisasi, saya semakin mengerti bahwa yang beliau ajarkan bukan sekadar cara mencari biaya kegiatan.
Beliau sedang mengajarkan keyakinan.
Kader boleh tidak punya banyak uang. Organisasi boleh memiliki keterbatasan. Ranting boleh kecil. Tetapi jangan sampai keterbatasan itu membuat kita berhenti sebelum mencoba.
Bagi saya, itulah salah satu cara Pak Sujud memandang kader. Mereka tidak harus menunggu serba cukup untuk bergerak. Mereka perlu diberi kesempatan untuk hadir, melihat, mengalami, lalu belajar.
Ranting Kecil yang Tidak Pernah Dianggap Kecil
Saya kembali merasakan cara pandang itu ketika dipercaya menjadi Ketua PRM Rumpuk pada 2020.
Rumpuk bukan ranting dengan sumber daya yang besar. Kami sangat minoritas. Secara organisasi, tentu banyak keterbatasan yang kami miliki.
Tetapi Pak Sujud yang saat itu masih menjabat Ketua PCM Mantup tidak kemudian melihat kami sebagai ranting yang boleh berjalan sendiri tanpa perhatian.
Sebisanya, beliau mengusahakan yang terbaik.
Tempat wudu dan toilet dibangun agar jamaah memiliki fasilitas yang lebih layak. Ketika Iduladha tiba, ada pembagian daging kurban. Ketika Ramadan datang, zakat fitrah juga diperhatikan.
Mungkin bagi sebagian orang, hal-hal tersebut terlihat sederhana.
Bagi ranting kecil, perhatian semacam itu berarti banyak.
Saya belajar bahwa memimpin tidak selalu ditunjukkan dengan pidato besar atau keputusan yang terdengar penting. Kadang kepemimpinan justru tampak ketika seorang pimpinan bersedia melihat kebutuhan sebuah ranting kecil dan tidak membiarkannya merasa sendirian.
Pak Sujud mengajarkan itu melalui tindakan.
“Kalau Benar Harus Berani”
Pada 2022, saya kembali berinteraksi dengan beliau dalam ruang yang berbeda. Saya dan beberapa teman Pramuka saat itu memiliki gagasan untuk mendirikan Dewan Kerja Ranting Gerakan Pramuka Mantup.
Pak Sujud pada masa itu juga menjadi Wakil Ketua Kwartir Ranting Mantup.
Di tengah gagasan yang masih kami bicarakan dan berbagai keraguan yang tentu ada, beliau menyampaikan pesan yang sampai sekarang masih saya ingat.
“Jangan takut. Kalau benar harus berani.”
Kalimat itu pendek.
Tetapi saya kemudian melihat bahwa pesan tersebut sebenarnya tidak jauh dari pesan beliau ketika saya berada di IPM.
“Allah Maha Kaya.”
“Kita punya Allah.”
“Kalau benar harus berani.”
Ada keyakinan di sana. Ada keberanian. Ada dorongan untuk tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak berbuat.
Dan yang lebih menarik, pesan-pesan tersebut bukan sesuatu yang hanya beliau sampaikan kepada kader muda. Kehidupannya sendiri menjadi contoh dari apa yang beliau katakan.
Bukan Hanya Waktu, tetapi Juga Harta
Pak Sujud mengabdikan hidupnya untuk persyarikatan. Tetapi pengabdian itu ternyata tidak berhenti pada waktu, tenaga, pikiran, dan jabatan.
Hartanya juga.
Gedung Dakwah PCM Mantup yang berada di sebelah rumah beliau menjadi salah satu jejak nyata. Gedung itu berdiri dari wakaf beliau untuk Muhammadiyah.
Ada pula TK/PAUD 'Aisyiyah Mantup yang bagi saya menunjukkan sisi lain dari pengabdian beliau dan keluarga.
Sekolah itu berkembang menjadi salah satu TK terbesar di Mantup dengan kualitas yang diakui baik. Yang lebih menarik, pendidikan di sana tidak dipungut biaya dari anak-anak. Kebutuhan guru, seragam, rekreasi, dan berbagai keperluan lainnya ditanggung oleh beliau bersama keluarga.
Di sini saya kembali teringat pesan “Allah Maha Kaya”.
Beliau mengatakannya kepada kader ketika kami sedang memikirkan bagaimana agar anak-anak IPM bisa berangkat kegiatan tanpa terbebani biaya.
Ternyata beliau juga menjalankan keyakinan itu dalam bentuk yang lebih nyata.
Ketika memiliki kemampuan, ia tidak hanya memikirkan kebutuhan dirinya sendiri. Sebagian hartanya dibuka untuk pendidikan, dakwah, dan keberlangsungan persyarikatan.
Maka ketika orang mengatakan bahwa hidup Pak Sujud khidmat untuk Muhammadiyah, saya rasa kata “khidmat” itu tidak cukup jika hanya diukur dari berapa lama beliau menduduki jabatan.
Beliau pernah menjadi Ketua PCM Mantup hingga Musycab 2023. Beliau juga menjadi Direktur kedua Pondok Pesantren Gua Landak Muhammadiyah Mantup, setelah H. Ja'far Shodiq, S.Ag. yang kemudian terpilih menjadi Ketua PCM Mantup. Di bidang pendidikan, beliau juga dipercaya menjadi Ketua Komite SMK Muhammadiyah 10 Mantup.
Di luar itu, jejak pengabdiannya juga terasa melalui Lazismu dan berbagai kegiatan sosial untuk masyarakat.
Tetapi mungkin yang lebih penting adalah bagaimana jabatan-jabatan tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Sebab jabatan bisa berganti.
Gedung tetap berdiri. Sekolah tetap berjalan. Guru tetap mengajar. Anak-anak tetap belajar. Kader tetap tumbuh.
Warisan Seorang Kader
Setelah beliau wafat, saya semakin menyadari bahwa seseorang kadang tidak benar-benar pergi dari kehidupan orang-orang yang pernah ditemuinya.
Ada yang tinggal dalam bentuk bangunan.
Ada yang tinggal dalam bentuk lembaga.
Ada yang tinggal dalam bentuk anak-anak yang pernah mendapatkan pendidikan.
Ada yang tinggal dalam bentuk ranting yang pernah dibantu.
Ada pula yang tinggal dalam bentuk kalimat sederhana yang terus diingat bertahun-tahun kemudian.
Pak Sujud meninggalkan semuanya.
Tetapi bagi saya, ada satu warisan yang lebih personal.
Keberanian.
Saya pernah menjadi anak muda yang belajar menjalankan organisasi dengan segala keterbatasannya. Saya pernah berada dalam posisi harus mencari jalan agar kader bisa berangkat kegiatan. Saya pernah memimpin ranting yang kecil. Saya pernah bersama teman-teman mencoba membangun sesuatu yang belum ada.
Di berbagai titik itu, ada sosok Pak Sujud yang mengingatkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti.
Allah Maha Kaya.
Kita punya Allah.
Kalau benar, jangan takut untuk berani.
Kini orang yang menyampaikan kalimat-kalimat itu telah pulang.
Mungkin setelah ini kami yang pernah mendengarnya harus belajar membuktikan bahwa pesan itu tidak berhenti sebagai kenangan.
Sebab pada akhirnya, pengabdian seorang kader bukan hanya tentang seberapa lama ia memegang amanah. Bukan pula tentang seberapa banyak jabatan yang pernah diduduki.
Pengabdian mungkin justru tentang apa yang tetap hidup setelah dirinya tidak lagi ada.
Di Mantup, sebagian jejak itu masih terlihat.
Di gedung dakwah yang ia wakafkan. Di sekolah tempat anak-anak belajar tanpa harus membayar. Di guru-guru yang terus mengajar. Di ranting kecil yang pernah ia perhatikan. Di lembaga-lembaga yang pernah ia rawat. Dan di kader-kader muda yang pernah ia beri keberanian untuk melangkah.
Saya termasuk salah satunya.
Selamat jalan, Pak Sujud.
Terima kasih pernah mengajarkan bahwa dalam berkhidmat, kita tidak perlu menunggu semuanya sempurna.
Kita punya Allah.
Dan kalau yang kita perjuangkan benar, jangan takut untuk berani.
