![]() |
Foto IMM Unesa pada momen pelantikan (IMM Unesa) |
Ahad, 26 April 2026 di Siola Convention Hall menjadi sebuah momen baru dalam perjalanan saya. Hari itu saya dilantik sebagai bagian dari PC IMM Kota Surabaya Periode 2026-2027, di Bidang Hukum dan HAM.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat berbeda dari apa yang pernah saya ucapkan beberapa bulan lalu sebelum Musycab. Saya berkali-kali, bahkan dengan tegas, menyampaikan bahwa saya tidak lanjut ke cabang. Setelah Musycab pun masih sama. Meskipun akhirnya saya bersedia dicalonkan sebagai calon formatur, itu pun melalui proses pertimbangan yang cukup lama, wkwk.
Jujur, saat itu saya ingin berhenti. Bukan berhenti total dari organisasi, tapi ingin mengurangi. Sudah terlalu banyak organisasi yang saya jalani. Saya sering menolak, tapi kadang kalau sudah kena rayuan, apalagi yang berkaitan dengan mengabdi dan kepentingan bersama, hati ini mudah goyah.
Yang akhirnya benar-benar menggoyahkan saya, dari yang awalnya tidak bersedia mencalonkan formatur sampai akhirnya ikut, ya Tum Alwi Shihab. Ditambah ada juga yang mengingatkan bahwa perjuangan baik, apalagi di Muhammadiyah, sebaiknya tetap dilanjutkan.
Teman-teman, terutama tim “konsolidosa”, langsung pencep karena sebelumnya sudah saling mengingatkan untuk fokus dulu. Saya pun waktu itu sepakat, tapi ternyata tetap bersedia mencalonkan, dan sekarang malah dilantik. Di sisi lain, teman-teman komisariat maupun Unesa, justru berharap saya lanjut, apalagi untuk representasi dari Unesa.
Ya memang begitu. Kalau sudah menyangkut hal seperti ini, hati kecil saya sering kali luluh.
Banyak orang mungkin melihatnya seolah saya gila jabatan atau mencari-cari posisi. Tapi kalau dipahami, biasanya justru sebaliknya. Banyak posisi yang saya ambil itu karena tidak ada orang. Sering kali lebih karena situasi yang tidak banyak pilihan. Bahkan kalau ada orang lain, saya lebih memilih mendorong orang itu daripada saya yang maju.
Hari pelantikan pun terasa berjalan cukup padat. Saya baru tiba setelah sebelumnya masih ada agenda di Lamongan, kemudian langsung menuju Surabaya dan menyesuaikan rangkaian acara yang sudah berjalan. (Baca: Penempuhan Atribut Saka Tarunabumi dan Wanabakti)
Dari masuk area parkiran, saya menghubungi Titto dan diingatkan untuk segera menuju posisi lokasi. Di lobby, saya bertemu Tum Ferdi selaku Ketua Umum Koorkom beserta beberapa teman, terutama dari IPM. Sempat juga ada momen candaan dari Marsha yang mengagetkan kami.
Di sekitar area acara, saya juga bertemu dan bersalaman dengan Tum Alwi yang tampak cukup sibuk menyambut atau menunggu beberapa tamu penting. Sebelum masuk ke ruang utama, melewati pintu masuk saya bertemu Cak Fakhir yang sempat menanyakan persiapan dan hal-hal yang masih perlu disiapkan.
![]() |
| Foto bersama IMM Solitical Unesa (IMM Solitical) |
Selama ini mungkin melihat saya lebih identik dengan Bider. Teman-teman komisariat bahkan sampai bilang, “Bukan Bider?” karena sudah terlanjur “Bider we trust”, wkwk. Padahal saya sendiri kalau ditawari dulu sering bilang, “asal jangan Bider”.
Akhirnya saya jawab juga, jangan salah, saya punya background Hukum dan HAM, bahkan jadi Wakil Ketua di bidang itu di PCPM Mantup. Langsung dijawab, “Siap, siap.”
Saat prosesi pelantikan pun saya masih menyesuaikan posisi di tengah rangkaian acara yang berlangsung. Eladahlah, ancen sakjane bukan dalam kondisi yang sepenuhnya siap.
Setelah acara, baru foto-foto dengan teman-teman, baik dari komisariat, teman koorkom dulu, teman Unesa, dan teman-teman di bidang Hukum dan HAM.
![]() |
| Bidang Hukum dan HAM. Dari kiri saya, Amru (Kabid), dan Nasrawi (Sekbid |
Dari semua ini, saya sadar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan apa yang pernah saya rencanakan atau ucapkan. Kadang ada situasi yang membuat kita harus melihat ulang keputusan sendiri.
Mungkin benar, dari luar terlihat tidak konsisten. Tapi di dalam, ada proses yang tidak selalu terlihat. Ada pertimbangan, ada dorongan, dan ada rasa tidak enak ketika harus menolak sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari perjuangan bersama.
Saya juga mulai memahami bahwa menjadi “tidak enakan” itu ada batasnya. Karena setiap keputusan yang saya ambil, apalagi menerima amanah, pasti membawa tanggung jawab.
Sekarang, setelah semua ini terjadi, yang bisa saya lakukan adalah menjalani peran ini dengan sebaik mungkin.
Bukan soal bagaimana saya sampai di titik ini, tapi bagaimana saya bertanggung jawab setelahnya. Saya tetap harus belajar mengatur diri, mengatur prioritas, dan lebih jujur dalam mengambil keputusan ke depan.
Di bidang Hukum dan HAM ini mungkin bukan yang selama ini orang bayangkan tentang saya. Tapi justru di situ letak proses barunya.
Ya, mungkin awalnya terasa tidak direncanakan. Tapi sekarang sudah dijalani. Tinggal bagaimana saya menjalaninya dengan sungguh-sungguh agar benar-benar memberi arti.
#As'ad Fauzuddin Khunaifi



Komentar
Posting Komentar