Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa Pustaka
• Buku Pedoman • Format Surat • Logo IPM • Materi
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Ringan Kaki dan Hal yang Mungkin Kita Salah Pahami dalam Berorganisasi

|
April 30, 2026 Admin AFK

Ilustrasi: AI

As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pemuda yang tumbuh dari perbatasan Lamongan Selatan

Tidak semua yang dekat secara jarak benar-benar dekat dalam kehadiran. Ada yang tinggal di sekitar, tetapi jarang terlihat. Ada pula yang jauh, namun justru lebih sering mengusahakan dirinya untuk datang. Di situ kadang kita mulai melihat bahwa yang selama ini dianggap penting, tidak selalu benar-benar menentukan.

Dalam dinamika organisasi, jarak sering kali dijadikan alasan yang terasa cukup. Seolah kedekatan geografis bisa mewakili keterlibatan. Padahal yang sering luput justru hal yang lebih mendasar. Bahwa pengabdian tidak selalu bertumpu pada di mana seseorang berada, tetapi pada seberapa ringan ia melangkah. Dalam ungkapan Jawa yang sederhana, enteng sikile.

Istilah ini mungkin terdengar biasa. Bahkan bisa dianggap hal kecil. Namun ia tidak berhenti pada soal hadir atau tidak hadir. Ia lebih dekat pada kesediaan untuk mengusahakan. Selama masih ada kemampuan, ia tidak sibuk mencari alasan, tetapi pelan-pelan mencari jalan agar tetap bisa datang.

Menariknya, di titik ini jarak sering kali kehilangan maknanya. Kita cukup sering menjumpai mereka yang berada dalam satu wilayah, tetapi kehadirannya tidak selalu terasa. Sementara yang berada di luar domisili justru berusaha melipat jarak. Kadang harus membagi waktu, kadang menyesuaikan dengan agenda lain, tetapi tetap diusahakan agar tidak benar-benar meninggalkan. Mungkin di sini waktu tidak lagi soal panjang atau pendek, tetapi soal bagaimana ia diprioritaskan.

Ringan kaki seperti ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih dalam, yang sering disebut sebagai sense of belonging. Rasa memiliki yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam cara seseorang bersikap. Ketika seseorang merasa bagian dari sesuatu, ia tidak menunggu diminta. Ia sudah lebih dulu merasa perlu hadir.

Namun di sinilah ujian itu muncul, sering kali tanpa banyak disadari. Ketika ada yang terus mengusahakan hadir, perlahan muncul kebiasaan lain di sekitarnya. Ada yang mulai merasa cukup dengan tidak hadir, karena yakin sudah ada yang akan menggantikan. Seolah tanggung jawab bisa berpindah begitu saja.

Dalam suasana seperti ini, tidak jarang langkah yang ringan justru dipahami secara berbeda. Ada yang melihatnya sebagai upaya mencari panggung, seakan setiap keaktifan selalu punya maksud untuk dilihat. Padahal tidak semua yang bergerak sedang mengejar pengakuan. Ada yang hanya menjalankan apa yang ia anggap sebagai bagian dari kewajiban.

Barangkali di titik ini kita perlu melihat ulang cara kita menilai. Jika menjalankan amanah dianggap sebagai pencitraan, lalu di mana letak ketulusan itu sendiri. Apakah seseorang harus menahan diri agar tidak terlihat terlalu aktif. Atau tetap berjalan, meski tidak selalu dimengerti.

Mungkin jawabannya tidak perlu dibuat rumit. Ada hal-hal yang tetap perlu dilakukan, bukan karena dilihat, tetapi karena ditinggalkan terasa tidak baik. Dan ketika seseorang memilih untuk tetap melakukannya, itu bukan tentang siapa yang menilai, tetapi tentang bagaimana ia menjaga dirinya sendiri.

Pada akhirnya, enteng sikile bukan hanya soal langkah yang ringan. Ia lebih dekat pada cara seseorang memaknai tanggung jawabnya. Ketika moralitas tidak berhenti sebagai wacana, tetapi hadir dalam langkah-langkah yang terus diusahakan.

Dan mungkin dari situ, seseorang tidak sedang membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Ia hanya memastikan bahwa ketika ia mampu melangkah, ia tidak memilih untuk diam.

Ruang Dialog

Komentar