AFK Logo

Ketik kata kunci lalu tekan Enter

Seragam Boleh Disimpan, Jiwa Pramuka Tidak

Admin 8/14/2026 08:00:00 AM 1 Komentar
Penyematan tanda Pramuka Garuda oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi selaku Kamabicab kepada penulis dalam pelantikan Pramuka Penegak Garuda Kwarcab Lamongan, 2022.

Ada masa ketika tanggal 14 Agustus selalu membawa saya pada kesibukan. Seragam disiapkan, kegiatan dirancang, dan lapangan menjadi tempat yang hampir selalu punya cerita. Sekarang suasananya berbeda. Saya sudah tidak aktif menjabat apa pun di Pramuka, baik di tingkat gugus depan maupun kwartir. Tetapi setiap kali Hari Pramuka datang, rasanya tetap ada bagian dari diri saya yang kembali ke sana.

Barangkali memang ada hal-hal yang tidak selesai hanya karena seseorang sudah tidak lagi berada dalam struktur.

Kalau harus memilih dua pengalaman yang paling berkesan dari perjalanan saya di Pramuka, saya akan menunjuk tahun 2022 dan 2023. Sebenarnya terlalu banyak cerita yang bisa dipilih. Ada perkemahan, kegiatan lapangan, pertemuan, perjalanan, juga orang-orang yang pernah berjalan bersama. Namun, dua momentum itu terasa seperti puncak dari dua jenjang terakhir yang saya lalui.

Tahun 2022 saya dilantik menjadi Pramuka Penegak Garuda Kwartir Cabang Lamongan. Yang membuatnya semakin berkesan, proses tanya jawab dalam pelantikan itu dilakukan langsung bersama Bupati Lamongan saat itu, Yuhronur Efendi.

Bagi saya, pengalaman tersebut bukan hanya soal sebuah pelantikan. Ada rasa bangga karena perjalanan sebagai Pramuka Penegak akhirnya sampai pada satu titik yang sebelumnya mungkin hanya dibayangkan. Ada proses panjang yang mendahuluinya, ada berbagai tahapan yang harus dilewati, lalu pada akhirnya nama dan usaha itu sampai pada sebuah pelantikan.

Setahun kemudian, 2023, perjalanan itu berlanjut ke jenjang yang berbeda. Saya dilantik menjadi Pramuka Pandega di Gugus Depan Surabaya 24.413 Universitas Negeri Surabaya. Pelantikan dilakukan oleh Pembina Gugus Depan yang sekaligus Ketua Harian Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Prof. Dr. Suyatno, M.Pd., yang lebih dikenal dengan panggilan Kak Yatno.

Kalau 2022 menjadi salah satu puncak saya sebagai Penegak, maka 2023 menjadi puncak berikutnya sebagai Pandega.

Setelah itu, saya sudah tidak aktif lagi.

Ada banyak kemungkinan mengapa perjalanan itu kemudian berhenti. Tetapi saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang harus disesali. Dalam organisasi, ada waktunya seseorang aktif, ada waktunya memberi ruang kepada yang lain. Ada masa ketika kita berada di depan, ada masa ketika cukup melihat generasi berikutnya melanjutkan perjalanan.

Yang berubah adalah aktivitasnya.

Bukan semua yang pernah dibentuk di dalamnya.

Pramuka mengajarkan banyak hal yang mungkin baru terasa setelah kita tidak lagi aktif. Dulu mungkin kita menganggap latihan, perkemahan, upacara, penjelajahan, atau berbagai kegiatan sebagai rutinitas. Setelah semuanya tidak lagi menjadi bagian dari keseharian, barulah terasa bahwa ada banyak kebiasaan yang ternyata ikut terbawa.

Cara bekerja bersama, menyelesaikan persoalan, bertanggung jawab terhadap tugas, menghargai teman satu tim, dan tidak mudah menyerah ketika keadaan tidak sesuai rencana. Hal-hal seperti itu tidak berhenti bersama seragam.

Saya juga mulai memahami bahwa jabatan dan identitas organisasi adalah dua hal yang berbeda. Jabatan memiliki batas waktu. Ia diberikan kepada seseorang untuk dijalankan dalam periode tertentu, lalu harus diserahkan kepada orang lain. Sementara pengalaman dan nilai yang diperoleh selama menjalankannya bisa tinggal jauh lebih lama.

Karena itu, sekarang ketika melihat kegiatan Pramuka, saya tidak lagi merasa harus berada di dalam kepanitiaan atau struktur untuk merasa menjadi bagian darinya. Ada rasa senang ketika melihat anak-anak berlatih, pembina mendampingi, atau kawan-kawan yang masih aktif menjalankan kegiatan.

Saya pernah berada di posisi mereka.

Pernah berdiri di lapangan dengan seragam yang sama. Pernah mengikuti kegiatan sampai lelah. Pernah menunggu sesuatu yang belum selesai. Pernah bekerja bersama teman-teman untuk menyelesaikan sebuah kegiatan. Dan pernah pula merasakan kebanggaan ketika akhirnya sampai pada dua pelantikan yang sampai sekarang masih saya ingat.

Mungkin itu yang membuat saya sulit mengatakan bahwa saya sudah meninggalkan Pramuka sepenuhnya.

Saya memang sudah tidak aktif. Tetapi saya tidak merasa harus menghapus bagian itu dari perjalanan hidup saya. Sama seperti seseorang yang pernah menempuh sekolah lalu tidak lagi berada di sekolah tersebut. Ia tidak lagi menjadi siswa, tetapi pengalaman selama menjadi siswa tetap menjadi bagian dari dirinya.

Begitu pula dengan Pramuka.

Saya tidak lagi memegang jabatan. Tidak lagi memiliki kewajiban struktural. Tidak lagi harus hadir dalam setiap agenda. Tetapi jiwa Pramuka itu rasanya masih ada.

Mungkin karena menjadi Pramuka bagi saya akhirnya bukan tentang berapa lama kita berada dalam struktur, berapa banyak jabatan yang pernah dipegang, atau berapa banyak kegiatan yang pernah diikuti. Ada sesuatu yang lebih sederhana, yakni apa yang kita bawa setelah semuanya selesai.

Tahun 2022 saya menutup satu fase dengan pelantikan Penegak Garuda di Kwarcab Lamongan. Tahun 2023 saya melanjutkannya dengan dilantik sebagai Pandega di Gudep Surabaya 24.413 UNESA. Setelah itu perjalanan kepramukaan saya tidak lagi seperti sebelumnya.

Namun, dua momentum itu tetap menjadi bagian dari diri saya.

Hari ini, setiap 14 Agustus datang, saya tidak sedang menghitung berapa lama saya sudah tidak aktif. Saya justru mengingat bahwa pernah ada masa yang sangat berarti dalam hidup saya.

Seragam itu mungkin sudah lebih sering tersimpan daripada dikenakan. Jabatan-jabatan itu sudah lama selesai. Lapangan yang dulu akrab mungkin sekarang diisi oleh wajah-wajah yang berbeda.

Tetapi saya masih bisa mengatakan satu hal dengan tenang.

Saya sudah tidak menjabat di Pramuka.

Saya sudah tidak aktif seperti dulu.

Tetapi saya masih Pramuka. 

Bagikan:

Diskusi & Tanggapan (1)

Anonim 25 Agustus 2026 pukul 23.37
di manapun dan dalam kondisi apapun, jiwa itu tetap melekat dalam tubuh kita.