![]() |
| Foto di Makam Joko Tingkir |
As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa
Sebenarnya kami hanya ingin jalan-jalan.
Ahad, 6 September 2026, saya, Nezar, Kak Mila, dan Mita sudah merencanakan perjalanan sederhana menyusuri beberapa tempat di Lamongan. Ziarah menjadi alasan yang cukup baik untuk membungkus rencana jalan-jalan itu agar terdengar sedikit lebih religius. Tujuan awalnya pun sudah ditentukan: makam Syekh Maulana Ishaq di Kemantren, kemudian Sunan Drajat.
Tetapi perjalanan rupanya tidak pernah benar-benar patuh pada rencana.
Pagi itu kami janjian berangkat pukul tujuh. Saya bahkan sudah tiba di rumah Kak Mila sebelum pukul tujuh. Nezar dan Mita baru datang setelah angka tujuh lewat. Kami akhirnya sarapan terlebih dahulu sebelum benar-benar berangkat. Solar kami isi di SPBU Pelang, lalu kendaraan bergerak meninggalkan rumah dengan agenda yang sebenarnya sederhana: jalan-jalan, ziarah, makan, lalu pulang.
Bahkan dari penampilan, kami sudah seperti rombongan yang benar-benar hendak ziarah. Nezar dengan koko, sarung, dan peci putih. Saya juga memakai koko dan peci putih, meskipun tetap dengan celana. Kalau berdiri berdua, kami malah terlihat seperti dua ustaz yang hendak memimpin pengajian. Kak Mila dan Mita pun mengenakan pakaian yang sama-sama pantas untuk ukuran rombongan ziarah. Kami sampai bercanda menyebut mereka “bu nyai”.
Saya sendiri sempat ingin lebih total. Jubah sudah terpikirkan, sarung pun sudah saya siapkan. Tetapi pada akhirnya tidak jadi dipakai. Cukup koko, peci, dan celana. Mungkin kalau jubah benar-benar saya kenakan, penyamaran sebagai rombongan ziarah akan terlalu berhasil.
Rencana pertama mulai berubah ketika kami sampai di Karanggeneng. Kak Mila mengusulkan agar kami mampir ke makam Joko Tingkir di Pringgoboyo, Maduran. Tidak ada dalam agenda awal, tetapi tidak ada pula alasan bagi kami untuk menolaknya. Kami pun berbelok menuju Desa Pringgoboyo.
Ada satu hal yang hampir selalu sama di setiap makam yang kami datangi hari itu. Nezar yang memimpin doa. Kami mengikutinya dalam diam, kemudian kembali melanjutkan perjalanan dengan urusan masing-masing: mencari tempat makan, membeli jajanan, mengambil foto, atau sekadar menikmati jalan.
Di sana terdapat makam Mbah Anggungboyo yang oleh masyarakat diyakini sebagai makam Joko Tingkir. Nama Joko Tingkir tentu bukan nama kecil dalam sejarah Jawa. Sosok yang kelak dikenal sebagai Sultan Hadiwijaya itu hidup dalam ingatan masyarakat melalui berbagai cerita yang bercampur antara sejarah, tradisi, dan keyakinan lokal. Konon, semasa hidupnya, Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, juga kerap berziarah ke tempat ini.
Saya tidak datang untuk menguji benar atau salahnya setiap cerita yang mengiringi makam tersebut. Saya justru tertarik melihat bagaimana sebuah tempat terus hidup melalui ingatan masyarakat. Sejarah tidak selalu tinggal di buku. Kadang ia menetap di sebuah makam, diceritakan dari mulut ke mulut, lalu diwariskan bersama keyakinan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Saat kami datang, sudah ada satu rombongan yang juga berziarah. Saya sempat berbincang dengan seorang bapak yang sedang naik becak. Dari percakapan singkat itu, saya mengetahui bahwa beliau bukan warga asli desa tersebut. Ia juga sedang berkeliling untuk berziarah. Percakapan itu sederhana, tetapi semakin menguatkan kesan saya bahwa perjalanan menuju makam-makam tua seperti ini bukan hanya milik warga sekitar. Ada orang-orang yang sengaja meluangkan waktu, menempuh jarak, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari pengalaman spiritual sekaligus menyentuh kembali jejak sejarah yang mereka yakini.
Saya selalu menyukai percakapan semacam itu. Pendek, tidak direncanakan, bahkan mungkin setelah kami pergi beliau tidak akan mengingat saya. Namun, dari obrolan beberapa menit itu, saya kembali melihat bahwa perjalanan manusia menuju sebuah makam bisa mempunyai alasan yang berbeda-beda. Ada yang datang karena keyakinan, tradisi, keluarga, rasa ingin tahu, atau sekadar mengikuti rombongan.
Dari Pringgoboyo, perjalanan kembali berubah arah. Kami tiba-tiba menuju Sunan Sendang Duwur di Paciran. Di tengah perjalanan, Kak Mila sempat mengusulkan untuk mampir ke makam Amrozi, tetapi hanya sebatas usulan dan tidak kami laksanakan. Lagi-lagi, tujuan kami hari itu bertambah dan berubah bukan karena rencana awal, melainkan karena percakapan di dalam kendaraan. Memang begitulah perjalanan bersama teman. Peta bisa dibuat sebelumnya, tetapi keputusan terakhir sering kali lahir dari percakapan di dalam kendaraan.
Menuju Sendang Duwur, kami melewati jalan yang bagi saya cukup ekstrem. Beberapa tanjakan terasa cukup menantang, apalagi saya masih tergolong pemula untuk urusan membawa mobil di medan seperti itu. Untungnya, mobil diesel yang kami gunakan cukup bandel. Mesin seperti tahu kapan harus diajak bekerja lebih keras. Saya tinggal menjaga kemudi dan berusaha tidak panik ketika kendaraan mulai menanjak.
Di Sendang Duwur, peziarah cukup banyak. Kami masuk, berdoa, kemudian keluar dan mengambil beberapa foto. Saat berjalan menuju parkiran, kami malah sibuk dengan hal yang jauh lebih duniawi: jajan.
![]() |
| Foto di Makam Sunan Sendang Duwur |
Mungkin memang begitulah perjalanan kami hari itu. Antara doa dan jajanan tidak pernah benar-benar memiliki jarak yang jauh.
Setelah itu barulah kami menuju Kemantren. Sebelum berziarah, kami salat terlebih dahulu di masjid. Kami juga membersihkan diri sebentar. Makam ayah Sunan Giri itu berada di sebelah barat masjid. Karena hari Ahad, peziarah yang datang cukup banyak.
Di sana saya kembali teringat bahwa perjalanan ini sejak awal memang bukan semata-mata perjalanan spiritual. Ada bagian dari diri saya yang ingin melihat sejarah, membaca kebudayaan, menikmati perjalanan, dan tentu saja mencari makanan enak.
Karena itu, setelah dari makam, tujuan yang paling saya tunggu justru bukan makam berikutnya.
Warung Asapan Mbak Yuli.
Sayangnya, ketika sampai di Warung Asapan Mbak Yuli, kondisinya sedang ramai dan nasi sudah habis. Sebenarnya bisa saja kami menunggu sampai nasi kembali siap, tetapi rasanya kurang cocok dengan kami yang memang tidak terlalu suka keramaian. Akhirnya, daripada menunggu terlalu lama, kami memilih melanjutkan perjalanan dan nongkrong di pantai.
Es teler, es buah, dan es campur akhirnya menjadi pengganti makan siang yang tidak jadi kami dapatkan. Tidak persis seperti rencana awal, tetapi setidaknya kami tetap bisa duduk santai, menikmati angin pantai, dan bercengkerama sebelum melanjutkan perjalanan ke Sunan Drajat.
Di situlah saya merasa perjalanan ini memang semakin jauh dari agenda awal. Kami datang dengan membawa nama ziarah, tetapi yang kami cari juga kebersamaan. Duduk bersama, berbincang, tertawa, mengambil foto, mencari makanan, lalu menikmati perjalanan tanpa terlalu sibuk mengejar tujuan.
Setelah dari pantai, kami melanjutkan perjalanan menuju Sunan Drajat.
Peziarah di kompleks makam cukup banyak. Kami masuk ke kawasan Sitihinggil, kemudian berdoa di dalamnya. Saya tidak merasa ada persoalan dengan itu. Saya sendiri tidak merasa sedang keluar dari keyakinan yang saya pegang. Saya seorang Muhammadiyah, dan dalam pemahaman tarjih, ziarah kubur bukan sesuatu yang harus dijauhi.
Dalam pemahaman tarjih Muhammadiyah, ziarah kubur bukan perkara yang harus dijauhi. Ia justru dapat menjadi sarana mengingat kematian dan mengambil pelajaran. Ziarah yang lebih utama tentu kepada keluarga sendiri. Tetapi manusia kadang datang ke tempat lain bukan hanya untuk berdoa. Ada sejarah yang ingin dilihat, budaya yang ingin dipahami, dan perjalanan yang ingin dinikmati.
Saya sendiri mungkin lebih banyak tertarik pada sisi budayanya.
Apalagi di kawasan Sunan Drajat terdapat museum. Bagi saya, melihat peninggalan dan jejak sejarah para wali juga merupakan cara membaca perjalanan Islam di tanah Jawa. Kita tidak hanya melihat makamnya, tetapi juga mencoba memahami bagaimana agama pernah tumbuh bersama kebudayaan masyarakat.
Namun, justru setelah keluar dari kawasan makam, ada satu pemandangan yang membuat pikiran saya berjalan lebih jauh.
Pengemis.
Dari sekitar makam hingga menuju pasar, jumlahnya cukup banyak. Mereka berada di sepanjang jalur yang dilewati para peziarah. Pemandangan itu membuat saya berpikir tentang betapa kuatnya daya tarik ekonomi sebuah kawasan religi.
Saya tidak tahu bagaimana seluruh mekanismenya. Saya juga tidak ingin buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya adalah bentuk eksploitasi agama. Tetapi saya melihat sesuatu yang sulit diabaikan.
Parkir saja belasan ribu rupiah.
Belum makanan.
Belum oleh-oleh.
Belum jajanan.
Belum pedagang yang menggantungkan penghasilan dari ramainya peziarah.
Belum orang-orang yang meminta sedekah.
Di tempat yang dibangun dari sejarah dakwah dan keteladanan seorang wali, ternyata kehidupan ekonomi tumbuh begitu riuh di sekelilingnya.
Saya kemudian teringat istilah sederhana yang sering kita dengar: jualan agama. Entahlah. Saya sendiri tidak cukup tahu untuk memberi vonis sejauh itu. Saya hanya sedang bertanya. Tetapi ketika biaya parkir saja belasan ribu, lalu di sepanjang jalan ada pedagang, jajanan, oleh-oleh, dan orang-orang yang meminta sedekah, saya mulai bertanya-tanya: sampai di mana agama menjadi ibadah, dan sejak kapan ia mulai berkelindan dengan kepentingan ekonomi?
Barangkali memang begitulah kehidupan. Sesuatu yang sakral selalu berada di tengah sesuatu yang sangat profan. Doa berlangsung di dalam makam. Di luar pagar, orang menjual makanan. Peziarah menundukkan kepala. Di jalan berikutnya, orang menawarkan dagangan. Seseorang mengingat kematian. Seseorang lainnya sedang menghitung pemasukan hari itu.
Mungkin agama memang tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari kehidupan ekonomi manusia. Persoalannya bukan apakah keduanya boleh bertemu, tetapi kapan pertemuan itu mulai menggeser makna yang semestinya.
Kami sendiri akhirnya meninggalkan kawasan Sunan Drajat dengan persoalan yang sangat tidak filosofis: makan apa?
Kak Mila ingin ayam geprek. Mita tidak terlalu peduli, yang penting ayam. Saya dan Nezar justru ingin makanan berkuah. Perdebatan berlangsung sebagaimana mestinya perdebatan anak muda ketika lapar. Bahkan sempat muncul gagasan membeli ayam geprek lalu memakannya di warung soto.
Entah bagaimana logikanya.
Tetapi akhirnya kami sepakat makan di Soto Ayam Mardi.
Barangkali bagian paling menyenangkan dari perjalanan bukanlah tempat yang dituju, melainkan perdebatan-perdebatan kecil seperti itu. Tidak penting. Tidak monumental. Tetapi justru hal-hal semacam itulah yang kelak paling mudah diingat.
Dalam perjalanan pulang kami sempat mampir hendak membeli terpal. Lagi-lagi gagal. Barang yang tersedia tidak sesuai dengan keinginan kami. Maka kami menyerah dan melanjutkan perjalanan sampai akhirnya kembali ke rumah Kak Mila.
Hari itu kami memang tidak mendapatkan semua yang direncanakan.
Kami tidak jadi makan di Warung Asapan Mbak Yuli.
Kami sempat beberapa kali mengubah tujuan.
Kami bahkan harus kembali mengisi solar di SPBU Pelang setelah dari Drajat. Beberapa SPBU yang kami lewati tidak menjual solar, ada yang terlewat, ada yang kehabisan, dan ada pula yang mesinnya sedang bermasalah. Akhirnya kami kembali ke tempat semula.
Tetapi mungkin justru di situlah menariknya perjalanan.
Tidak semua perjalanan harus menghasilkan sesuatu yang besar.
Kadang kita hanya perlu berangkat, bertemu teman, berbelok ketika ada usulan baru, berdoa, makan, gagal makan, jajan, berfoto, berdebat soal menu, mencari terpal, lalu pulang.
Namun, dari perjalanan yang awalnya hanya ingin jalan-jalan itu, saya justru membawa pulang beberapa pertanyaan.
Tentang bagaimana manusia mencari Tuhan di tengah keramaian dunia. Tentang bagaimana makam wali menjadi ruang spiritual sekaligus ruang ekonomi. Tentang bagaimana budaya, agama, wisata, dan kebutuhan hidup bertemu dalam satu jalur yang sama.
Dan mungkin saya tidak perlu buru-buru menemukan jawabannya.
Sebab perjalanan yang baik barangkali bukan perjalanan yang membuat kita pulang dengan semua jawaban. Kadang ia hanya membuat kita pulang dengan pertanyaan yang lebih jujur.
Ahad itu, kami memang berangkat untuk jalan-jalan yang menyamar menjadi ziarah. Kami pulang bukan dengan jawaban tentang bagaimana seharusnya melihat tempat-tempat semacam itu, tetapi dengan cerita tentang tanjakan, makam, jajanan, pantai, pengemis, solar, soto, dan empat orang yang sejak pagi memang hanya ingin berjalan-jalan.

