Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Menulis agar Organisasi Tidak Kehilangan Ingatan

Admin Juni 27, 2026 0 Komentar
Foto Pembukaan Pelatihan Digital dan Kepenulisan (PC IPM Lamongan Kota)

Sabtu pagi itu 27/06/2026 saya berbicara di hadapan puluhan kader IPM Lamongan Kota di aula SMK Muhammadiyah 1 Lamongan. Saya mendapat amanah membuka Pelatihan Digital dan Kepenulisan. Di tengah sambutan, saya menyampaikan sebuah kalimat yang sebenarnya bukan hal baru, tetapi justru semakin terasa penting di tengah kehidupan organisasi hari ini.

"Jadilah pelaku sejarah, bukan hanya penonton sejarah."
Kalimat itu bukan sedang mengajak kader IPM menjadi wartawan atau penulis profesional. Saya hanya sedang mengajak mereka menjaga ingatan.

Sebab belakangan ini saya sering melihat organisasi yang sangat sibuk membuat kegiatan, tetapi tidak cukup serius merawat jejaknya. Rapat berlangsung hingga berlarut-larut, panitia bekerja berbulan-bulan, peserta datang dengan antusias, lalu semuanya selesai begitu acara ditutup. Dokumentasi tersimpan di laptop dan drive, laporan pertanggungjawaban dibuat, kemudian masuk ke arsip yang suatu saat mungkin akan dihapus karena limit.

Beberapa tahun kemudian pimpinan berganti. Laptop berganti. Password media sosial hilang. Arsip tidak lagi ditemukan. Yang tersisa hanya cerita dari mulut ke mulut yang perlahan ikut memudar.

Ironisnya, kita sering menganggap pekerjaan selesai ketika kegiatan telah terlaksana dengan baik. Padahal bagi organisasi, kegiatan yang tidak pernah ditulis perlahan akan kehilangan jejaknya sendiri. Seolah-olah ia tidak pernah benar-benar terjadi.

Barangkali karena itu saya selalu tertarik pada penggalan salah satu wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW.
"Alladzi 'allama bil qalam."
Allah mengajarkan manusia dengan perantara pena.

Menariknya, yang diabadikan bukan hanya aktivitas membaca, tetapi juga alat untuk menyampaikan dan merawat pengetahuan. Sejak awal Islam, qalam bukan sekadar alat tulis. Ia adalah simbol bahwa gagasan harus diwariskan, bukan hanya dipikirkan.

Mungkin itulah sebabnya kita mengenal K.H. Ahmad Dahlan hingga hari ini. Bukan semata karena besarnya perjuangan beliau, tetapi karena ada orang-orang yang merasa penting untuk mencatatnya. Kita mengenal sejarah Muhammadiyah, sejarah IPM, bahkan sejarah bangsa ini bukan karena peristiwanya masih berlangsung, melainkan karena ada yang memilih menulis ketika peristiwa itu terjadi.

Saya sering membayangkan, bagaimana jika orang-orang terdahulu tidak pernah merasa perlu menulis.

Barangkali hari ini kita hanya mengenal nama tanpa mengetahui gagasannya. Kita mungkin mendengar bahwa Muhammadiyah pernah melakukan pembaruan, tetapi tidak pernah memahami bagaimana pembaruan itu diperjuangkan. Sejarah akan berubah menjadi cerita yang kabur, bahkan bisa hilang sama sekali.

Kegelisahan inilah yang sebenarnya ingin saya sampaikan kepada kader-kader IPM Lamongan Kota. Digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Website bukan sekadar agar organisasi terlihat modern. Berita bukan hanya untuk memenuhi administrasi atau lomba media.

Lebih dari itu, semuanya adalah cara sederhana untuk merawat ingatan organisasi.

Saya teringat pada banyak kegiatan yang pernah saya ikuti di berbagai organisasi. Ada kegiatan yang sangat besar, bahkan mampu mengumpulkan ratusan peserta. Namun ketika saya mencoba mencarinya beberapa tahun kemudian, tidak ada satu pun tulisan yang dapat ditemukan. Tidak ada berita. Tidak ada dokumentasi yang utuh. Tidak ada catatan yang menjelaskan mengapa kegiatan itu pernah diselenggarakan.

Seolah-olah organisasi itu pernah bekerja sangat keras hanya untuk dilupakan oleh organisasinya sendiri.

Padahal menulis bukan pekerjaan tambahan. Ia adalah bagian dari perjuangan itu sendiri.

Sering kali kita memahami perjuangan hanya sebatas bekerja di lapangan. Menjadi panitia, mengatur acara, mencari dana, atau memastikan kegiatan berjalan lancar. Semua itu memang penting. Namun perjuangan memiliki satu musuh yang jarang disadari, yaitu lupa.

Organisasi yang tidak memiliki tradisi menulis akan kesulitan belajar dari pengalamannya sendiri. Setiap pergantian kepengurusan seperti memulai dari titik nol. Kesalahan yang sama terulang. Gagasan yang sama harus dijelaskan kembali. Program yang baik berhenti hanya karena tidak ada yang mewariskan ceritanya.

Di sinilah saya merasa bahwa menulis sesungguhnya bukan hanya soal kemampuan merangkai kata. Menulis adalah bentuk tanggung jawab kepada generasi setelah kita. Kita mungkin tidak akan dikenang karena jabatan yang pernah diemban. Tetapi sangat mungkin sebuah tulisan sederhana justru membuat orang memahami bahwa pernah ada sekelompok kader yang berpikir, bekerja, dan berjuang pada masanya.

Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi tidak ada lagi yang mengingat siapa pemateri pada hari itu. Bahkan nama ketua panitia pun boleh jadi telah terlupakan. Namun jika masih ada satu tulisan yang bisa dibaca, satu berita yang masih tersimpan, atau satu catatan yang masih hidup di ruang digital, maka kegiatan itu belum benar-benar selesai.

Sebab ternyata sejarah tidak hanya membutuhkan pelaku. Ia juga membutuhkan orang-orang yang bersedia merawatnya.

#As'ad F. Khunaifi

0 COMMENTS

RELATED POST