![]() |
| Penutupan DAD PK IMM Solitical Ahad (28/6/2026) (Dok. PK IMM Solitical) |
SURABAYA – Darul Arqam Dasar (DAD) bukanlah garis akhir perkaderan, melainkan pintu masuk untuk terus bertumbuh sebagai kader Muhammadiyah. Pesan itu disampaikan As'ad Fauzuddin Khunaifi saat mewakili Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Surabaya dalam penutupan Darul Arqam Dasar (DAD) yang diselenggarakan PK IMM Solitical Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahad (28/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Taman, Kabupaten Sidoarjo, tersebut menjadi penutup rangkaian perkaderan dasar bagi kader baru IMM Solitical. Selain dihadiri jajaran pimpinan komisariat dan Koordinator Komisariat (Koorkom) IMM Unesa, acara penutupan juga dihadiri oleh Direktur SMA Muhammadiyah 1 Taman, Edwin Yogi Laayrananta, S.I.Kom., M.I.Kom.
Dalam sambutannya, As'ad mengingatkan bahwa status sebagai alumni Darul Arqam Dasar tidak boleh membuat kader cepat berpuas diri. Menurutnya, DAD merupakan awal perjalanan panjang dalam proses pembentukan kader Muhammadiyah.
Ia mendorong peserta untuk terus melanjutkan proses perkaderan ke jenjang berikutnya, seperti Darul Arqam Madya (DAM), Darul Arqam Paripurna (DAP), Pelatihan Instruktur Dasar (PID), Pelatihan Instruktur Madya (PIM), maupun Pelatihan Instruktur Paripurna (PIP).
"Jangan berhenti di DAD. Jadikan ini sebagai langkah awal untuk terus belajar, bertumbuh, dan menguatkan kapasitas diri sebagai kader Muhammadiyah," pesannya.
Membangun Organisasi yang Berdaya
Dalam sambutannya, As'ad turut mengulas salah satu gagasan yang dibahas dalam Puthcast, program di kanal YouTube Mojokdotco, bersama Zen RS dan Puthut EA. Gagasan tersebut menyoroti pentingnya membangun basis material sebagai fondasi kemandirian organisasi.
Menurutnya, organisasi mahasiswa tidak cukup hanya memiliki idealisme. Organisasi juga membutuhkan kemandirian agar mampu menjalankan program secara berkelanjutan tanpa bergantung pada pihak lain.
"Aspek moral tentu menjadi pegangan utama. Namun, organisasi juga harus mampu memikirkan keberlanjutan. Kita perlu memilih jalan yang baik sekaligus membangun kemandirian agar organisasi memiliki daya tahan dalam jangka panjang," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kemandirian ekonomi bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dalam organisasi mahasiswa. Justru dengan pengelolaan sumber daya yang baik, organisasi dapat lebih leluasa menjalankan misi pengkaderan, pelayanan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, organisasi yang memiliki fondasi ekonomi yang sehat akan lebih sulit diintervensi oleh kepentingan-kepentingan di luar nilai dan tujuan organisasi.
Hindari Budaya Saling Menjatuhkan
Selain membahas pentingnya kemandirian, As'ad juga mengingatkan peserta agar tidak terjebak dalam budaya cancel culture, yakni kecenderungan saling menyerang atau menjatuhkan sesama rekan seperjuangan ketika terjadi perbedaan pandangan.
Ia meyakini budaya tersebut tidak berkembang di lingkungan IMM. Namun, menurutnya, kader tetap perlu memahami fenomena tersebut sebagai bekal ketika berinteraksi di tengah masyarakat maupun organisasi lainnya.
"Saling menghabisi rekan satu barisan hanya akan melemahkan kekuatan organisasi. Perbedaan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan kemampuan untuk bekerja sama membangun tujuan yang sama," katanya.
Bagi As'ad, kader IMM perlu membangun tradisi dialog, kritik yang sehat, dan saling menguatkan. Ketiganya menjadi modal penting dalam menjaga daya tahan organisasi sekaligus memperkuat peran kader di tengah kehidupan bermasyarakat.
Pandangan tersebut mendapat penguatan dari Direktur SMA Muhammadiyah 1 Taman, Edwin Yogi Laayrananta, S.I.Kom., M.I.Kom. Ia mengingatkan bahwa generasi muda Muhammadiyah merupakan estafet kepemimpinan Persyarikatan pada masa mendatang sehingga dituntut memiliki cara berpikir yang terbuka.
Mengutip pesan KH Ahmad Dahlan, Edwin mengajak kader untuk memegang teguh prinsip tanpa terjebak pada sikap fanatik yang menutup ruang dialog dan pembelajaran.
![]() |
| Foto bersama peserta DAD Solitical 2026 |
Rangkaian penutupan DAD diawali dengan sambutan Ketua Panitia Azri, dilanjutkan Ketua Umum PK IMM Solitical Abiyyu Rahul Amin, Ketua Umum Koorkom IMM Unesa M. Rifqi Ferdiansyah, sambutan PC IMM Kota Surabaya yang diwakili As'ad Fauzuddin Khunaifi, serta ditutup pengarahan dari Direktur SMA Muhammadiyah 1 Taman.
Bagi As'ad, perkaderan bukan hanya melahirkan kader yang memahami ideologi organisasi, tetapi juga kader yang mampu menjaga keberlanjutan gerakan, membangun kemandirian, dan merawat persaudaraan. Sebab, organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh semangat, tetapi juga oleh kemampuan mengelola sumber daya dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.

