Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Organisasi Tidak Cukup Hanya Bermodal Semangat

Admin Juni 28, 2026 0 Komentar

 

As'ad Fauzuddin Khunaifi (Dok. PK IMM Solitical)

Ada satu hal yang selalu menarik setiap kali bertemu kader-kader baru dalam forum perkaderan. Semangat mereka begitu besar. Mata mereka menyimpan optimisme. Mereka datang dengan keyakinan bahwa organisasi adalah ruang untuk belajar, mengabdi, dan bertumbuh.

Namun, semakin lama saya berada di organisasi, saya menyadari satu kenyataan yang sering kali luput dibicarakan. Semangat memang penting, tetapi semangat saja tidak cukup membuat sebuah organisasi bertahan.

Dalam penutupan Darul Arqam Dasar PK IMM Solitical Universitas Negeri Surabaya di SMAM1TA (28/06/2026), saya mencoba mengajak para kader melihat organisasi dari sudut yang sedikit berbeda. Bukan hanya berbicara tentang ideologi, loyalitas, ataupun militansi, tetapi tentang sesuatu yang sering dianggap terlalu "duniawi" untuk dibahas: kemandirian.

Padahal organisasi juga hidup di dunia nyata.

Program kerja membutuhkan biaya. Perkaderan membutuhkan fasilitas. Administrasi membutuhkan pengelolaan. Bahkan secangkir kopi yang menemani diskusi hingga larut malam pun tidak turun begitu saja dari langit.

Karena itu, membicarakan basis material organisasi bukan berarti sedang menggadaikan idealisme. Justru sebaliknya, kemandirian ekonomi adalah salah satu cara menjaga idealisme itu sendiri.

Saya teringat diskusi Zen RS dan Puthut EA dalam Puthcast Mojok yang menyinggung pentingnya organisasi membangun fondasi materialnya sendiri. Saya kira gagasan itu layak direnungkan, terutama oleh organisasi mahasiswa.

Organisasi yang bergantung sepenuhnya kepada pihak lain akan lebih mudah diarahkan oleh kepentingan pihak tersebut. Sebaliknya, organisasi yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri memiliki ruang yang lebih luas untuk menjaga independensi.

Di sinilah saya melihat bahwa persoalan organisasi tidak selalu selesai jika hanya dipandang dari sudut moral.

Sering kali kita hanya bertanya, "Apakah ini baik atau buruk?"

Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting.

"Apakah ini boleh dilakukan?"

Dan setelah itu masih ada satu pertanyaan lagi.

"Jika boleh dilakukan, apakah memang harus dilakukan?"

Ketiga pertanyaan itu tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama. Karena kehidupan organisasi jauh lebih kompleks daripada sekadar hitam dan putih.

Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur SMA Muhammadiyah 1 Taman, Bapak Edwin Yogi Laayrananta. Beliau mengingatkan bahwa ada kalanya sesuatu tidak tampak ideal, tetapi secara organisatoris boleh dilakukan, bahkan dalam kondisi tertentu memang perlu dilakukan selama tetap berada dalam koridor nilai yang benar.

Cara berpikir seperti ini membuat organisasi menjadi lebih dewasa. Tidak kaku, tetapi juga tidak kehilangan prinsip.

Selain soal kemandirian, ada satu hal lain yang menurut saya semakin relevan di era media sosial, yaitu budaya cancel culture.

Hari ini kita terlalu mudah menghabisi orang yang berbeda pandangan. Sedikit berbeda langsung diberi label. Sedikit keliru langsung dihakimi. Seolah satu kesalahan mampu menghapus seluruh kebaikan seseorang.

Padahal organisasi dibangun bukan oleh manusia yang sempurna.

Ia dibangun oleh orang-orang yang sedang belajar.

Karena itu saya mengingatkan bahwa jangan sampai kita sibuk menyerang rekan satu barisan hingga lupa bahwa tantangan sesungguhnya justru berada di luar organisasi.

Saya percaya budaya seperti ini tidak tumbuh di IMM. Namun dunia di luar sana penuh dengan fenomena semacam itu. Maka perkaderan bukan hanya mengajarkan cara menjadi kader yang baik, tetapi juga membekali kita agar mampu menghadapi realitas sosial yang jauh lebih kompleks.

Di akhir kegiatan, saya juga kembali teringat pesan KH Ahmad Dahlan yang dikutip Pak Edwin: boleh punya prinsip, tetapi jangan fanatik.

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa semakin penting hari ini.

Prinsip membuat kita memiliki arah.

Fanatisme sering kali membuat kita kehilangan kemampuan untuk mendengar.

Organisasi membutuhkan keduanya secara proporsional. Teguh memegang nilai, tetapi tetap terbuka terhadap dialog. Yakin terhadap keyakinannya sendiri, tetapi tidak merasa paling benar.

Mungkin itulah pelajaran yang saya bawa pulang hari itu.

Bahwa organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang ramai ketika pelantikan atau penuh saat perkaderan. Organisasi yang besar adalah organisasi yang mampu menjaga semangat kadernya, membangun kemandirian, merawat persaudaraan, dan tetap berdiri tegak tanpa kehilangan akal sehat ketika menghadapi perbedaan.

Organisasi tidak akan bertahan hanya karena semangat para anggotanya. Ia bertahan karena memiliki nilai, sistem, kemandirian, dan manusia-manusia yang bersedia terus belajar sepanjang hayat.

#AFK

0 COMMENTS

RELATED POST