![]() |
| Foto bersama dalam rangka Turba PC IMM Surabaya bersama Komisariat dan Koorkom UNESA di Masjid Muhammadiyah Al Fajr, Dukuh Pakis, Sabtu (18/7/2026) selepas Isya. |
As'ad Fauzuddin Khunaifi
Sabtu, 18 Juli 2026, selepas salat Isya, saya bersama Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Surabaya melakukan Turba ke Komisariat dan Koordinator Komisariat (Koorkom) Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Pertemuan berlangsung di Masjid Muhammadiyah Al Fajr, Dukuh Pakis, Surabaya.
Saya hadir sebagai anggota Bidang Hukum dan HAM PC IMM Surabaya. Bagi saya, Turba kali ini bukan sekadar agenda pimpinan cabang untuk datang ke komisariat. Ada kesempatan untuk bertemu langsung dengan kawan-kawan di tingkat komisariat dan mendengar bagaimana dinamika organisasi mereka dari dekat.
Selama ini, komunikasi organisasi bisa saja berlangsung melalui pesan singkat, rapat, atau berbagai saluran komunikasi lainnya. Tetapi bertemu langsung tentu memiliki suasana yang berbeda. Ada cerita yang lebih mudah disampaikan ketika orang duduk bersama dan berbicara tanpa jarak.
Dalam pertemuan itu, kami berdiskusi dan melakukan koordinasi mengenai sejumlah hal yang berkaitan dengan kondisi organisasi, penguatan kaderisasi, serta kebutuhan komisariat. Tidak semuanya harus menjadi pembahasan besar. Justru dari percakapan yang sederhana, kondisi di lapangan bisa lebih mudah dipahami.
Turba kemudian terasa seperti perjalanan untuk melihat organisasi dari sisi yang berbeda.
Di tingkat cabang, kita sering melihat organisasi dari program, agenda, atau target yang harus dijalankan. Sementara di komisariat, dinamika itu dijalani langsung oleh kader. Ada kebutuhan yang mungkin tidak selalu terlihat dalam rapat-rapat cabang. Ada persoalan yang baru terasa ketika kita datang dan mendengarnya langsung.
Dari situ saya kembali memahami pentingnya komunikasi berjenjang dalam organisasi.
Pimpinan cabang tidak cukup hanya membuat program untuk komisariat. Ada kebutuhan untuk mengetahui apakah program tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Sebaliknya, komisariat juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang mereka hadapi kepada pimpinan di atasnya.
Karena itu, Turba bagi saya bukan hanya tentang datang.
Yang lebih penting adalah mendengar.
Sebab organisasi pada akhirnya bukan hanya kumpulan struktur, bidang, dan program kerja. Di dalamnya ada manusia yang sedang belajar, berproses, beradaptasi, dan menghadapi persoalan masing-masing.
Kunjungan seperti ini menjadi penting karena komunikasi organisasi tidak seharusnya berjalan satu arah. Pimpinan cabang perlu menyampaikan arah gerakan, tetapi juga perlu membuka telinga untuk mendengar apa yang terjadi di tingkat komisariat.
Mungkin dari sana koordinasi bisa menjadi lebih nyata.
Bukan hanya karena struktur organisasinya memang mengharuskan demikian, tetapi karena masing-masing bagian memahami posisi dan kebutuhannya.
Saya sendiri merasa, semakin sering turun dan bertemu langsung dengan kader, semakin banyak hal yang bisa dipelajari. Organisasi tidak selalu bisa dipahami hanya dari dokumen, rapat, atau laporan kegiatan.
Kadang kita memang perlu datang.
Duduk bersama.
Mendengar cerita.
Lalu pulang dengan pemahaman yang sedikit lebih utuh tentang bagaimana organisasi sedang berjalan.
Turba ke Komisariat dan Koorkom UNESA malam itu akhirnya menjadi pengingat sederhana bagi saya bahwa menjaga gerakan tidak selalu dimulai dari membuat sesuatu yang besar.
Kadang cukup dengan datang kepada mereka yang sedang menjalankannya.
Sebab sebelum berbicara tentang bagaimana organisasi harus bergerak, kita perlu tahu terlebih dahulu bagaimana mereka yang berada di dalamnya sedang berjalan.
