| Foto: Dokumentasi IPM Camp PR IPM Karangwungu |
Ada organisasi yang kita ikuti karena ajakan teman. Ada yang kita masuki karena kebetulan. Ada juga yang awalnya hanya ikut-ikutan, tetapi ternyata justru menjadi bagian penting dari perjalanan hidup.
Bagi saya, IPM adalah yang terakhir.
IPM adalah organisasi resmi pertama yang saya ikuti. Tepatnya pada 2018. Waktu itu saya baru selesai ujian kelas 9. Saya bersama Luqman datang ke Musycab II IPM Mantup. Yang saya kenal waktu itu hanya Pak Ari, Zuzum, Auliya, dan Aan.
Saya datang tanpa banyak tahu apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba nama saya dan Luqman dicatat sebagai calon formatur.
Ndilalah, tidak ada yang memilih.
Ya bagaimana mau dipilih, wong kami memang tidak ada yang kenal.
Musycab itu kemudian menetapkan A'an Afit sebagai ketua umum, Firda Rahma sebagai sekretaris umum, dan Mbak Anjar sebagai bendahara umum. Saya pulang dari musyawarah itu tanpa jabatan dan mungkin tanpa benar-benar memahami apa yang baru saja saya ikuti.
Tetapi dari situlah semuanya dimulai.
Dari Empat Anak Mantup
Beberapa waktu setelahnya, saya mengikuti seminar di Sugio bersama Febri, Milla, dan Zuzum. Kami berbincang, mengikuti kegiatan, tetapi anehnya belum benar-benar berkenalan.
Kami kemudian dipertemukan lagi dalam Pelatihan Dai Pelajar Muhammadiyah II di Pucuk pada Mei 2018. Kegiatan itu bertepatan dengan ulang tahun saya.
Kali ini kami mulai lebih mengenal satu sama lain.
Setelah itu hampir setiap kegiatan IPM kami selalu ada. PFP 1 pada Agustus 2018, TM 2 di Sidokelar Paciran, dan berbagai kegiatan lainnya.
Dulu kalau ada anak Mantup ikut kegiatan IPM, hampir pasti empat orang itu ada.
Febri, Milla, Zuzum, dan saya.
Entah bagaimana ceritanya, kami seperti selalu berangkat dalam satu rombongan. Sampai kemudian orang-orang mungkin lebih mudah mengenali Mantup melalui empat anak itu.
Dari kegiatan-kegiatan tersebut, saya mulai menemukan dunia baru. Dunia yang membuat saya berani berbicara di depan umum, bertemu banyak orang, ikut kegiatan di luar daerah, dan perlahan belajar bermasyarakat.
Setelah PFP 1 dan TM 2, kami kemudian menyelenggarakan TM 2 di PC IPM Mantup. Bagi kami, ini bukan kegiatan biasa. Ini adalah salah satu kebanggaan karena menjadi kegiatan perkaderan pertama yang kami selenggarakan setelah IPM Mantup bangkit kembali.
Fasilitatornya juga menjadi pengalaman tersendiri bagi kami. Ada alumni PFP 2 yang sudah mengikuti TM 2, dengan Zaki sebagai MOT. Saya menjadi asisten MOT. Ada pula Dila, Dita, Fery, Febri, Aan, dan beberapa fasilitator lainnya.
Mas Irvan Shaifullah yang saat itu menjadi Ketua Umum PD IPM Lamongan datang dan membersamai kegiatan sejak hari kedua sampai penutupan. Ada pula Mbak Ariani dari PD IPM Lamongan yang kebetulan juga berasal dari Mantup.
Bagi kami yang masih baru, kedatangan mereka memberi kesan tersendiri.
Setelah itu perjalanan di PC IPM Mantup berjalan seperti organisasi pada umumnya. Ada rapat, kegiatan, perkaderan, mencari dana, mengurus administrasi, sampai akhirnya pada Desember 2019 saya dipercaya menjadi Ketua Umum PC IPM Mantup.
Saya didampingi Zuzum sebagai sekretaris umum dan Milla sebagai bendahara umum.
Memimpin di Tengah Pandemi
Seharusnya periode itu menjadi masa yang cukup panjang untuk belajar memimpin.
Tetapi pandemi datang.
Pelantikan bahkan tertunda cukup lama. Kami baru dilantik pada 2021, padahal Musycab berikutnya sudah dekat. Kalau dihitung-hitung, memang agak lucu. Masa jabatan belum sempat benar-benar dimulai, periode berikutnya sudah menunggu.
Tetapi kegiatan tidak benar-benar berhenti.
Ketika pandemi Covid-19, kami ikut melakukan mitigasi di beberapa ranting dan masjid Muhammadiyah. Menyemprot disinfektan, membantu kegiatan, dan melakukan apa yang bisa dilakukan.
Bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan juga tetap berjalan. Kami berjualan dan dari situ kas PC IPM Mantup waktu itu lumayan banyak.
Dari masa itulah saya menerima satu pesan yang sampai hari ini masih saya ingat.
"Kita Punya Allah"
Saya masih ingat pesan Pak Sujud, Ketua PCM Mantup saat itu.
"Kalau ada kegiatan ke luar, jangan membebani peserta dengan biaya. Kalau mereka mau ikut saja sudah alhamdulillah. Urusan biaya, biar pimpinan cabang yang memikirkan bagaimana caranya. Kita punya Allah. Allah Maha Kaya. Minta sama Allah."
Kalimat itu sederhana.
Tapi semakin lama saya ber-IPM, semakin saya mengerti maksudnya.
Kader tidak selalu punya uang. Kader juga punya keluarga, sekolah, pekerjaan, dan kebutuhan lain. Kalau setiap kegiatan harus dimulai dengan pertanyaan, "Bayarnya berapa?", bisa jadi banyak anak akhirnya memilih tidak berangkat.
Padahal mungkin yang mereka butuhkan hanya kesempatan untuk hadir.
Maka di Mantup, sebisa mungkin kader yang ikut kegiatan tidak dibebani biaya.
Kalau ada kegiatan di luar, biar pimpinan cabang yang memikirkan bagaimana caranya. Entah mencari dana dari mana, menghubungi siapa, atau mengetuk pintu siapa.
Yang penting kadernya berangkat.
Yang penting mereka melihat.
Yang penting mereka mengalami.
Mungkin karena itulah sampai sekarang prinsip itu masih saya pegang.
Kader yang mau ikut kegiatan, kalau bisa jangan dipusingkan dulu dengan biaya. Biarkan mereka belajar. Biarkan mereka bertemu orang baru. Biarkan mereka pulang membawa pengalaman.
Urusan uang bisa dicari.
Kesempatan belajar belum tentu datang dua kali.
Mulai Melihat Lamongan dari Bawah
Setelah beberapa kali membantu kegiatan PD IPM Lamongan, termasuk TM 2 di Brondong dan PFP 1 di Karanggeneng, perjalanan saya kemudian berlanjut ke tingkat daerah.
Pada periode 2021-2023, saya masuk PD IPM Lamongan pada masa kepemimpinan Abim.
Awalnya saya menjadi anggota Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik bersama Ketua Bidang Nizar Syahroni. Di pertengahan periode saya berpindah ke Bidang Perkaderan yang waktu itu dipimpin A'yun.
Periode ini tidak terlalu banyak saya isi dengan jabatan atau hal-hal besar. Saya lebih banyak belajar dengan cara hadir.
Mengikuti kegiatan, bertemu orang, dan melihat bagaimana IPM berjalan di tingkat daerah.
Perlahan saya mulai melihat bahwa Lamongan tidak hanya berisi apa yang tampak dalam agenda PD. Di balik kegiatan daerah, ada cabang dan ranting dengan keadaan masing-masing.
Ada yang kadernya banyak, ada yang sedikit. Ada yang mudah digerakkan, ada yang harus didatangi berkali-kali. Ada yang punya fasilitas, ada yang untuk mengadakan kegiatan sederhana saja harus berpikir dari mana biayanya.
Waktu itu saya belum benar-benar memahami semuanya.
Saya hanya melihat dan menjalani.
Tetapi pengalaman-pengalaman kecil itu kemudian menjadi bekal yang baru terasa penting beberapa tahun kemudian.
Juni 2023 saya mengikuti PFP 2 yang diselenggarakan PW IPM Jawa Timur di Sidoarjo. Beberapa bulan kemudian, November 2023, saya kembali mengikuti PKMTM 3 yang diselenggarakan PW IPM Jawa Timur secara daring.
Kalau sekarang saya melihatnya kembali, dua kegiatan itu bukan sekadar daftar perkaderan yang pernah saya ikuti.
Ada proses yang pelan-pelan membentuk cara pandang saya terhadap organisasi. Dari Mantup, kemudian Lamongan, lalu bertemu dengan kader-kader dari daerah lain.
Saya mulai melihat bahwa persoalan kaderisasi tidak pernah selesai hanya dengan membuat kegiatan.
Ada manusia yang harus dipahami. Ada latar belakang yang berbeda. Ada kemampuan yang tidak sama. Ada kader yang membutuhkan dorongan, ada yang hanya membutuhkan ruang untuk mencoba.
Mungkin waktu itu saya belum bisa merumuskannya seperti sekarang.
Saya hanya menjalani.
Ketika Mantup Membawa Saya Lebih Jauh
Pada 10 Maret 2024, di Universitas Muhammadiyah Lamongan, saya terpilih sebagai salah satu dari sembilan formatur sekaligus dipercaya menjadi Sekretaris Umum PD IPM Lamongan periode 2023-2025.
Saya mendampingi Dimas Julian Arman sebagai Ketua Umum dan Fadhilatur Rosyidah sebagai Bendahara Umum.
Ada hal yang cukup menarik dari Musyda itu.
Mantup adalah cabang kecil.
Kadernya tidak banyak. Pesertanya juga tidak sebanyak cabang-cabang lain. Tetapi dari sembilan formatur terpilih, tiga di antaranya berasal dari Mantup.
Saya menjadi salah satunya.
Bagi saya, itu bukan sekadar hasil pemilihan.
Ada perjalanan panjang di belakangnya.
Ada anak-anak Mantup yang dulu datang ke kegiatan dengan modal ingin ikut. Ada pimpinan yang mencari cara agar kadernya bisa berangkat tanpa terbebani biaya. Ada kegiatan yang diselenggarakan dengan kemampuan seadanya. Ada pula orang-orang yang terus mendorong kader untuk hadir dan belajar.
Dari sana saya semakin percaya bahwa ukuran sebuah cabang tidak selalu bisa dilihat dari jumlah kader atau ramainya kegiatan.
Kadang tempat kecil justru menyimpan perjalanan yang panjang.
Belajar Menjadi Sekum
Menjadi Sekum membuat saya tidak lagi sekadar melihat realitas itu dari kejauhan.
Saya harus berhadapan langsung dengannya.
Setiap bulan ada saja cabang atau ranting yang saya datangi. Ketika musim liburan dan Fortasi, dalam satu minggu bahkan bisa empat kali berkeliling Lamongan.
Di situ saya semakin memahami sesuatu yang sebenarnya sudah mulai saya lihat sejak periode pertama di PD IPM.
Berorganisasi bukan hanya soal bagaimana keadaan seharusnya, tetapi bagaimana keadaan yang sebenarnya.
Kadang kita terlalu mudah mengatakan, "Harusnya begini."
Padahal belum tentu kondisi di lapangan memungkinkan.
Tidak semua konsep yang bagus bisa langsung diterapkan. Tidak semua cabang memiliki sumber daya yang sama. Tidak semua kader punya waktu, fasilitas, kemampuan, dan kesempatan yang sama.
Maka semakin sering saya turun, semakin saya merasa bahwa organisasi juga merupakan latihan untuk menurunkan ego.
Sebelum meminta orang bergerak, kita harus tahu dulu kemampuan mereka. Sebelum membuat aturan, kita harus memahami keadaan. Sebelum menyalahkan cabang yang tidak berjalan, mungkin kita perlu bertanya apa yang sedang mereka hadapi.
Membaca realitas ternyata bukan pekerjaan seorang pimpinan.
Ia harus dimulai sejak menjadi kader.
Jabatan hanya membuat kita melihatnya lebih dekat.
Tidak Semua Perjalanan Harus Dilanjutkan
Delapan tahun ternyata cukup panjang.
Kalau melihat ke belakang, semuanya seperti berjalan begitu saja.
Dari seorang anak kelas 9 yang datang ke Musycab tanpa tahu apa-apa. Namanya dicatat sebagai calon formatur, tetapi tidak mendapat satu suara pun.
Lalu bertemu teman-teman.
Ikut seminar.
Ikut pelatihan.
Pergi ke berbagai daerah.
Belajar berbicara.
Belajar memimpin.
Belajar mengurus kegiatan.
Belajar mencari uang untuk organisasi.
Belajar memahami kader.
Belajar berhubungan dengan pimpinan, pemerintah, organisasi lain, sampai dengan orang-orang yang selama ini mungkin tidak pernah saya kenal.
Dan yang paling penting, belajar bahwa organisasi bukan hanya tentang diri sendiri.
Pada Milad IPM kali ini saya juga ingin jujur kepada diri sendiri.
Saya sudah bertekad untuk purna lebih awal dari IPM.
Sebenarnya masih ada kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ke tingkat wilayah. Masih ada ruang untuk kembali berproses. Tetapi semakin banyak amanah dan tanggung jawab yang datang, saya merasa perlu berhenti sejenak dan melihat kemampuan diri sendiri.
Sebab yang paling tahu batas kemampuan kita adalah diri kita sendiri.
Tidak semua yang masih mungkin harus dilakukan.
Tidak semua kesempatan harus diambil.
Ada saatnya kita mengatakan cukup, bukan karena berhenti mencintai organisasi, tetapi karena ingin memberi ruang kepada orang lain untuk melanjutkan.
Musywil XXIV di Malang kemarin menjadi musywil terakhir bagi saya.
Milad IPM 2026 ini menjadi milad terakhir yang saya jalani dalam perjalanan panjang tersebut.
Dan Musyda IPM Lamongan pada September nanti, insyaallah menjadi musyda terakhir sekaligus penutup perjalanan saya di IPM.
Saya tidak tahu apakah delapan tahun ini pernah benar-benar saya rencanakan.
Sepertinya tidak.
Saya hanya terus berjalan dari satu kegiatan ke kegiatan berikutnya. Dari satu orang ke orang berikutnya. Dari satu amanah ke amanah berikutnya.
Sampai akhirnya saya mengerti, mungkin memang perjalanan tidak selalu harus kita rancang terlalu jauh.
Kadang kita hanya perlu menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
Sebab kita tidak pernah tahu, pertemuan mana yang akan mengubah hidup, kegiatan mana yang akan membuka jalan, atau orang mana yang kelak menjadi bagian dari cerita panjang kita.
Delapan tahun lalu saya datang ke IPM tanpa tahu akan menjadi apa.
Hari ini saya bersiap meninggalkannya dengan membawa banyak hal yang tidak mungkin saya dapatkan jika dulu saya memilih tidak datang.
Mungkin setelah ini saya bukan lagi orang yang setiap bulan berkeliling cabang dan ranting. Bukan lagi orang yang sibuk memastikan surat keluar, agenda berjalan, atau kader berangkat kegiatan.
Tetapi apa yang pernah saya pelajari akan tetap saya bawa.
Tentang kader yang cukup diberi kesempatan.
Tentang cabang kecil yang ternyata bisa melahirkan banyak hal.
Tentang memimpin tanpa harus selalu berada di depan.
Tentang membaca realitas sebelum berbicara idealitas.
Dan tentang sebuah perjalanan yang ternyata tidak pernah benar-benar kita miliki.
Kita hanya dititipi kesempatan untuk menjalaninya.
Selamat Milad ke-65 IPM.
Saya pernah tumbuh di dalamnya.
Pernah belajar dari kesalahannya. Pernah bangga atas capaian kecilnya. Pernah kecewa, pernah lelah, dan berkali-kali ingin berhenti.
Tetapi nyatanya saya tetap berjalan sampai sejauh ini.
Sebentar lagi mungkin saya akan berhenti di pinggir jalan.
Bukan karena tidak ingin melanjutkan perjalanan.
Hanya karena saya tahu, setelah delapan tahun berjalan, ada saatnya perjalanan ini dilanjutkan oleh orang lain.
Saya pernah menjadi bagian dari perjalanan IPM. Dan setelah ini, biarlah IPM menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
#As'ad Fauzuddin Khunaifi