![]() |
| Ilustrasi: AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi |
As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa
Di jagat maya Indonesia yang semakin bising oleh perdebatan, kecurigaan, hoaks, dan saling curiga antarkelompok, ada satu fenomena yang menarik untuk direnungkan. Muhammadiyah cukup sering mendapat sentimen positif dari publik, termasuk dari orang-orang yang tidak berada di dalam barisan persyarikatan. Bukan karena semua orang sepakat dengan setiap keputusan Muhammadiyah, bukan pula karena organisasi ini selalu luput dari kritik. Justru sebaliknya, Muhammadiyah tetap berhadapan dengan pro dan kontra. Namun, ada sesuatu yang membuat kepercayaan publik relatif bertahan: pekerjaan yang bisa dilihat, dirasakan, dan dibuktikan.
Muhammadiyah barangkali tidak selalu menjadi organisasi yang paling ramai berbicara tentang Islam di ruang publik. Ia tidak harus mengajak setiap orang masuk ke dalam organisasinya. Ia juga tidak perlu terus-menerus menjelaskan bahwa dirinya sedang berdakwah. Ada cara yang lebih sederhana untuk menunjukkan keberislaman: berbuat baik. Islam tidak hanya dibicarakan sebagai identitas, tetapi diwujudkan melalui pelayanan, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, pemberdayaan, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.
Di titik itulah keberislaman Muhammadiyah menemukan bentuk yang paling mudah dipahami masyarakat. Orang boleh berbeda pilihan organisasi, berbeda tradisi keagamaan, bahkan berbeda pandangan terhadap Muhammadiyah. Namun, saat seorang anak dapat berangkat sekolah dengan selamat karena sebuah jembatan dibangun, saat korban bencana mendapat makanan dan obat-obatan, atau saat warga terdampak asap memperoleh pelayanan kesehatan, perdebatan identitas tiba-tiba kehilangan sebagian kekuatannya. Kebaikan memiliki bahasa yang lebih sederhana daripada perdebatan.
Pembangunan Jembatan Ihdinas Sirotol Mustaqim di Dusun Sobbari dan Dusun Angsanah Timur, Desa Tlambah, Kecamatan Karangpenang, Sampang, Madura, menjadi salah satu gambaran paling menarik. Proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Di balik bentangan beton itu terdapat cerita tentang prasangka, penolakan, kebutuhan warga, dan pilihan Muhammadiyah untuk menjawab persoalan dengan amal nyata.
Rencana pembangunan jembatan tersebut sempat menghadapi penolakan dan pengadangan dari sejumlah elemen masyarakat. Persoalannya tidak berhenti pada konstruksi fisik. Ada latar sosial dan kultural yang membuat kehadiran sebuah institusi keagamaan dapat dibaca dengan kecurigaan. Situasi seperti itu mudah berubah menjadi konflik identitas apabila masing-masing pihak memilih mempertahankan ego kelompok.
Muhammadiyah memilih jalan yang berbeda. Di lapangan, anak-anak PAUD, SD, hingga SMP harus menyeberangi sungai untuk pergi sekolah. Keselamatan mereka menjadi persoalan sehari-hari. Saat air sungai meninggi, aktivitas pendidikan dan mobilitas masyarakat ikut terganggu. Bagi warga, persoalannya bukan tentang siapa yang paling benar dalam perdebatan identitas, tetapi bagaimana anak-anak dapat berangkat sekolah tanpa mempertaruhkan keselamatan.
Di situlah Muhammadiyah menghadirkan jawaban yang sederhana. Bukan dengan memperpanjang perdebatan, melainkan dengan membangun jembatan.
Sekitar Rp800 juta digelontorkan untuk pembangunan jembatan tersebut dengan dukungan berbagai unsur Muhammadiyah, termasuk PWM Jawa Timur dan Lazismu. Peletakan batu pertama dilakukan pada 24 Mei 2026 dengan melibatkan Prof. Abdul Mu'ti dan sejumlah tokoh Madura. Jembatan itu dirancang dengan konstruksi kelas 3C, lebar sekitar tiga meter, dan kemampuan menahan beban hingga 30 ton. Angka-angka tersebut penting, tetapi makna sosialnya jauh lebih penting.
Sebuah jembatan akhirnya tidak hanya menghubungkan dua sisi sungai. Ia juga dapat menghubungkan manusia yang sebelumnya dipisahkan prasangka.
Warga yang semula berhadapan dengan simbol organisasi akhirnya melihat manfaat yang konkret. Anak-anak yang sebelumnya harus menyeberang sungai memperoleh jalan yang lebih aman. Masyarakat tidak perlu menerima ceramah panjang tentang kebaikan Muhammadiyah. Mereka cukup melihat bahwa ada organisasi yang datang membawa solusi.
Inilah bentuk dakwah bil hal. Dakwah melalui tindakan. Bukan berarti dakwah verbal tidak penting. Namun, dalam masyarakat yang sudah terlalu penuh dengan kata-kata, tindakan sering kali menjadi penjelasan paling kuat.
Kisah Madura itu juga memperlihatkan bagaimana bridging social capital bekerja. Robert Putnam menjelaskan modal sosial yang menjembatani kelompok-kelompok berbeda sebagai kekuatan yang memungkinkan masyarakat membangun kepercayaan melampaui batas komunitas. Jembatan beton di Karangpenang secara harfiah menjadi jembatan sosial. Ia menghubungkan kebutuhan warga dengan kepedulian Muhammadiyah. Ia juga membuka ruang perjumpaan yang lebih sehat setelah muncul ketegangan.
Muhammadiyah tidak perlu membalas resistensi dengan resistensi. Penolakan tidak dijawab dengan kebencian. Prasangka tidak dilawan dengan prasangka. Ada pilihan lain yang jauh lebih melelahkan sekaligus lebih bermakna: tetap bekerja.
Watak semacam itu bukan muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari tradisi panjang Muhammadiyah sebagai gerakan amal. Sejak KH Ahmad Dahlan, keberislaman Muhammadiyah tidak dibangun hanya melalui ceramah tentang kesalehan individual. Teologi Al-Maun mengajarkan bahwa keberagamaan harus memiliki konsekuensi sosial. Iman harus terlihat dalam keberpihakan kepada mereka yang lemah.
Karena itu, Muhammadiyah tidak harus mengajak semua orang menjadi Muhammadiyah untuk menunjukkan Islam. Berbuat baik kepada manusia adalah bagian dari keberislaman itu sendiri. Sekolah, rumah sakit, panti asuhan, lembaga filantropi, perguruan tinggi, masjid, dan berbagai amal usaha menjadi ruang panjang tempat gagasan itu dipraktikkan.
Tradisi tersebut terlihat pula dalam respons Muhammadiyah terhadap bencana. Saat gempa mengguncang NTT dan Flores, solidaritas dihimpun dari berbagai tempat. Infaq masjid-masjid Muhammadiyah juga digerakkan untuk membantu korban. Warga yang mungkin tidak mengenal struktur Muhammadiyah sekalipun dapat merasakan manfaat dari kepedulian tersebut.
Pola serupa telah berulang dalam banyak bencana. Banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat juga menjadi ruang bagi masjid-masjid Muhammadiyah untuk menghimpun infaq kemanusiaan. Dana yang terkumpul tidak berhenti sebagai angka dalam laporan. Ia diubah menjadi bantuan untuk mereka yang sedang kehilangan rumah, makanan, kesehatan, dan ketenangan.
Ada sesuatu yang menarik dari tradisi menghimpun infaq melalui masjid. Orang memasukkan uang ke kotak amal tanpa selalu bertanya siapa penerimanya. Mereka percaya bahwa uang tersebut akan sampai kepada orang yang membutuhkan. Di situlah kepercayaan institusional bekerja. Kepercayaan tidak dibangun dalam sehari. Ia merupakan hasil akumulasi pengalaman panjang.
Respons terhadap karhutla Kalimantan juga memperlihatkan watak yang sama. Saat asap menyelimuti sejumlah wilayah dan masyarakat menghadapi ancaman gangguan kesehatan, MDMC bersama relawan Muhammadiyah turut bergerak membantu, termasuk dalam upaya pemadaman dan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Bagi korban, nama organisasi sering kali menjadi urusan kedua. Yang lebih penting adalah siapa yang datang membawa bantuan.
Di tengah krisis ekologis, kehadiran seperti itu menjadi semakin penting. Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan titik api. Ia menyangkut udara yang dihirup anak-anak, aktivitas sekolah yang terganggu, penerbangan yang tertunda, kesehatan masyarakat, dan masa depan lingkungan. Saat relawan datang membantu, keberislaman hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menyelamatkan kehidupan.
Semangat semacam itu mendapat bentuk organisasi melalui OMOR, One Muhammadiyah One Response. Gagasan ini memperlihatkan bagaimana berbagai potensi persyarikatan dapat bergerak sebagai satu kekuatan kemanusiaan. Rumah sakit, perguruan tinggi, Lazismu, MDMC, angkatan muda Muhammadiyah, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai unsur lainnya tidak berjalan sebagai pulau-pulau yang terpisah.
Saat bencana datang, yang dibutuhkan bukan ego sektoral. Yang dibutuhkan adalah respons.
OMOR membuat respons tersebut lebih terkoordinasi. Ambulans dapat bergerak bersama tenaga medis. Logistik dapat dihimpun melalui jaringan filantropi. Relawan dapat bekerja di lapangan. Informasi dapat dikelola. Semua bergerak menuju tujuan yang sama: menyelamatkan dan meringankan penderitaan manusia.
Di sinilah Muhammadiyah memiliki kekuatan sosiologis yang menarik. Organisasi besar dengan struktur panjang tidak selalu identik dengan gerakan yang lambat. Sistem yang tertata justru dapat membuat respons menjadi lebih cepat apabila seluruh unsur memahami tujuan bersama.
Kinerja kemanusiaan tersebut berkelindan dengan pelayanan sosial Muhammadiyah yang semakin luas. Dalam program Makan Bergizi Gratis, misalnya, Muhammadiyah disebut mengelola ratusan SPPG di berbagai provinsi. Data yang beredar menyebut 302 dapur SPPG tersebar di 30 provinsi dan menempatkan Muhammadiyah dalam jajaran organisasi dengan jumlah SPPG terbanyak.
Angka itu tentu perlu dibaca secara proporsional. Banyaknya dapur bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Tata kelola, keamanan pangan, kualitas layanan, keterlibatan masyarakat, dan keberlanjutan juga harus menjadi ukuran. Namun, besarnya jaringan menunjukkan kemampuan organisasi keagamaan mengelola program sosial dalam skala nasional.
Di sinilah konsep performance legitimacy menjadi relevan. Kepercayaan publik dapat tumbuh karena sebuah institusi mampu membuktikan manfaatnya dalam kehidupan nyata. Masyarakat modern semakin sulit diyakinkan hanya dengan slogan. Mereka melihat hasil.
Jembatan yang berdiri lebih meyakinkan daripada pidato tentang kepedulian. Bantuan yang sampai lebih berarti daripada poster solidaritas. Dokter yang datang ke lokasi bencana lebih mudah dipercaya daripada pernyataan panjang tentang kemanusiaan.
Reputasi Muhammadiyah juga tidak terbentuk karena satu momentum. Ia merupakan akumulasi pengalaman lebih dari satu abad. Sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, lembaga zakat, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha membentuk memori sosial yang panjang.
Memori itulah yang membuat respons publik terhadap Muhammadiyah sering kali berbeda dengan respons terhadap institusi lain. Bukan berarti publik selalu setuju. Tidak demikian. Muhammadiyah juga mengalami kritik, perdebatan internal, serta kontroversi. Isu pengelolaan tambang, misalnya, sempat melahirkan pro dan kontra yang cukup kuat di ruang publik.
Ada kelompok yang mempertanyakan keputusan tersebut karena khawatir organisasi keagamaan masuk terlalu jauh ke sektor ekstraktif. Ada pula yang melihatnya sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa sumber daya ekonomi dapat dikelola dengan prinsip tata kelola yang bertanggung jawab. Perdebatan itu menunjukkan bahwa sentimen positif publik tidak berarti Muhammadiyah memperoleh kekebalan dari kritik.
Justru di sana kualitas institusi diuji.
Kepercayaan bukan hak istimewa. Kepercayaan adalah amanah yang harus terus dibuktikan. Reputasi yang panjang tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari evaluasi. Sebaliknya, reputasi harus membuat sebuah organisasi semakin terbuka terhadap kritik.
Prof. Dr. Haedar Nashir berkali-kali menekankan watak kemanusiaan Muhammadiyah sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan. Dalam berbagai kesempatan, ia menempatkan kerja kemanusiaan sebagai panggilan yang tidak boleh ditolak. Pandangan tersebut menjelaskan mengapa Muhammadiyah bergerak dalam berbagai bencana tanpa terlebih dahulu menghitung latar belakang korban.
Bagi Muhammadiyah, korban bencana bukan pertama-tama anggota organisasi. Mereka adalah manusia.
Gagasan tersebut bertemu dengan pandangan Prof. Dr. Abdul Mu'ti tentang Muhammadiyah sebagai gerakan yang harus hadir untuk semua. Semangat Muhammadiyah for All menunjukkan bahwa kehadiran persyarikatan tidak semestinya dibatasi oleh sekat identitas. Pelayanan harus menjangkau masyarakat luas.
Kalimat Muhammadiyah for All menjadi semakin bermakna jika dilihat dari Jembatan Ihdinas Sirotol Mustaqim. Jembatan itu tidak dibangun untuk anak-anak Muhammadiyah saja. Ia dibangun untuk anak-anak yang membutuhkan jalan menuju sekolah.
Begitu pula bantuan kebencanaan. Infaq yang dihimpun di masjid Muhammadiyah tidak perlu ditanyakan terlebih dahulu apakah penerimanya bagian dari persyarikatan. Saat manusia tertimpa bencana, identitas organisasi kehilangan relevansinya.
Di sinilah konsep Islam sebagai rahmat menemukan bentuk sosialnya.
Islam tidak selalu harus hadir melalui ajakan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok. Islam dapat hadir melalui tangan yang membantu, dokter yang merawat, relawan yang mengangkat barang, guru yang mendidik, dan masyarakat yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk korban bencana.
Ada perbedaan besar antara mengajak orang berislam dan menunjukkan keberislaman melalui kebaikan. Yang pertama bekerja melalui kata-kata. Yang kedua bekerja melalui keteladanan.
Muhammadiyah memiliki tradisi yang kuat pada bentuk kedua.
Itulah sebabnya sentimen positif publik tidak selalu lahir dari kampanye. Ia dapat tumbuh secara organik dari pengalaman masyarakat. Seorang warga yang pernah berobat di rumah sakit Muhammadiyah, anak yang pernah belajar di sekolah Muhammadiyah, keluarga yang menerima bantuan Lazismu, atau korban bencana yang ditolong relawan Muhammadiyah membawa pengalaman masing-masing ke dalam ingatan sosial.
Pengalaman tersebut kemudian bertemu di ruang digital.
Di media sosial, orang dapat memberikan penilaian dalam hitungan detik. Namun, penilaian yang bertahan lama biasanya memiliki akar pengalaman. Jika sebuah institusi hanya mengandalkan pencitraan, reputasi akan mudah runtuh saat fakta berlawanan muncul. Sebaliknya, jika reputasi dibangun melalui kerja panjang, satu kritik tidak serta-merta menghapus seluruh memori publik.
Inilah yang dapat disebut sebagai perisai reputasi. Bukan kekebalan dari kritik, melainkan modal kepercayaan yang terbentuk dari rekam jejak.
Namun, perisai tersebut tidak boleh berubah menjadi tembok yang menutup diri. Muhammadiyah tetap membutuhkan kritik. Bahkan, semakin besar amal usaha dan semakin luas pengaruhnya, semakin besar pula kebutuhan terhadap transparansi, akuntabilitas, dan evaluasi.
Publik yang percaya justru memiliki hak lebih besar untuk bertanya.
Karena itu, pro dan kontra atas berbagai kebijakan Muhammadiyah harus dipandang sebagai bagian dari dinamika organisasi modern. Isu tambang, tata kelola amal usaha, program sosial, pendidikan, maupun respons kebencanaan layak terus diawasi. Kepercayaan publik akan semakin kuat apabila kritik tidak dibalas dengan defensif, tetapi dengan data, keterbukaan, dan perbaikan.
Haedar Nashir menempatkan Islam Berkemajuan dalam kerangka tanggung jawab kebangsaan. Abdul Mu'ti mendorong Muhammadiyah agar terus menjadi gerakan yang inklusif dan solutif. Dua gagasan tersebut bertemu dalam satu titik: Muhammadiyah harus hadir melalui manfaat.
Manfaat adalah bahasa yang dapat dipahami siapa saja.
Seorang anak Madura tidak harus memahami seluruh sejarah Muhammadiyah untuk merasakan manfaat sebuah jembatan. Seorang korban gempa tidak perlu mengetahui struktur Pimpinan Pusat untuk merasakan pertolongan relawan. Seorang pasien tidak perlu menjadi anggota persyarikatan untuk mendapatkan layanan rumah sakit. Seorang warga terdampak asap tidak perlu mengucapkan identitas organisasi sebelum mendapatkan pertolongan.
Kebaikan tidak membutuhkan kartu anggota.
Di situlah letak kekuatan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam. Ia dapat mempertahankan identitas keislamannya tanpa harus membangun tembok sosial yang membuat orang lain merasa asing. Identitas justru diterjemahkan menjadi pelayanan.
Mungkin inilah jawaban paling sederhana atas pertanyaan mengapa Muhammadiyah tetap mendapatkan kepercayaan publik di tengah ruang digital yang penuh kecurigaan.
Karena Muhammadiyah tidak selalu meminta publik percaya.
Ia bekerja agar publik memiliki alasan untuk percaya.
Dan alasan itu tidak dibangun oleh satu unggahan media sosial, satu pidato, atau satu kampanye. Ia dibangun dari ribuan ruang kelas, rumah sakit, masjid, dapur gizi, ambulans, posko bencana, kotak infaq, relawan, dokter, guru, mahasiswa, dan kader yang bekerja di tempat-tempat yang sering kali jauh dari sorotan kamera.
Di Sampang, ia menjelma jembatan. Di Flores, ia menjadi pertolongan. Di Kalimantan, ia hadir bersama relawan yang menghadapi karhutla. Di masjid-masjid, ia menjadi infaq yang dikumpulkan untuk korban bencana. Di dapur-dapur SPPG, ia menjadi makanan yang sampai kepada anak-anak. Di sekolah dan rumah sakit, ia menjadi pelayanan yang berlangsung setiap hari.
Semua itu bukan sekadar aktivitas organisasi.
Itulah cara sebuah gerakan menerjemahkan keyakinannya ke dalam kehidupan.
Islam tidak selalu perlu dijelaskan dengan suara yang keras. Ada kalanya ia cukup diperlihatkan melalui tangan yang bekerja. Ada kalanya ia lebih mudah dipahami melalui jembatan yang berdiri, makanan yang tersaji, obat yang diberikan, rumah yang dibantu, dan korban bencana yang tidak dibiarkan sendirian.
Muhammadiyah tidak harus mengajak semua orang menjadi Muhammadiyah.
Cukup menunjukkan bahwa menjadi Muslim berarti memiliki alasan untuk berbuat baik kepada sesama.
Sebab, di tengah dunia yang semakin ramai berbicara tentang siapa yang paling benar, masyarakat justru semakin membutuhkan orang-orang yang mau melakukan yang benar.
Dan barangkali, di situlah Sang Surya Muhammadiyah terus menemukan maknanya: bukan sekadar bersinar untuk dirinya sendiri, melainkan menghadirkan cahaya yang dapat dirasakan siapa saja.
