AFK Logo

Ketik kata kunci lalu tekan Enter

Ilustrasi: AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi

As’ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa

Ada masa ketika karnaval desa terasa seperti halaman kecil tempat masyarakat menuliskan ingatannya sendiri. Jalan raya berubah menjadi panggung. Anak-anak memakai pakaian adat, pemuda membawa replika perjuangan, ibu-ibu menyiapkan kostum dari bahan sederhana, sementara para orang tua berdiri di pinggir jalan menyaksikan dengan mata berbinar. Tidak semuanya mahal. Tidak semuanya sempurna. Tetapi ada cerita yang dibawa pulang.

Kini suasananya mulai berubah.

Di sejumlah tempat, karnaval tidak lagi sekadar menjadi parade kreativitas warga. Truk dengan sound system berukuran besar ikut mengambil alih jalan. Lampu sorot bergerak ke sana kemari. Musik berdentum mengikuti irama yang semakin keras. Di atas kendaraan, ada penampil dan dancer yang menjadi pusat perhatian. Masyarakat berkumpul, kamera ponsel terangkat, dan jalan desa mendadak terasa seperti panggung pertunjukan.

Tidak ada yang salah dengan masyarakat yang ingin bersenang-senang. Kita tidak sedang hidup di negeri yang melarang kegembiraan. Musik, seni pertunjukan, karnaval, dan hiburan rakyat adalah bagian dari kehidupan sosial. Desa juga membutuhkan ruang untuk tertawa setelah berhari-hari bekerja di sawah, pabrik, pasar, maupun kantor.

Tetapi kebudayaan bukan hanya perkara apakah kita boleh bersenang-senang.

Kebudayaan juga berbicara tentang apa yang kita pilih untuk ditampilkan, bagaimana kita menampilkannya, dan siapa yang harus menanggung akibatnya.

Di sinilah karnaval kita perlu direnungkan kembali.

Sebab ketika sebuah perayaan yang dahulu menjadi ruang untuk menampilkan sejarah, kreativitas, permainan tradisional, pakaian adat, dan gotong royong perlahan berubah menjadi kompetisi besarnya sound system, kemewahan kendaraan, kekuatan dentuman, serta kemeriahan tontonan, sesungguhnya terjadi perubahan orientasi.

Kita tidak lagi hanya bertanya, "Apa yang hendak kita ceritakan?"

Kita mulai bertanya, "Siapa yang paling keras?"

Perubahan kecil dalam pertanyaan itu sebenarnya menyimpan persoalan yang besar.

Karnaval yang semestinya menjadi ruang ekspresi bersama dapat bergeser menjadi ruang pembuktian gengsi. Kampung sebelah punya sound besar, kampung kita harus lebih besar. Mereka membawa lampu lebih banyak, kita tidak mau kalah. Mereka menyewa penampil, kita ikut menyewa. Akhirnya ukuran keberhasilan perayaan bukan lagi seberapa kreatif warga membuat pertunjukan, melainkan seberapa ramai kendaraan lewat dan seberapa banyak orang merekamnya.

Kita kemudian masuk ke dalam logika tontonan.

Yang penting terlihat.

Yang penting terdengar.

Yang penting viral.

Sementara makna di belakangnya perlahan menghilang.

Inilah yang dalam sosiologi budaya menarik untuk diperhatikan. Masyarakat modern tidak hanya mengonsumsi barang. Kita juga mengonsumsi pengalaman, perhatian, suara, visual, dan gengsi. Sebuah acara semakin dianggap berhasil ketika mampu menciptakan sensasi yang lebih besar daripada acara sebelumnya.

Maka tidak mengherankan jika sound system menjadi bagian penting dari karnaval. Ia bukan lagi sekadar alat pengeras suara. Ia menjadi simbol kemampuan ekonomi, selera, bahkan identitas kelompok. Semakin besar perangkatnya, semakin tinggi pula kebanggaan yang ingin dipertontonkan.

Di titik tertentu, karnaval berhenti menjadi ruang kebudayaan dan berubah menjadi ruang kompetisi konsumsi.

Yang menyedihkan, biaya untuk mengejar kemeriahan itu sering kali berasal dari masyarakat sendiri. Warga patungan. Kas lingkungan dikeluarkan. Pemuda bekerja mengumpulkan dana. Semua dilakukan atas nama hiburan bersama.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan mengeluarkan uang untuk hiburan.

Yang patut ditanyakan adalah apakah uang, tenaga, dan kreativitas sebesar itu tidak bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna.

Bayangkan jika sebagian energi yang digunakan untuk menyewa pertunjukan mahal dialihkan untuk membuat teatrikal sejarah kampung. Anak-anak dilatih memainkan kesenian tradisional. Pemuda membuat instalasi seni dari bahan bekas. Kelompok perempuan menampilkan kuliner lokal. Para petani memperkenalkan hasil bumi desa. Tokoh-tokoh masyarakat menceritakan sejarah kampung kepada generasi muda.

Karnaval akhirnya bukan hanya ditonton.

Ia menjadi sekolah berjalan.

Anak-anak belajar sejarah. Pemuda belajar organisasi. Warga belajar gotong royong. Seniman lokal mendapatkan ruang. Produk desa mendapatkan panggung. Identitas kampung tidak hanya disebut, tetapi diperlihatkan.

Bukankah itu jauh lebih indah?

Persoalannya menjadi semakin serius ketika kemeriahan hiburan mulai mengorbankan kenyamanan masyarakat lain.

Jalan raya adalah ruang bersama. Ketika suara dari sebuah kendaraan berhenti menjadi hiburan bagi peserta dan berubah menjadi gangguan bagi warga sekitar, persoalannya bukan lagi selera musik. Ada hak orang lain yang perlu dipertimbangkan.

Di rumah-rumah sekitar rute, ada bayi yang sedang tidur. Ada lansia yang membutuhkan ketenangan. Ada orang sakit. Ada warga yang hendak beribadah. Ada pula keluarga yang mungkin tidak ikut dalam acara tersebut tetapi tetap harus menerima dampaknya.

Di sinilah kebebasan menemukan batasnya.

Kita boleh bergembira, tetapi tetangga juga memiliki hak untuk tidak dipaksa bergembira dengan cara kita.

Kalimat itu tampaknya sederhana. Namun justru kesederhanaan tersebut sering hilang ketika suara sudah terlalu keras dan kerumunan sudah terlalu ramai.

Apalagi jika tontonan yang ditampilkan di ruang publik tidak lagi mempertimbangkan siapa yang melihat. Ketika sebuah karnaval berlangsung di jalan desa, penontonnya bukan hanya orang dewasa yang datang secara sadar. Anak-anak juga ada di sana. Remaja ikut menonton. Keluarga membawa balita. Karena itu, apa yang ditampilkan di ruang publik semestinya memiliki pertimbangan kepatutan.

Kita tidak harus memusuhi penampil. Tidak perlu pula menghakimi orang yang menyukai hiburan tertentu.

Yang perlu kita lakukan adalah bertanya: apakah semua yang bisa ditampilkan memang layak ditampilkan di setiap ruang dan kepada semua usia?

Pertanyaan seperti ini bukan tanda bahwa kita anti-seni.

Justru sebaliknya.

Masyarakat yang menghargai seni seharusnya memahami bahwa seni memiliki konteks. Ada ruang pertunjukan yang berbeda dengan ruang publik. Ada tontonan untuk orang dewasa yang berbeda dengan tontonan keluarga. Ada kebebasan berekspresi yang tetap harus bertemu dengan etika sosial.

Karena itu, kritik terhadap karnaval model baru tidak seharusnya berubah menjadi perang antara kelompok "modern" dan "kolot".

Persoalannya bukan modern atau tradisional.

Persoalannya adalah beradab atau tidak.

Sound system tidak otomatis buruk. Musik juga bukan musuh kebudayaan. Karnaval dengan hiburan modern pun tidak harus ditolak. Yang menjadi persoalan adalah ketika teknologi, hiburan, dan kebebasan dipakai tanpa kemampuan mengukur dampaknya kepada orang lain.

Di sinilah kaidah la dharar wa la dhirar menjadi relevan: tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain.

Kaidah tersebut mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana. Kegembiraan kita tidak boleh dibangun dari penderitaan orang lain.

Kalau sebuah hiburan membuat tetangga tidak bisa beristirahat, maka kita perlu mengatur volumenya. Kalau pertunjukan mengganggu ibadah, perlu ada batas waktu dan jarak. Kalau tontonan tidak pantas untuk anak-anak, perlu ada pertimbangan terhadap isi pertunjukannya. Kalau sebuah acara menghabiskan biaya besar hanya demi gengsi, masyarakat juga berhak bertanya apakah manfaatnya sepadan.

Itu bukan berarti membunuh budaya.

Justru itu cara menyelamatkan budaya agar tidak kehilangan akal sehat.

Sebab budaya yang sehat tidak hanya bertanya, "Apa yang menyenangkan bagi kita?"

Ia juga bertanya, "Apakah orang lain tetap merasa dihargai?"

Di sinilah peran tokoh masyarakat, pemerintah desa, pemuda, dan organisasi keagamaan menjadi penting. Jangan setiap tahun kita hanya menjadi penonton yang kemudian mengeluh ketika persoalan sudah muncul. Ruang budaya harus dirancang bersama.

Desa dapat membuat kesepakatan tentang batas suara, waktu pertunjukan, rute karnaval, konten yang layak ditampilkan, keselamatan penonton, hingga perlindungan anak. Kreativitas tidak harus dimatikan. Yang perlu dilakukan adalah memberinya arah.

Bahkan saya kira, inilah kesempatan bagi generasi muda untuk merebut kembali karnaval dari sekadar perlombaan kemeriahan.

Anak muda punya kemampuan membuat pertunjukan yang jauh lebih kreatif. Mereka menguasai teknologi digital. Mereka mampu membuat video sejarah desa. Mereka bisa menggabungkan musik tradisional dengan teknologi modern. Mereka bisa menciptakan kostum dari barang bekas. Mereka bisa menghidupkan kembali permainan tradisional dalam bentuk yang menarik.

Kita tidak kekurangan kreativitas.

Kita hanya kadang terlalu cepat mengukur kreativitas dari ukuran speaker.

Padahal suara paling keras belum tentu membawa pesan paling jauh.

Karnaval seharusnya menjadi kesempatan untuk mempertemukan generasi. Anak muda menunjukkan kreativitas. Orang tua menyumbangkan pengalaman. Anak-anak belajar dari keduanya. Desa menjadi panggung yang memperlihatkan siapa kita dan dari mana kita berasal.

Kalau seluruh perhatian akhirnya hanya tertuju kepada siapa yang memiliki sound system paling besar, kita kehilangan sesuatu yang lebih penting: cerita tentang diri kita sendiri.

Kita kemudian sibuk mengukur desibel, tetapi lupa mengukur nilai.

Sibuk menghitung watt, tetapi lupa menghitung manfaat.

Sibuk membandingkan kendaraan, tetapi lupa bertanya apa yang sedang diwariskan kepada anak-anak.

Padahal kemerdekaan yang setiap tahun kita rayakan tidak lahir dari perlombaan menjadi paling gaduh. Ia lahir dari keberanian, pengorbanan, gotong royong, dan kemampuan manusia menjaga martabat sesamanya.

Maka mungkin sudah waktunya karnaval desa kita berhenti bertanya, "Bagaimana supaya lebih ramai?"

Mari kita mulai bertanya:

"Bagaimana supaya lebih bermakna?"

Tidak semua yang ramai harus kita benci. Tidak semua yang modern harus kita curigai. Tetapi tidak semua yang viral juga layak kita wariskan.

Karnaval adalah wajah desa ketika jalan raya menjadi panggung bersama.

Jangan sampai wajah itu hanya menunjukkan seberapa keras kita mampu bersuara, tetapi tidak lagi menunjukkan seberapa dalam kita mampu menghargai sesama.

Sebab kebudayaan pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling mampu membuat orang lain menoleh.

Kebudayaan adalah tentang apa yang membuat kita masih mengenali diri sendiri setelah keramaian selesai.

Dan ketika truk-truk itu akhirnya pulang, lampu dipadamkan, musik berhenti, jalan kembali sepi, yang tersisa seharusnya bukan hanya telinga yang berdenging dan sampah yang berserakan.

Yang tersisa semestinya adalah sebuah cerita.

Bahwa malam itu desa pernah merayakan dirinya sendiri dengan cara yang membuat semua orang merasa menjadi bagian darinya.

Bagikan:

Diskusi & Tanggapan (0)