![]() |
| Ilustrasi: AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi |
Oleh: As’ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa
Sore di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, seharusnya menjadi bagian biasa dari perjalanan pulang. Sebelas pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya baru menyelesaikan pekerjaan mereka di lapangan. Ada bantuan ternak yang telah disalurkan. Ada lahan cetak sawah yang telah ditinjau. Ada pekerjaan pelayanan yang menunggu diselesaikan sebelum mereka kembali ke Wamena.
Namun pada Rabu, 9 September 2026, perjalanan itu berhenti di tengah jalan.
Sekitar pukul 15.53 WIT, rombongan tersebut diserang kelompok bersenjata. Tiga pegawai menjadi korban penembakan. Mereka adalah Aprida Rapi, 49 tahun, Alfonsius Albinus Mehan, 35 tahun, dan Wili Mbuik, yang dalam sejumlah laporan disebut berusia sekitar 24-26 tahun. Aprida merupakan pejabat bidang peternakan Dinas Pertanian Jayawijaya. Alfonsius bekerja sebagai dokter hewan, sedangkan Wili merupakan pegawai muda di lingkungan pemerintah daerah.
Mereka datang bukan membawa senjata.
Mereka datang membawa pekerjaan.
Ada bantuan anak babi yang harus sampai kepada masyarakat. Ada program pertanian yang harus diperiksa. Ada urusan pangan yang harus dikerjakan di wilayah pedalaman. Kementerian Pertanian kemudian menyebut ketiganya sebagai petugas yang gugur ketika menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Tetapi jalan pulang mengubah semuanya.
Dari Tugas Lapangan Menjadi Perjalanan Terakhir
Rombongan sebelas orang itu bergerak dari Wamena menuju wilayah Distrik Muliama. Setelah menyelesaikan kegiatan di lapangan, mereka kemudian melakukan perjalanan kembali. Menurut keterangan aparat yang dikutip sejumlah media, rombongan tersebut diserang dalam perjalanan.
Tiga korban mengalami luka tembak. Aprida dan Alfonsius meninggal dunia akibat luka yang mereka alami. Wili sempat dievakuasi ke RSUD Wamena, tetapi nyawanya tidak tertolong. Delapan anggota rombongan lainnya berhasil menyelamatkan diri.
Di sinilah angka sebelas orang terasa berbeda maknanya.
Sebelas bukan lagi sekadar jumlah pegawai dalam sebuah rombongan. Ia menjadi jumlah orang yang berangkat bersama dan tidak seluruhnya kembali dengan keadaan yang sama.
Tiga keluarga menerima kabar duka. Tiga rumah berubah menjadi rumah duka. Tiga perjalanan pulang harus dilanjutkan dengan pesawat yang membawa jenazah menuju kampung halaman.
Aprida akhirnya dipulangkan ke Tana Toraja. Alfonsius dibawa ke Maumere, Nusa Tenggara Timur. Wili juga dipulangkan ke Kupang. Jarak geografis yang dahulu mereka tempuh untuk bekerja di Papua Pegunungan kini ditempuh kembali oleh jenazah mereka.
Ada ironi yang sulit diabaikan.
Mereka datang ke Papua Pegunungan sebagai pekerja pelayanan publik. Mereka menjalankan tugas yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Tetapi mereka meninggalkan wilayah itu bukan karena masa tugas selesai, melainkan karena nyawa mereka direnggut di tengah perjalanan.
Pekerjaan yang seharusnya berakhir dengan laporan kegiatan berakhir dengan pemulangan jenazah.
Ketika Pelayanan Sipil Masuk ke Wilayah Kekerasan
Konflik bersenjata selalu memiliki persoalan yang lebih panjang daripada suara tembakan itu sendiri.
Ketika kekerasan terjadi di jalan, yang terancam bukan hanya orang yang sedang berada di dalam kendaraan. Ada sistem pelayanan yang ikut terganggu. Ada guru yang mungkin harus berpikir ulang untuk pergi ke tempat tugas. Ada tenaga kesehatan yang harus menghitung risiko perjalanan. Ada pedagang dan sopir yang tetap membutuhkan jalan untuk mencari nafkah. Ada petugas pemerintah yang harus memilih antara menyelesaikan pekerjaan dan menjaga keselamatan diri.
Dalam kasus Muliama, para korban sedang menjalankan pekerjaan yang berhubungan dengan pangan dan peternakan masyarakat.
Jika petugas pertanian tidak dapat menjangkau masyarakat karena takut diserang, yang terganggu bukan hanya birokrasi pemerintah. Program pertanian, distribusi bantuan, pendampingan peternakan, dan berbagai pekerjaan pelayanan di lapangan juga ikut terancam.
Konflik akhirnya tidak hanya memisahkan manusia berdasarkan kelompok. Ia juga membuat jalan menuju pelayanan menjadi semakin panjang.
Padahal masyarakat di pedalaman tetap membutuhkan pangan. Tetap membutuhkan pendampingan. Tetap membutuhkan layanan kesehatan, pendidikan, pertanian, transportasi, dan kebutuhan dasar lainnya.
Mereka tidak berhenti membutuhkan negara hanya karena wilayah tempat tinggal mereka berada dalam situasi keamanan yang sulit.
Sebuah Tuduhan yang Tidak Mengembalikan Nyawa
Setelah penembakan, kelompok yang mengatasnamakan TPNPB mengklaim bertanggung jawab dan menuduh para korban sebagai agen intelijen militer yang menyamar.
Klaim tersebut merupakan pernyataan sepihak. Aparat Indonesia menyatakan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan pelaku dan rangkaian peristiwa secara lebih lengkap. Karena itu, tuduhan mengenai identitas korban sebagai agen intelijen tidak semestinya diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti.
Di titik inilah tragedi Muliama menyentuh persoalan yang lebih mendasar.
Seandainya seseorang benar-benar dicurigai melakukan kejahatan, apakah tuduhan itu dengan sendirinya memberikan hak kepada siapa pun untuk menjatuhkan hukuman mati di jalan?
Pertanyaan tersebut tidak membutuhkan jawaban berdasarkan siapa yang ditembak atau siapa yang memegang senjata. Ia menyangkut prinsip paling dasar dalam kehidupan manusia: tuduhan bukanlah putusan pengadilan.
Apalagi dalam kasus ini, para korban adalah pegawai sipil yang menurut keterangan pemerintah sedang menjalankan tugas pertanian. Tidak ada dasar bagi masyarakat untuk menerima begitu saja klaim bahwa mereka merupakan agen intelijen hanya karena kelompok bersenjata menyatakannya.
Sebuah klaim tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena disampaikan setelah seseorang meninggal.
Dan yang paling menyedihkan, apa pun tuduhan yang dilemparkan setelah penembakan tidak akan mengembalikan tiga nyawa yang telah hilang.
Yang Mati Bukan Hanya Tiga Orang
Kematian tiga pegawai pertanian itu juga meninggalkan pertanyaan tentang masa depan pelayanan publik di wilayah rawan konflik.
Bagaimana seorang pegawai pemerintah bisa bekerja dengan tenang jika perjalanan menuju masyarakat menjadi ancaman?
Bagaimana program pangan dapat berjalan jika kendaraan pembawa bantuan harus melewati jalan yang membuat setiap perjalanan terasa seperti mempertaruhkan nyawa?
Dan bagaimana masyarakat pedalaman mendapatkan pelayanan jika orang-orang yang ditugaskan melayani mereka akhirnya memilih tidak datang karena alasan keselamatan?
Pertanyaan itu tidak berarti bahwa masyarakat Papua harus dipandang sebagai wilayah yang hanya berisi ancaman. Justru sebaliknya. Ia menunjukkan betapa pentingnya menciptakan keadaan yang memungkinkan masyarakat dan pelayan publik bertemu tanpa rasa takut.
Sebab pelayanan publik pada dasarnya adalah perjumpaan.
Petugas datang membawa program. Masyarakat menerima manfaat. Pemerintah memperoleh laporan. Kegiatan berlanjut. Begitulah semestinya siklus pembangunan berjalan.
Ketika kekerasan memutus perjalanan tersebut, yang hilang bukan hanya rasa aman. Yang ikut hilang adalah kesempatan masyarakat menerima pelayanan.
Seminggu Kemudian, Jalan Kembali Memakan Korban
Belum genap sepekan sejak tragedi Muliama, kabar kekerasan kembali datang dari wilayah yang tidak terlalu jauh dari jalur kehidupan masyarakat Wamena.
Pada Selasa, 15 September 2026, seorang sopir bernama Aris Sanda dilaporkan tewas setelah kendaraan yang dibawanya dihadang kelompok bersenjata di jalur Trans Wamena-Nduga. Aparat kemudian menemukan kendaraan dalam keadaan terbakar bersama jenazah pengemudinya.
Kelompok TPNPB juga mengklaim bertanggung jawab dan kembali menuduh korban sebagai agen intelijen yang menyamar. Namun detail kronologi dan identitas pelaku masih menjadi bagian dari penyelidikan aparat.
Peristiwa ini membuat tragedi Muliama terasa semakin dekat.
Sebab kali ini yang menjadi korban bukan pegawai pertanian yang sedang membawa bantuan, melainkan seorang sopir yang menghidupi dirinya melalui jalan.
Di wilayah seperti Papua Pegunungan, jalan bukan sekadar aspal dan tanah yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain. Jalan adalah urat nadi. Di atasnya ada penumpang, bahan makanan, obat-obatan, kebutuhan sehari-hari, dan orang-orang yang hendak pulang menemui keluarganya.
Jika jalan berubah menjadi tempat yang membuat warga takut melintas, kehidupan sehari-hari ikut tercekik.
Mereka Seharusnya Pulang Membawa Cerita
Barangkali yang paling menyedihkan dari tragedi ini adalah kesederhanaan tugas yang mereka jalankan.
Aprida seharusnya pulang membawa cerita tentang pekerjaan peternakan. Alfonsius seharusnya kembali sebagai dokter hewan yang baru menyelesaikan tugas lapangan. Wili seharusnya pulang sebagai pekerja muda yang masih memiliki banyak perjalanan pengabdian di depan mata.
Mereka seharusnya kembali membawa laporan.
Bukan peti jenazah.
Mereka seharusnya kembali kepada keluarga dengan pakaian kerja yang penuh debu perjalanan.
Bukan dengan kabar kematian yang datang dari tempat jauh.
Di balik setiap angka korban, ada manusia. Ada keluarga yang menunggu. Ada pekerjaan yang belum selesai. Ada teman kantor yang masih menyimpan percakapan terakhir. Ada masyarakat yang mungkin masih mengingat bantuan yang mereka bawa.
Karena itu, tragedi Muliama tidak seharusnya berhenti sebagai angka dalam laporan keamanan.
Ia adalah cerita tentang bagaimana kekerasan mengambil nyawa orang-orang yang sedang bekerja.
Tentang bagaimana konflik bersenjata dapat menjalar hingga ke pekerjaan paling sederhana: mengantar bantuan, memeriksa lahan, merawat ternak, mengemudikan kendaraan, dan mencari nafkah.
Dan tentang satu hal yang semestinya tidak boleh hilang dari pembicaraan mengenai Papua: masyarakat sipil tetaplah manusia, apa pun suku, asal daerah, pekerjaan, atau posisi mereka.
Mereka berhak pulang.
Mereka berhak bekerja tanpa ditembak.
Dan mereka berhak hidup tanpa harus membuktikan terlebih dahulu bahwa mereka bukan musuh.
Tiga pegawai pertanian itu tidak pernah sampai ke Wamena pada sore 9 September.
Mereka telah menyelesaikan pekerjaan untuk masyarakat.
Tetapi perjalanan pulang menjadi perjalanan terakhir mereka.
Di jalan-jalan yang menghubungkan pedalaman Papua Pegunungan, mungkin pertanyaan paling mendesak hari ini bukan siapa yang paling keras mengklaim kebenaran.
Melainkan kapan jalan kembali menjadi jalan.
Tempat orang berangkat membawa bantuan, bekerja, mencari nafkah, lalu pulang kepada keluarga dengan selamat.
