Sekretaris Umum PD IPM Lamongan As’ad Fauzuddin Khunaifi saat menjadi keynote speaker dalam pembukaan Musyran PR IPM SMK Muhammadiyah 10 Mantup, Selasa (8/9/2026). (Dok. PR IPM SMKM 10 Mantup) |
MANTUPーSekretaris Umum PD IPM Lamongan As’ad Fauzuddin Khunaifi menjadi keynote speaker dalam pembukaan Musyawarah Ranting (Musyran) PR IPM SMK Muhammadiyah 10 Mantup, Selasa (8/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula SMK Muhammadiyah 10 Mantup tersebut menjadi momentum bagi kader untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan arah kepemimpinan berikutnya.
Di hadapan kader IPM, As’ad mengingatkan bahwa musyawarah tidak berhenti pada proses memilih siapa yang akan menjadi pimpinan. Lebih dari itu, musyawarah menjadi ruang untuk menentukan ke mana organisasi akan dibawa.
“Musyawarah bukan hanya tentang memilih siapa yang menjadi pimpinan, tetapi tentang menentukan ke mana organisasi ini akan berjalan,” ujar As’ad.
Ia kemudian mengajak kader melihat kembali cara organisasi menyusun dan menjalankan program. Menurutnya, rencana dan target memang diperlukan, tetapi IPM tidak boleh terjebak pada rutinitas agenda.
As’ad menceritakan pengalamannya dalam sebuah perjalanan beberapa hari sebelumnya. Rencana yang telah disusun secara detail tetap memungkinkan mengalami perubahan ketika berhadapan dengan kondisi di lapangan.
Menurutnya, hal serupa juga terjadi dalam organisasi. Program kerja yang telah disusun perlu dijalankan dengan tetap melihat kebutuhan dan kondisi kader.
“Karena IPM bukan event organizer,” tegasnya.
As’ad menekankan bahwa IPM merupakan organisasi kader dan dakwah. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak semata-mata terletak pada jumlah kegiatan yang terlaksana.
“Yang lebih penting adalah, setelah mengikuti IPM, apakah pelajarnya tumbuh? Apakah kadernya menjadi lebih baik? Apakah dakwahnya terasa?” katanya.
Karena itu, ia berharap pimpinan yang lahir dari Musyran mampu melihat organisasi secara lebih luas. Pertanyaan yang perlu dibangun bukan hanya kegiatan apa yang akan dilaksanakan, tetapi perubahan seperti apa yang ingin diwujudkan bagi kader dan pelajar.
Dalam kesempatan tersebut, As’ad juga mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah dalam proses musyawarah. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari dinamika organisasi, tetapi tidak boleh berujung pada perpecahan.
“Boleh berbeda pendapat dalam musyawarah. Tetapi setelah keputusan ditetapkan, mari kita satukan langkah,” pesannya.
Ia mengajak kader menjalankan Musyran dengan semangat sesuai tema, “Bermusyawarah dalam Ukhuwah, Bergerak dalam Dakwah, Satu Suara, Satu Langkah, Wujudkan IPM Berkemajuan.”
Bagi As’ad, Musyran tidak hanya diharapkan melahirkan pimpinan baru. Forum tersebut juga perlu melahirkan arah gerak, semangat, dan kader-kader baru yang siap melanjutkan dakwah pelajar melalui IPM.
Pembukaan Musyran turut dihadiri Kepala SMK Muhammadiyah 10 Mantup Ahmad Misbahul Rizal, S.Pd.I., dan Ustaz Haedar Al Hafid Robbani selaku pembina IPM. Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan rangkaian agenda Musyran PR IPM SMK Muhammadiyah 10 Mantup.
#M. Afif Fakhruddin