AFK Logo

Ketik kata kunci lalu tekan Enter

Selatan Kembali Sunyi, Utara-Tengah Tetap Dominan

Admin 9/16/2026 07:59:00 PM 0 Komentar
Ilustrasi: AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi

Oleh: As'ad Fauzuddin Khunaifi
Demisioner Sekretaris Umum PD IPM Lamongan Periode 2023-2026 & Pimpinan Konsolidosa

Ketukan palu sidang menandai berakhirnya Musyda XX IPM Lamongan di Perguruan Muhammadiyah Sedayulawas, Sabtu 12 September 2026. Sembilan nama telah ditetapkan sebagai formatur. Dari mereka, Rizqi Farid Al-Husni kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum, Riyanto sebagai Sekretaris Umum, dan M. Dani Fathurrohman sebagai Bendahara Umum periode 2026-2028. Di panggung yang sama, manifesto New Social Movement dititipkan kepada kepemimpinan baru.

Namun, ada satu hal menarik jika komposisi tersebut dibaca dari peta geografis Lamongan. Keterwakilan Selatan kali ini tidak terlihat dalam sembilan formatur terpilih. Peta kepemimpinan kembali bergerak ke kawasan Utara-Tengah.

Sebenarnya, dominasi Utara-Tengah bukan sesuatu yang baru. Sejak dulu, dua kawasan tersebut memiliki basis cabang dan kader yang relatif lebih kuat dalam dinamika IPM Lamongan. Musyda sebelumnya justru menarik karena muncul keterwakilan dari Selatan. Kehadiran kader Selatan dalam kepemimpinan periode 2023-2026 membuat komposisi saat itu terlihat lebih lintas wilayah.

Tetapi jika dibaca lebih jauh, keterwakilan Selatan pada periode sebelumnya juga tidak sepenuhnya menunjukkan perubahan struktur kekuatan. Ia lebih tepat disebut sebagai sebuah ketepatan momentum, atau dalam bahasa sederhana, kebetulan politik organisasi yang mempertemukan kader Selatan dengan kebutuhan kepemimpinan saat itu.

Pada periode 2023-2026, Dimas Julian Arman dari Paciran berada sebagai Ketua Umum. Saya sendiri dari Mantup menjadi Sekretaris Umum, sementara Bendahara Umum berasal dari kawasan Lamongan Kota. Secara geografis, tiga posisi utama itu memang tersebar di Utara, Selatan, dan Tengah.

Musyda XX mengubah kembali susunan tersebut. Bukan karena Selatan kehilangan sesuatu yang sebelumnya sudah menjadi kekuatan tetap, melainkan karena keterwakilan Selatan yang sempat muncul kini tidak berlanjut. Peta itu kembali memperlihatkan kenyataan lama: Utara dan Tengah masih menjadi pusat utama kekuatan kaderisasi IPM Lamongan.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik.

Selatan Lamongan sebenarnya membutuhkan perhatian yang lebih serius. Bukan karena kader Selatan harus dipaksakan masuk ke dalam struktur pimpinan. Bukan pula karena setiap kawasan harus mendapatkan jatah kursi. Musyda memilih kader berdasarkan proses dan pertimbangan organisasi, bukan membagi jabatan berdasarkan peta wilayah.

Namun, ketika satu kawasan terus menerus lebih kuat daripada kawasan lain, organisasi perlu bertanya mengapa ketimpangan itu terjadi.

Jika kawasan Utara seperti Solokuro, Brondong, dan Paciran dihitung sebagai satu hamparan kekuatan, jumlah dan basis kadernya menjadi sangat signifikan. Ketiga cabang itu saja memiliki daya yang hampir menyamai keseluruhan cabang dari kawasan lainnya. Artinya, secara objektif, Selatan memang menghadapi pekerjaan rumah yang jauh lebih besar.

Sementara itu, Selatan tidak memiliki modal yang sama.

Bukan berarti Selatan tidak memiliki kader. Bukan berarti tidak ada potensi. Persoalannya adalah bagaimana potensi itu tumbuh menjadi kekuatan organisasi yang konsisten. Sebab dalam organisasi pelajar, kekuatan tidak lahir hanya ketika Musyda berlangsung. Ia dibangun jauh sebelumnya melalui perkaderan, keberanian tampil, tradisi diskusi, konsolidasi antarcabang, dan kemampuan membaca kebutuhan organisasi.

Musyda hanya memperlihatkan hasil dari proses yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, absennya keterwakilan Selatan dalam sembilan formatur bukan semata-mata soal siapa yang terpilih dan siapa yang tidak. Ia bisa menjadi cermin bagi Selatan untuk melihat dirinya sendiri. Apakah kaderisasi sudah cukup kuat? Apakah cabang-cabang di Selatan sudah saling terhubung? Apakah kader potensial sudah diberi ruang untuk tumbuh? Atau selama ini Selatan memang belum memiliki ekosistem yang mampu melahirkan kader sampai ke level kabupaten?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekadar memperdebatkan asal daerah para formatur.

Di sisi lain, kepemimpinan baru juga mempunyai tanggung jawab untuk tidak membaca Lamongan hanya dari wilayah yang selama ini paling aktif terlihat. New Social Movement tidak cukup berhenti sebagai manifesto yang dibacakan di forum Musyda. Ia harus diuji ketika organisasi bergerak ke ruang-ruang yang selama ini belum menjadi pusat perhatian.

Utara dan Tengah mungkin menjadi pusat kekuatan. Tetapi IPM Lamongan tidak hanya terdiri dari Utara dan Tengah.

Justru karena Selatan relatif lebih lemah, perhatian organisasi terhadap wilayah itu semestinya lebih besar. Bukan untuk mengistimewakan Selatan, melainkan untuk membangun keseimbangan. Sebab organisasi yang sehat bukan hanya organisasi yang mampu menjaga pusat kekuatannya, tetapi juga mampu menumbuhkan wilayah yang belum sekuat pusat.

Pada akhirnya, Musyda XX tidak sedang membuat peta baru sepenuhnya. Ia justru memperlihatkan kembali peta lama dengan satu catatan penting: Selatan belum berhasil mempertahankan momentum keterwakilan yang sempat muncul pada periode sebelumnya.

Maka pekerjaan rumahnya bukan sekadar bagaimana suatu hari nanti ada lagi kader Selatan yang masuk formatur. Pekerjaan yang lebih mendasar adalah bagaimana Selatan memiliki cukup banyak kader yang layak dipertimbangkan, cukup kuat dalam kapasitas, cukup matang dalam pengalaman, dan cukup terhubung dengan kebutuhan organisasi sehingga keterwakilan itu tidak lagi bergantung pada momentum.

Sebab jika suatu kawasan hanya hadir ketika kebetulan ada satu nama yang menembus struktur, maka yang perlu dibicarakan bukan kursinya. Yang perlu dibangun adalah ekosistem kadernya.

Musyda telah selesai. Struktur baru telah terbentuk. Peta Utara-Tengah kembali terlihat dominan.

Kini pertanyaannya sederhana, tetapi tidak ringan: kapan Selatan mampu membangun kekuatannya sendiri?

Bagikan:

Diskusi & Tanggapan (0)