AFK Logo

Ketik kata kunci lalu tekan Enter

Palu Telah Diketuk, Kemudi Sudah Berpindah

Admin 10/03/2026 02:32:00 AM 0 Komentar

Domisioner PD IPM Kabupaten Lamongan Periode 2023-2026

Oleh: As’ad Fauzuddin Khunaifi
Domisioner Sekretaris Umum PD IPM Kabupaten Lamongan Periode 2023-2026

Ada satu fase dalam organisasi yang sering kali membuat orang bingung. Musyawarah sudah selesai, kepemimpinan baru sudah terbentuk, tetapi pelantikan belum dilaksanakan. Lalu muncul pertanyaan: siapa sebenarnya yang sedang memegang kemudi?

Bagi saya, jawabannya sederhana.

Kemudi itu sudah berpindah.

Saya merasakannya sendiri setelah Musyawarah Daerah XX IPM Lamongan di Perguruan Muhammadiyah Sedayulawas, September 2026 lalu. Musyda bukan sekadar forum untuk memilih siapa yang akan mengisi struktur baru. Ia juga menjadi penanda bahwa satu periode telah selesai dan periode berikutnya mulai berjalan.

Dalam forum tersebut, saya masih membawa amanah sebagai Sekretaris Umum PD IPM Lamongan periode 2023-2026. Bahkan saya mendapat amanah membacakan Laporan Pertanggungjawaban sebanyak 84 halaman di hadapan musyawirin.

Lembar demi lembar laporan itu saya bacakan.

Di dalamnya ada perjalanan satu periode. Ada program yang berhasil, ada yang belum selesai, ada keputusan yang pernah kami ambil, ada dinamika yang pernah kami lewati. Semua akhirnya diletakkan di hadapan forum untuk dipertanggungjawabkan.

Ketika laporan itu selesai dibacakan dan diterima oleh musyawirin, bagi saya ada satu hal yang juga selesai.

Amanah kami telah dipertanggungjawabkan.

Kami demisioner.

Bukan karena pelantikan pimpinan baru sudah berlangsung. Bukan pula karena sebuah acara seremonial telah digelar. Tetapi karena forum tertinggi dalam periode itu telah menyelesaikan proses musyawarah dan melahirkan kepemimpinan berikutnya.

Pimpinan Baru Tidak Perlu Menunggu Panggung

Setelah Musyda, kehidupan organisasi tidak mungkin berhenti hanya karena menunggu acara pelantikan.

Surat harus tetap berjalan. Koordinasi harus tetap dilakukan. Program harus dipersiapkan. Persoalan organisasi harus dijawab. Komunikasi dengan pimpinan di atasnya tetap berlangsung.

Karena itu, kepemimpinan baru tidak mungkin hanya menjadi nama yang menunggu dikukuhkan di atas panggung.

Mereka sudah harus bekerja.

Pelantikan tetap penting. Ia menjadi bentuk pengukuhan formal, simbol serah terima amanah, sekaligus momentum syiar organisasi. Tetapi pelantikan bukanlah kelahiran pertama kepemimpinan baru.

Kepemimpinan itu telah lahir melalui mekanisme organisasi yang menghasilkan mereka.

Maka menjadi aneh jika pimpinan lama masih merasa sebagai pengendali hanya karena pelantikan belum dilaksanakan. Lebih aneh lagi jika masa tunggu tersebut dijadikan alasan untuk terus mengambil keputusan yang semestinya sudah menjadi ruang pimpinan baru.

Di sinilah seorang demisioner perlu memahami posisinya.

Saya sudah selesai.

Pimpinan baru sudah mengambil alih.

Pelantikan tinggal menjadi pengukuhan formal atas proses yang telah berjalan.

Sapaan “Sekum” yang Belum Berubah

Meski demikian, ada satu hal kecil yang membuat masa transisi ini terasa lucu.

Beberapa kawan masih menyapa saya dengan sebutan “Sekum”.

Saya memakluminya. Selama tiga tahun, sapaan itu memang melekat. Orang terbiasa mengenal saya dengan posisi tersebut. Tidak mungkin sebuah kebiasaan berubah hanya dalam sehari.

Tetapi bagi saya sendiri, sapaan itu sudah tidak lebih dari kenangan.

Saya bukan lagi Sekretaris Umum PD IPM Lamongan periode 2023-2026.

Kalau ada urusan yang menjadi kewenangan pimpinan baru, biarlah mereka yang menyelesaikannya. Kalau ada surat yang harus ditandatangani, biarlah mereka yang bertanggung jawab. Kalau ada keputusan yang harus diambil, biarlah mereka belajar mengambil keputusan.

Bukan karena saya tidak peduli.

Justru karena saya menghargai mereka sebagai pimpinan baru.

Membantu organisasi setelah demisioner bukan berarti terus memegang kendali. Ada perbedaan antara membantu dan mengambil alih. Ada perbedaan antara memberikan pengalaman dan terus merasa paling tahu.

Saya kira, salah satu bentuk penghormatan kepada pemimpin baru adalah memberi mereka ruang untuk memimpin.

Serah Terima Tidak Selalu Menunggu Seremoni

Kita sering membayangkan serah terima kepemimpinan dalam bentuk yang sangat formal. Ada pelantikan, ada prosesi, ada pembacaan SK, ada pemasangan atribut, ada foto bersama.

Semua itu penting sebagai simbol.

Namun kehidupan organisasi tidak hanya berlangsung di atas panggung.

Organisasi bergerak di ruang yang jauh lebih sederhana. Di meja sekretariat, dalam percakapan grup, melalui surat yang masuk, dalam rapat kecil, dan dalam keputusan-keputusan yang harus segera diambil.

Karena itu, transisi kepemimpinan juga harus dipahami secara nyata.

Ketika kepemimpinan baru telah terbentuk melalui Musyda dan mulai menjalankan amanahnya, maka generasi sebelumnya harus memberikan ruang. Jangan menjadikan belum adanya pelantikan sebagai alasan untuk memperpanjang pengaruh.

Sebab jika begitu, pelantikan justru seolah-olah menjadi syarat seseorang boleh benar-benar memimpin.

Padahal pelantikan pada akhirnya adalah pengukuhan.

Yang lebih penting adalah amanah dan kewenangan yang telah lahir melalui proses organisasi.

Belajar Tidak Lagi Menjadi Pengambil Keputusan

Saya kira, bagian tersulit setelah demisioner bukan meninggalkan ruang pimpinan.

Yang sulit adalah membiasakan diri untuk tidak lagi menjadi orang pertama yang mengambil keputusan.

Dulu, ketika ada persoalan, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk mencari jalan keluar. Sekarang, ketika persoalan yang sama datang, saya harus belajar menahan diri.

Bukan berarti tidak boleh memberi pandangan.

Tetapi keputusan itu bukan lagi milik saya.

Ini bagian dari regenerasi yang sering tidak terlihat. Pergantian kepemimpinan bukan hanya mengganti nama dalam struktur. Ia juga membutuhkan perubahan perilaku dari orang-orang yang berada di luar struktur.

Generasi lama harus tahu kapan berbicara.

Dan yang tidak kalah penting, harus tahu kapan diam.

Sebab kalau pimpinan baru terus dibayangi oleh orang lama, mereka tidak pernah benar-benar memiliki ruang untuk tumbuh.

Palu Sudah Diketuk

Saya kemudian kembali mengingat suasana Musyda itu.

84 halaman LPJ sudah selesai dibacakan.

Pertanggungjawaban sudah disampaikan.

Musyawirin telah menerima laporan.

Formatur baru telah terpilih.

Kepemimpinan baru telah terbentuk.

Maka bagi saya, tidak ada alasan untuk terus menggenggam kemudi yang sudah bukan menjadi bagian dari amanah saya.

Pelantikan nanti tentu tetap memiliki makna. Ada kehormatan di dalamnya. Ada simbol serah terima. Ada syiar bahwa sebuah periode baru telah dimulai.

Tetapi bagi saya, ia bukan alasan untuk mengatakan bahwa kepemimpinan baru baru dimulai setelah pelantikan.

Mereka sudah mulai.

Saya sudah selesai.

Dan mungkin, itulah cara paling sederhana untuk menghormati regenerasi.

Bukan dengan terus berdiri di depan mereka sambil mengatakan bagaimana seharusnya organisasi berjalan, tetapi dengan memberikan ruang agar mereka menemukan jalannya sendiri.

Palu telah diketuk.

Mandat telah dipertanggungjawabkan.

Kemudi sudah berpindah.

Sekarang, biarkan kapal itu berlayar dengan nahkoda barunya.

Bagikan:

Diskusi & Tanggapan (0)