![]() |
| As'ad Fauzuddin Khunaifi (Sekretaris Umum PD IPM Kab. Lamongan) |
Ada perjalanan yang sejak awal memang disusun dengan ambisi. Ada target yang dipasang tinggi, strategi yang dirapikan matang-matang, lalu langkah yang dihitung sedemikian rupa demi sampai pada posisi tertentu. Namun hidup rupanya tidak selalu bergerak dengan pola seperti itu. Kadang, justru hal-hal yang paling membekas datang dari jalan yang sama sekali tidak kita rencanakan.
Hari ini, 14 Mei 2026, saya mencoba menoleh sejenak ke belakang. Tepat dua tahun sejak fase penting itu dimulai. Sebuah fase yang pada awalnya tidak pernah benar-benar saya bayangkan: menjadi Sekretaris Umum PD IPM Lamongan periode 2023–2025.
Jika dipikir-pikir, semuanya berjalan begitu saja. Tidak ada ambisi besar untuk mengejar jabatan. Tidak ada upaya menata arah agar akhirnya berada di kursi tersebut. Bahkan, saya sendiri sering merasa bahwa saya hanyalah seseorang yang ikut berjalan di dalam arus, lalu tanpa sadar arus itu membawa saya pada titik yang sekarang.
Mungkin karena itulah, saya selalu merasa ada jarak antara apa yang dipikirkan sebagian orang dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam dunia organisasi, terlebih ketika sudah menyentuh level daerah atau wilayah, orang sering kali terbiasa melihat segala sesuatu dengan kacamata politik. Jabatan dianggap lahir dari lobi. Posisi dianggap hasil kedekatan. Amanah dipahami sebagai kemenangan kelompok tertentu. Akhirnya, ketika seseorang berada di sebuah kursi strategis, prasangka pertama yang muncul biasanya bukan “ia siap bekerja”, melainkan “ia pasti punya permainan”.
Saya tidak menyalahkan cara pandang itu sepenuhnya. Sebab memang ada banyak realitas organisasi yang berjalan demikian. Namun bagi orang-orang yang benar-benar mengenal saya, mereka tahu saya justru termasuk orang yang canggung dengan pola-pola semacam itu. Saya bukan tipe yang lihai memainkan pendekatan politik. Saya terlalu biasa untuk itu.
Barangkali karena sejak awal saya tidak pernah benar-benar mengejar posisi ini, saya bisa menjalankannya dengan lebih tenang. Tidak ada beban utang budi politik. Tidak ada rasa harus membalas kelompok tertentu. Tidak ada juga ketakutan kehilangan citra karena sejak awal saya memang datang apa adanya.
Dan dari situlah saya belajar bahwa amanah sebenarnya bukan tentang siapa yang paling ingin duduk di kursi tertentu, tetapi siapa yang bersedia tetap bertahan ketika kursi itu mulai terasa berat.
Dua tahun ini mengajarkan banyak hal yang sebelumnya tidak saya pahami. Menjadi Sekretaris Umum ternyata bukan sekadar soal administrasi, surat-menyurat, atau mengatur ritme organisasi. Di balik meja yang sering dianggap teknis itu, ada tuntutan untuk tetap tenang di tengah tekanan, tetap jernih di tengah ego banyak kepala, dan tetap berjalan di tengah situasi yang kadang tidak selalu sesuai harapan.
Ada masa ketika tenaga terasa habis. Ada fase ketika pikiran dipenuhi rasa kecewa. Bahkan tidak jarang muncul pertanyaan kecil dalam diri: “Sebenarnya untuk apa sih ini?” Namun semakin dijalani, saya mulai mengerti bahwa organisasi memang bukan tempat mencari kenyamanan. Ia adalah ruang belajar untuk menata diri sendiri.
Saya juga menyadari satu hal penting: tidak semua orang akan memahami proses yang kita jalani. Sebagian hanya melihat hasil akhirnya saja. Mereka melihat nama di struktur, tetapi tidak melihat bagaimana seseorang belajar menahan diri, mengatur waktu, menjaga komunikasi, bahkan mengorbankan banyak hal personal demi memastikan organisasi tetap berjalan.
Padahal sering kali, yang paling melelahkan bukan pekerjaannya, melainkan menjaga hati agar tetap lurus di tengah banyaknya suara dan kepentingan.
Karena itu, saya selalu percaya bahwa jabatan tidak pernah benar-benar mengubah seseorang. Jabatan hanya memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya. Ada yang semakin rendah hati ketika diberi amanah, ada juga yang justru berubah karena terlalu menikmati posisi.
Saya bersyukur masih dipertemukan dengan banyak orang baik selama perjalanan ini. Orang-orang yang bekerja tanpa banyak bicara, yang tetap hadir tanpa harus selalu terlihat, dan yang menjaga organisasi bukan karena ingin dipuji, melainkan karena merasa memiliki.
Mereka membuat saya percaya bahwa organisasi akan selalu punya harapan selama masih ada orang-orang yang bekerja dengan hati.
Kini, ketika perjalanan itu perlahan mendekati ujungnya, saya tidak merasa sedang membawa pencapaian besar. Saya justru merasa sedang belajar menjadi manusia biasa yang diberi kesempatan untuk bertanggung jawab lebih lama dari biasanya.
Dan mungkin memang itu inti terpentingnya.
Bahwa dalam organisasi, pencapaian tertinggi bukanlah seberapa tinggi posisi yang berhasil kita raih, melainkan seberapa utuh kita mampu menjaga diri sendiri selama menjalaninya. Sebab banyak orang berhasil naik ke atas, tetapi tidak semuanya berhasil tetap menjadi dirinya sendiri.
Saya hanya ingin tetap menjadi As’ad yang sama. Tetap berjalan sewajarnya. Tetap membumi. Dan ketika semua ini selesai nanti, saya ingin dikenang bukan karena jabatan yang pernah saya pegang, tetapi karena pernah berusaha menjalankan amanah dengan jujur dan tidak berisik.

Komentar
Posting Komentar