![]() |
| Foto bersama peserta dan tim penguji seusai Ujian Calon Pramuka Penegak Garuda di Pangkalan SMA Negeri 1 Mantup. (Dok. Prasman1m) |
Pada suasana ujian itu saya kembali diingatkan bahwa ada satu kekeliruan yang masih sering muncul di kalangan Pramuka. Banyak yang mengira Pramuka Garuda adalah tingkatan, seolah berada di atas Penegak Laksana. Padahal bukan demikian.
Menurut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 038 Tahun 2017 tentang Petunjuk Penyelenggaraan Pramuka Garuda, Pramuka Garuda merupakan penghargaan tertinggi pada setiap golongan. Ada Siaga Garuda, Penggalang Garuda, Penegak Garuda, hingga Pandega Garuda.
Artinya, Garuda bukan pangkat baru. Ia adalah pengakuan bahwa seseorang telah menunjukkan kualitas yang layak menjadi teladan.
Perbedaan ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki konsekuensi yang besar.
Jika Bantara dan Laksana menunjukkan tingkat kecakapan yang harus ditempuh oleh setiap Penegak, maka Garuda adalah pengakuan atas karakter yang telah dibangun selama proses itu berlangsung.
Karena itu, ketika seseorang menyematkan Tanda Pramuka Garuda di seragamnya dan mengenakan Lencana Garuda di lehernya, sesungguhnya ia sedang memikul beban yang jauh lebih berat daripada sekadar mengenakan sebuah lencana.
Ia sedang membawa kepercayaan.
Dalam proses pengujian, peserta tidak hanya diuji tentang pengetahuan. Mereka juga melewati berbagai tahapan, mulai dari tes tertulis mengenai UUD NRI Tahun 1945, Undang-Undang Gerakan Pramuka, dan AD/ART, kepemimpinan, wawancara bahasa Inggris, teknologi informasi, keorganisasian, kepribadian, hasta karya, hingga diskusi kebangsaan.
Semua itu penting.
Namun saya justru meyakini bahwa bagian yang paling sulit bukanlah menjawab soal ataupun wawancara.
Yang paling sulit adalah mempertahankan karakter setelah dinyatakan lulus.
Sebab menjadi teladan tidak bisa diuji hanya dalam satu hari.
Ia diuji setiap hari.
Saya teringat perkataan Kak Asemah, Pembina Satuan Prasman1m. Beliau mengatakan bahwa apabila seorang Pramuka Garuda kemudian tidak menunjukkan keteladanan, maka yang pertama kali patut dievaluasi bukan Kwartir Ranting ataupun Kwartir Cabang.
Yang paling bertanggung jawab adalah pembinanya.
Sebab pembinalah yang mengamati proses peserta sejak awal, mengenal kehidupan kesehariannya, lalu mengusulkan bahwa ia layak memperoleh penghargaan tersebut.
Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam.
Artinya, Pramuka Garuda bukan sekadar hasil ujian. Ia adalah hasil pembinaan.
Saya juga melihat semangat yang baik dalam proses ini. Dari tujuh belas Dewan Ambalan, lima belas hadir mengikuti ujian calon Pramuka Penegak Garuda. Angka itu menunjukkan bahwa masih ada anak-anak muda yang bersedia menempuh proses yang lebih panjang demi menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun proses itu tidak boleh berhenti ketika tanda Garuda sudah disematkan.
Justru setelah itulah ujian yang sebenarnya dimulai.
Karena masyarakat tidak akan melihat berapa banyak Tanda Kecakapan Khusus yang kita miliki. Mereka juga tidak terlalu peduli berapa banyak Tanda Ikut Serta Kegiatan yang menghiasi lengan baju kita.
Bahkan sebagian besar masyarakat mungkin tidak memahami arti tanda-tanda itu.
Yang mereka lihat adalah perilaku kita.
Bagaimana kita berbicara.
Bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Bagaimana kita bersikap ketika tidak sedang memakai seragam Pramuka.
Sebab seragam hanya dikenakan pada waktu tertentu. Sementara karakter dipakai setiap hari.
Karena itu saya sering berpikir, jika suatu saat tanda-tanda kecakapan itu justru membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, mungkin yang perlu dilepas bukan hanya tandanya, tetapi juga kesombongannya.
Tidak ada gunanya memiliki sederet penghargaan apabila akhlaknya tidak lagi mencerminkan Satya dan Darma Pramuka.
Beberapa tahun lalu saya pernah berada di posisi yang sama sebagai calon Pramuka Penegak Garuda. Kini, ketika mendapat kesempatan menjadi penguji, saya justru semakin menyadari bahwa memperoleh tanda Garuda hanyalah awal. Yang jauh lebih sulit adalah menjaga diri agar tetap layak disebut sebagai teladan.
Yang jauh lebih sulit adalah menjaganya.
Karena predikat itu tidak pernah berhenti mengingatkan saya untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Barangkali itulah makna sesungguhnya dari Pramuka Garuda.
Ia bukan tentang menjadi lebih tinggi daripada yang lain.
Ia adalah pengingat bahwa semakin tinggi penghargaan yang kita sandang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjadi teladan.
Dan keteladanan, sebagaimana karakter, tidak pernah selesai diuji. Ia berlangsung sepanjang kita menjalani kehidupan.
