Kabar Feature Edukasi Lensa
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Mlaku Cepet Tinimbang Mlayu Tapi Keslimpret

Admin Juli 11, 2026 0 Komentar

 

Kiri Fauzi. Kanan Alfito. Terima kasih sudah menjadi bagian dari percakapan yang akhirnya berubah menjadi tulisan. (Dok. Pribadi As'ad Fauzuddin Khunaifi)

oleh: As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa

Agak siang itu kami duduk di Kaopen, Mantup. Tidak ada agenda besar. Hanya ngopi bertiga seperti biasanya - saya, Alfito, dan Fauzi.

Kalau kami bertemu, obrolannya jarang jauh dari refleksi. Kadang membahas diri sendiri, kadang membahas orang lain, kadang membahas sesuatu yang baru saja kami lihat di jalan. Dari obrolan-obrolan sederhana itu, hampir selalu lahir satu kalimat yang layak disimpan.

Alfito biasanya yang paling sering menemukan simpulan. Saya lebih sering menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami dan saya dengar. Sedangkan Fauzi hampir selalu punya cara berbeda melihat semuanya. Kalimat yang paling sering ia ucapkan adalah, "Kullu min Allah." Semuanya dari Allah.

Entah bagaimana awalnya, Alfito bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya ia mencari salah satu kebutuhan motornya ke Balongpanggang. Logikanya sederhana. Kalau Balongpanggang yang tokonya paling besar tidak punya, ya kemungkinan tempat lain di sekitar sini juga tidak punya.

Barang itu memang tidak ada.

Daripada pulang, ia mencoba mencari ke Dawar. Di tengah perjalanan, ia melihat seseorang yang motornya mogok karena kehabisan bensin. Orang itu terlihat panik karena sedang terburu-buru. Tanpa banyak berpikir, Alfito menyetut motornya sampai memperoleh bensin.

Setelah selesai membantu, ia melanjutkan perjalanan ke Dawar.

Hasilnya sama. Barang yang dicari tetap tidak ada.

Akhirnya ia pulang dan membeli secara daring.

Lalu ia mengutarakan pertanyaan dalam pikirannya, "Kalau akhirnya beli online juga, kenapa tidak dari awal?"

Kami semua diam beberapa detik.

Jawabannya justru bukan soal barang.

Kalau dari awal membeli secara daring, mungkin Alfito tidak akan melewati jalan itu. Tidak akan bertemu orang yang kehabisan bensin. Tidak akan menyetutnya. Tidak akan menjadi bagian dari pertolongan kecil yang hari itu memang sedang dibutuhkan seseorang.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya.

Kenapa harus Alfito?

Di jalan itu pasti ada banyak orang.

Kenapa justru dia yang dipilih menjadi perantara?

Obrolan kemudian mengalir ke cerita lain yang pernah disampaikan Pak Yuswanjang guru PPKn saya saat di SMP Negeri 2 Mantup.

Suatu hari beliau makan di sebuah warung. Di samping mejanya ada sebuah kantong kresek. Beliau mengira itu hanya sampah atau barang yang tidak penting sehingga tidak pernah benar-benar memedulikannya.

Di sekitar warung ada seorang dengan gangguan jiwa. Ia berkeliaran ke sana kemari. Duduk di kursi, mengorek tempat sampah, lalu diusir berkali-kali oleh pemilik warung.

Sampai akhirnya orang itu duduk di dekat meja yang terdapat kantong kresek tadi.

Ia membuka kantong itu.

Ternyata di dalamnya ada gorengan.

Ia memakannya dengan lahap.

Anehnya, setelah itu tidak ada lagi yang mengusirnya.

Saya sempat bertanya kepada Fauzi, "Kenapa harus diputar-putar dulu? Kenapa orang itu tidak langsung menemukan gorengan itu sejak awal?"

Fauzi hanya tersenyum.

"Kullu min Allah."

Semuanya dari Allah.

Kalimat itu sederhana, tetapi semakin dipikir semakin dalam.

Mengapa seseorang harus melalui jalan memutar sebelum sampai pada rezekinya?

Mengapa seseorang harus dipertemukan setelah waktu yang panjang?

Fauzi kemudian mengaitkannya dengan kami bertiga.

"Kok lagi saiki yo? Wis limang taun lulus SMA, kok malah saiki sing kerep ngumpul. Ngopo ora pas isih sekolah? Ngopo ora setaun utawa rong taun sawise lulus?"

(Kenapa baru sekarang? Sudah lima tahun lulus SMA, justru sekarang yang paling sering berkumpul. Mengapa bukan saat masih sekolah? Mengapa bukan satu atau dua tahun setelah lulus?)

Karena memang tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban manusia.

Sebagian cukup dijawab dengan keyakinan bahwa Allah lebih tahu waktu terbaik mempertemukan manusia dengan manusia, manusia dengan pengalaman, bahkan manusia dengan pelajaran hidupnya.

Saya kemudian menimpali dengan satu kalimat yang tiba-tiba muncul.

"Mlaku cepet tinimbang mlayu tapi keslimpret."

Berjalan cepat lebih baik daripada berlari tetapi terpeleset.

Lalu kami tertawa.

Sebab setelah dipikir-pikir, berjalan pun sebenarnya bisa terpeleset.

Berarti bukan soal berjalan atau berlari.

Melainkan soal bagaimana kita menjaga langkah.

Ada orang yang berlari sangat cepat mengejar sesuatu, tetapi kehilangan banyak hal di sepanjang perjalanan.

Ada pula yang merasa langkahnya lambat, namun justru dipertemukan dengan orang-orang, pengalaman, dan kesempatan yang tidak pernah ia rencanakan.

Barangkali hidup memang seperti itu.

Yang kita anggap sebagai keterlambatan, bisa jadi adalah cara Allah mengatur pertemuan.

Yang kita anggap sebagai jalan memutar, bisa jadi adalah jalan yang harus dilalui agar kita sempat menjadi jawaban atas doa orang lain.

Yang kita anggap sebagai kegagalan mendapatkan sesuatu, bisa jadi justru keberhasilan menjalankan sesuatu.

Karena ternyata hidup tidak selalu tentang apa yang berhasil kita bawa pulang.

Kadang hidup hanya sedang meminta kita lewat di jalan yang benar, pada waktu yang tepat, agar seseorang tidak pulang sendirian.

Dan sore itu kami bertiga sampai pada satu kesimpulan yang sama.

Di dunia ini, barangkali memang tidak ada yang benar-benar kebetulan.

Ada yang kita sebut rencana.

Ada yang kita sebut kebetulan.

Padahal, boleh jadi semuanya hanyalah nama yang kita berikan untuk sesuatu yang sejak awal sudah Allah tetapkan.

Maka, kalau hari ini langkahmu terasa lebih lambat daripada orang lain, jangan buru-buru iri. Bisa jadi Allah sedang mengatur siapa yang akan kamu temui di tikungan berikutnya. Sebab hidup tidak diukur dari seberapa cepat kita sampai, tetapi dari seberapa banyak hikmah yang kita bawa pulang. Dan sering kali, yang paling layak disyukuri bukanlah tujuan yang berhasil dicapai, melainkan alasan mengapa Allah memilih kita untuk melewati jalan itu.

0 COMMENTS

ARTIKEL TERKAIT