![]() |
| Ilustrasi: AI |
As’ad Fauzuddin Khunaifi
Pemuda yang tumbuh dari perbatasan Lamongan Selatan
Rasa malas tidak selalu datang tanpa sebab. Ia kadang muncul karena lelah, baik secara fisik maupun mental. Dalam keadaan seperti itu, istirahat bukan sesuatu yang perlu disalahkan. Tubuh dan pikiran memang punya batas, dan keduanya perlu diberi ruang untuk pulih.
Namun tidak semua malas lahir dari kelelahan. Ada yang datang karena tidak adanya motivasi, tidak adanya tujuan, atau karena rasa tidak lagi terhubung dengan apa yang dijalani. Di titik ini, malas tidak sekadar kondisi, tetapi mulai menjadi pilihan yang dibiarkan.
Tulisan ini berangkat dari percakapan yang muncul setelah pembahasan tentang ringan kaki/enteng sikile sebelumnya. Ada yang menyampaikan bahwa ia mulai jarang hadir bukan semata karena sibuk, tetapi karena merasa tidak ada lagi yang ingin dicapai. Ada yang merasa organisasi tidak lagi memberi dampak apa pun bagi dirinya. Ada pula yang mengatakan bahwa yang tersisa hanya rasa lelah.
Pernyataan-pernyataan itu tidak bisa langsung disalahkan. Ia mungkin lahir dari pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. Dari suasana yang tidak selalu sehat. Atau dari pertemuan dengan orang-orang yang tidak selalu sejalan. Namun di saat yang sama, ada hal lain yang perlu dilihat lebih pelan.
Ada kebiasaan yang sering tidak disadari, menuruti aras. Mengikuti rasa malas yang datang, lalu perlahan membiarkannya menjadi alasan. Ketika ini terjadi, yang awalnya hanya jarang hadir bisa berubah menjadi terbiasa tidak hadir. Yang semula merasa lelah, pelan-pelan merasa tidak perlu lagi terlibat.
Di titik ini, sering muncul apa yang tampak sebagai pembenaran. Sibuk dijadikan alasan yang paling aman. Tidak cocok dijadikan alasan yang paling masuk akal. Bahkan rasa lelah dijadikan alasan yang paling sulit dibantah. Padahal tidak semua itu benar-benar menjadi sebab utama. Ada kalanya itu hanya bentuk lain dari berkurangnya kemauan.
Masalahnya tidak berhenti pada satu orang. Ketika kebiasaan ini dibiarkan, ia mulai menular. Yang lain melihat, lalu merasa wajar untuk melakukan hal yang sama. Lama-kelamaan, tidak hadir menjadi sesuatu yang dimaklumi. Tanggung jawab tidak lagi terasa mendesak. Dan organisasi berjalan dengan ritme yang semakin melemah.
Di sisi lain, memang ada keadaan yang tidak selalu ideal. Ada sikap yang kurang berkenan. Ada cara yang tidak selalu tepat. Ada kata-kata yang mungkin melukai tanpa disadari. Semua itu nyata, dan tidak perlu ditutup-tutupi. Namun jika setiap ketidaksukaan langsung diikuti dengan menarik diri, maka yang tersisa hanya jarak yang semakin lebar.
Ada yang memilih diam dan tidak peduli. Ada yang tetap hadir, tetapi sekadar ada. Ada yang mencoba membenahi, namun justru dicurigai memiliki maksud lain, yang sering disederhanakan sebagai gerakan tambahan. Dalam suasana seperti ini, tidak mudah menjaga keseimbangan.
Paksaan tidak banyak membantu. Aturan, seketat apa pun, sering kali hanya bekerja di permukaan. Ia tidak menyentuh kemauan, apalagi kesadaran. Yang dibutuhkan bukan sekadar kehadiran, tetapi kesediaan untuk tetap mengusahakan, meski tidak selalu nyaman.
Barangkali yang lebih mendasar bukan soal siapa yang salah terlebih dahulu. Tetapi bagaimana seseorang memaknai perannya. Apakah tetap berjalan ketika masih mampu, atau berhenti karena merasa tidak lagi mendapatkan apa-apa.
Tidak semua hal bisa segera diperbaiki. Tidak semua keadaan bisa langsung menjadi ideal. Namun ada satu hal yang tetap bisa dijaga, yaitu bagaimana seseorang menyikapi dirinya sendiri. Ketika rasa malas datang karena lelah, ia bisa dipahami. Tetapi ketika ia tumbuh dari rasa tidak suka, mungkin ia perlu dilawan, bukan dirawat.
Pada akhirnya, organisasi mungkin tidak selalu memberi apa yang diharapkan. Kadang tidak menghadirkan dampak yang terasa cepat. Bahkan bisa saja lebih sering menghadirkan lelah daripada hasil. Namun jika semua itu menjadi alasan untuk berhenti sepenuhnya, yang perlahan hilang bukan hanya peran, tetapi juga arah.
Dan mungkin di situ, yang sebenarnya sedang diuji bukan organisasinya, tetapi bagaimana seseorang menjaga tanggung jawabnya, bahkan ketika tidak lagi melihat hasil yang ingin dicapai.
.png)
Komentar
Posting Komentar