Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Muhammadiyah Mantup di Zona Tidak Nyaman

Admin Juli 02, 2026 0 Komentar

 

(Ilustrasi: AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi)

As'ad Fauzuddin Khunaifi
MPID PCM Mantup, Wakil Ketua PCPM Mantup Bidang Hukum & HAM, Ketua PRM Rumpuk

Menjaga sesuatu agar tetap hidup memang tidak mudah. Apalagi ketika zaman terus bergerak, sementara organisasi merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki. Di titik inilah kita perlu jujur bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar sedang berkembang, atau sesungguhnya hanya sedang bertahan?

Pertanyaan itu layak kita ajukan kepada Muhammadiyah Mantup.

Selama lebih dari tiga dekade sejak berdiri sebagai cabang mandiri pada tahun 1990, Muhammadiyah Mantup telah melahirkan banyak amal dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Tidak sedikit tokoh, guru, mubalig, dan kader yang tumbuh dari rahim persyarikatan ini. Semua itu patut disyukuri.

Namun rasa syukur tidak boleh membuat kita kehilangan keberanian untuk melakukan evaluasi.

Masih ada empat desa di Kecamatan Mantup yang belum memiliki ranting Muhammadiyah. Artinya, dari lima belas desa, baru sebelas yang berhasil disentuh oleh gerakan persyarikatan. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi penanda bahwa masih ada ruang dakwah yang menunggu untuk digarap.

Di sisi lain, aktivitas Muhammadiyah masih banyak bertumpu pada pengajian, kajian rutin, dan kegiatan keagamaan. Semua itu merupakan jantung gerakan Muhammadiyah dan tidak boleh ditinggalkan. Akan tetapi, Muhammadiyah sejak awal tidak pernah dibangun hanya sebagai penyelenggara pengajian. Persyarikatan ini lahir dengan misi yang jauh lebih luas: pendidikan, kesehatan, ekonomi, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan masyarakat.

Di sinilah kegelisahan itu muncul.

Beberapa amal usaha pendidikan masih berjuang keras mempertahankan eksistensinya. Pondok pesantren yang dibangun dengan niat mulia sering kali harus menghadapi tantangan pembiayaan yang tidak ringan. Di sisi lain, aset wakaf yang dimiliki persyarikatan masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan menjadi kekuatan ekonomi.

Padahal, aset bukan hanya sesuatu yang dijaga, tetapi juga harus dikelola agar menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

Muhammadiyah Mantup sesungguhnya memiliki modal yang tidak sedikit. Lahan wakaf tersedia. Jamaah memiliki semangat gotong royong yang luar biasa. Setiap pembangunan selalu memperlihatkan bagaimana masyarakat rela menyumbangkan tenaga, pikiran, bahkan hartanya. Sayangnya, semangat membangun fisik belum selalu diikuti dengan perencanaan jangka panjang mengenai bagaimana bangunan tersebut dapat hidup, berkembang, dan menopang persyarikatan.

Akibatnya, tidak sedikit energi yang habis untuk mempertahankan sesuatu yang sudah ada, sementara ruang-ruang baru belum berhasil dibuka.

Di bidang ekonomi, misalnya, hingga hari ini belum terlihat adanya amal usaha yang benar-benar menjadi penyangga kemandirian organisasi. Padahal Muhammadiyah di banyak daerah justru tumbuh kuat karena memiliki fondasi ekonomi yang sehat. Amal usaha bukan sekadar tempat pelayanan, melainkan mesin yang menghidupi dakwah.

Hal lain yang juga patut menjadi perhatian adalah media.

Hari ini masyarakat mengenal sebuah organisasi bukan hanya dari kegiatan yang dilakukan, tetapi juga dari bagaimana organisasi tersebut hadir di ruang digital. Banyak kegiatan baik yang berlangsung di Mantup, tetapi gaungnya sering berhenti di lokasi acara. Dokumentasi belum menjadi narasi, dan narasi belum berubah menjadi inspirasi.

Padahal kader-kader muda memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola media secara profesional apabila diberi ruang dan kepercayaan.

Begitu pula dengan organisasi otonom.

Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci, Hizbul Wathan, dan IPM semestinya menjadi mesin yang terus bergerak. Ortom bukan pelengkap struktur organisasi, melainkan ruang tumbuh bagi calon pemimpin Muhammadiyah masa depan. Ketika ortom tidak berkembang secara optimal, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya aktivitas hari ini, melainkan keberlanjutan persyarikatan beberapa puluh tahun mendatang.

Namun regenerasi tidak cukup hanya melalui perkaderan. Regenerasi juga membutuhkan ruang untuk berkarya. Sudah saatnya komposisi majelis dan lembaga tidak hanya didominasi oleh para tokoh senior. Persyarikatan membutuhkan perpaduan antara kebijaksanaan para sesepuh dengan keberanian berinovasi dari kader-kader muda. Demikian pula kader-kader perempuan yang memiliki kapasitas di berbagai bidang, perlu memperoleh ruang yang lebih luas untuk berkontribusi sesuai kompetensinya. Para sesepuh tetap menjadi penuntun arah, sementara majelis dan lembaga menjadi laboratorium bagi lahirnya gagasan-gagasan baru. Regenerasi tidak cukup dipersiapkan, tetapi juga perlu diberi kesempatan untuk memimpin kerja-kerja teknis persyarikatan.

Kegelisahan kader muda sebenarnya bukan pertanda buruk.

Justru kegelisahan adalah tanda bahwa organisasi masih memiliki denyut kehidupan. Sebab organisasi yang benar-benar kehilangan harapan bukanlah organisasi yang dipenuhi kritik, melainkan organisasi yang tidak lagi memiliki orang-orang yang peduli.

Karena itu, Muhammadiyah Mantup membutuhkan lompatan baru.

Lahan wakaf perlu mulai dipandang sebagai aset produktif yang mampu menopang dakwah. Gagasan menghadirkan amal usaha ekonomi, termasuk pengembangan layanan kesehatan seperti klinik Muhammadiyah atau bahkan rumah sakit Muhammadiyah, sudah saatnya diterjemahkan menjadi peta jalan yang terukur. Sekolah dan pondok pesantren perlu didorong memiliki ekosistem ekonomi yang menopang keberlanjutan operasionalnya. Media digital harus menjadi wajah baru dakwah persyarikatan, sementara kader-kader muda diberi kesempatan lebih besar untuk memimpin perubahan di bidang yang mereka kuasai.

Semua itu tentu tidak dapat diwujudkan dalam semalam. Namun setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengakui bahwa masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai.

Muhammadiyah adalah gerakan tajdid. Pembaruan bukan hanya ajaran yang disampaikan kepada masyarakat, tetapi juga keberanian memperbarui cara kita mengelola organisasi sendiri.

Tidak ada yang salah dengan bertahan. Tetapi jika bertahan membuat kita enggan bergerak, maka yang kita pertahankan perlahan justru akan kehilangan daya hidupnya.

Muhammadiyah Mantup memiliki sejarah yang panjang, jamaah yang tulus, aset yang besar, dan kader-kader muda yang penuh energi. Semua modal itu terlalu berharga jika hanya digunakan untuk menjaga keadaan agar tetap sama.

Sudah saatnya kita tidak hanya menjaga Muhammadiyah tetap ada.

Sudah saatnya kita membuat Muhammadiyah Mantup kembali bertumbuh.

0 COMMENTS

RELATED POST