Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Pengajian sebagai Ruang Merawat Gerakan Muhammadiyah

Admin Juli 11, 2026 0 Komentar

 

Suasana Kajian PCM Mantup sabtu, 11/072026 (Dok. As'ad Fauzuddin Khunaifi)

Mantup – Ratusan warga Muhammadiyah dari belasan ranting di Kecamatan Mantup memadati Masjid Al Hajjah Sittul Banat Khalid Ali, Kompleks SMK Muhammadiyah 10 Mantup, Sabtu (11/7/2026) malam. Mereka menghadiri Kajian Islam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mantup bertema Merawat Keberuntungan Dunia Akhirat yang menghadirkan Ustadz H. Ahmad Anas, S.Ag. dari Mojokerto.

Bagi sebagian orang, pengajian mungkin dipahami sebagai forum mendengarkan tausiah. Namun, malam itu Kajian Islam PCM Mantup memperlihatkan fungsi yang lebih luas. Pengajian menjadi ruang bertemunya warga Persyarikatan, mempererat silaturahmi, menyampaikan arah gerakan organisasi, sekaligus meneguhkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam bermuhammadiyah.

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Rehan dan Hisyam, santri Pondok Pesantren Gua Landak Muhammadiyah Mantup, kemudian dilanjutkan sambutan Ketua PCM Mantup, H. Ja'far Shodiq, S.Ag. Dalam laporannya, ia menyampaikan perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di lingkungan PCM Mantup.

Ja'far menjelaskan bahwa seluruh AUM bidang pendidikan saat ini sedang menjalani proses revitalisasi untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus menyambut tahun ajaran baru. Ia juga menyampaikan kabar diterimanya tanah wakaf baru di Desa Sumberagung yang diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan amal usaha Muhammadiyah pada masa mendatang.

Menurutnya, lahan tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah sebagai layanan kesehatan bagi masyarakat. Apabila rencana tersebut belum dapat diwujudkan, lahan itu dapat dimanfaatkan sebagai lokasi relokasi SMP Muhammadiyah 22 Mantup.

Di balik laporan organisasi tersebut, tersimpan pesan bahwa pengajian tidak hanya menjadi tempat menyampaikan ilmu agama, tetapi juga media komunikasi antara pimpinan Persyarikatan dengan warganya. Jamaah tidak hanya memperoleh siraman rohani, tetapi juga mengetahui perkembangan, tantangan, dan cita-cita yang sedang diperjuangkan bersama.

Pesan spiritual itu kemudian dipertegas melalui ceramah Ustadz H. Ahmad Anas. Ia mengajak jamaah memahami bahwa keberuntungan dunia dan akhirat berawal dari tauhid yang kokoh. Menurutnya, Alhamdulillah bukan sekadar ungkapan syukur, melainkan pengakuan bahwa seluruh pujian dan nikmat adalah milik Allah SWT.

"Yang paling penting bukan mengagumi nikmatnya, tetapi mengingat siapa pemilik nikmat itu," ujarnya.

Ahmad Anas juga mengingatkan bahwa seluruh yang dimiliki manusia hanyalah titipan Allah SWT. Dengan kesadaran tersebut, seorang muslim akan lebih mudah bersyukur ketika menerima nikmat dan lebih lapang ketika menghadapi kehilangan. Tauhid yang kuat, menurutnya, akan melahirkan amal saleh dan menjadikan setiap aktivitas sebagai bagian dari ibadah.

Bagi Muhammadiyah, nilai-nilai tersebut tidak berhenti pada ranah pribadi. Tauhid menjadi fondasi lahirnya amal nyata melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan kesehatan. Karena itu, pengajian bukan sekadar forum menambah pengetahuan agama, melainkan ruang untuk menyatukan pemahaman, menguatkan kebersamaan, dan menumbuhkan semangat berkhidmat bagi umat.

Kajian Islam PCM Mantup malam itu memperlihatkan bahwa gerakan Muhammadiyah tumbuh melalui majelis-majelis ilmu yang terus hidup di tengah masyarakat. Dari forum seperti inilah dakwah diperkuat, gagasan dipertemukan, dan cita-cita Persyarikatan dirawat bersama. Pengajian akhirnya bukan hanya menjaga hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga menjaga denyut gerakan Muhammadiyah agar terus memberi manfaat bagi umat dan bangsa.

#As'ad Fauzuddin Khunaifi

0 COMMENTS

RELATED POST