Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa Pustaka
• Buku Pedoman • Format Surat • Logo IPM • Materi
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Amanah yang Kita Ringankan, Komitmen yang Kita Tinggalkan

|
Mei 03, 2026 Admin AFK

As'ad Fauzuddin Khunaifi

Masalah utama organisasi hari ini bukan kekurangan orang pintar. Bukan juga kekurangan ide besar. Kita punya banyak gagasan, banyak forum diskusi, bahkan banyak orang yang mampu berbicara panjang lebar tentang perubahan. Tapi di balik itu semua, ada satu hal yang pelan-pelan hilang yakni komitmen.

Tidak ada rasa memiliki. Organisasi hanya jadi tempat singgah. Datang saat dibutuhkan, pergi saat tidak lagi memberi manfaat. Ia tidak lagi dipandang sebagai ruang perjuangan, tapi sekadar batu loncatan.

Fenomena ini bukan sesuatu yang jauh. Kita bisa melihatnya di sekitar kita. Rapat yang sepi, kehadiran yang tidak pernah penuh, orang-orang yang selalu itu-itu saja. Nama banyak, tapi yang benar-benar hadir hanya sedikit. Program disusun dengan rapi, tapi pelaksanaannya berjalan tersendat. Bahkan tidak jarang, berhenti di tengah jalan tanpa kejelasan.

Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai terbiasa dengan kondisi itu. Seolah-olah ini hal yang wajar. Seolah-olah memang begitulah organisasi berjalan.

Padahal kalau kita jujur, ini bukan soal sistem yang kurang baik. Bukan juga semata soal pimpinan yang tidak mampu. Ini soal bagaimana kita memandang tanggung jawab.

Kita sering menilai keterlibatan kita dengan ukuran yang sangat sederhana. Apakah ini menguntungkan saya? Apakah ini penting untuk saya? Jika jawabannya iya, kita hadir. Jika tidak, kita memilih menjauh.

Cara berpikir seperti ini terlihat logis. Kita merasa sedang membuat keputusan yang rasional. Tapi sebenarnya, kita sedang menyederhanakan makna komitmen hanya pada apa yang terlihat.

Kita hanya menghitung waktu dan tenaga yang keluar, tapi tidak menghitung kepercayaan yang sedang kita jaga. Kita hanya melihat manfaat langsung, tapi tidak melihat dampak jangka panjang dari sikap kita.

Di titik ini, organisasi mulai kehilangan ruhnya.

Lebih dalam lagi, ada persoalan psikologis yang sering tidak kita sadari. Manusia memang cenderung mencari yang mudah. Kita ingin hasil tanpa proses yang panjang. Kita ingin diakui tanpa harus selalu hadir. Kita ingin terlihat aktif, tanpa benar-benar terlibat.

Dan ketika kita tahu bahwa sikap itu tidak tepat, kita tidak serta-merta berubah. Kita justru mencari pembenaran. Kita bilang, orang lain juga begitu. Kita bilang, ini hanya hal kecil. Kita bilang, nanti bisa diperbaiki.

Padahal, dari hal kecil itulah kebiasaan terbentuk.

Lama-lama, kita tidak lagi merasa bersalah ketika tidak hadir. Tidak lagi merasa bertanggung jawab ketika tugas tidak selesai. Yang dulunya terasa mengganggu, sekarang terasa biasa.

Di sinilah masalah moral mulai muncul. Tanggung jawab tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus dijaga, tapi sebagai pilihan yang bisa diambil atau ditinggalkan.

Coba kita bayangkan sebaliknya. Jika kita berada di posisi orang yang mengandalkan kita. Menunggu kita hadir, menunggu pekerjaan itu selesai, menaruh kepercayaan pada kita. Tapi yang datang justru ketidakhadiran. Yang muncul justru alasan.

Sekali dua kali mungkin bisa dimaklumi. Tapi jika itu berulang, yang hilang bukan hanya pekerjaan. Yang hilang adalah kepercayaan.

Dan organisasi tidak runtuh karena satu kesalahan besar. Ia runtuh karena terlalu banyak hal kecil yang dibiarkan.

Rapat yang sepi. Tugas yang tidak dijalankan. Program yang berhenti di tengah jalan. Nama yang ada, tapi tidak pernah benar-benar hadir.

Lalu kita masih bertanya, kenapa organisasi tidak berkembang?

Mungkin jawabannya bukan di luar. Tapi ada pada diri kita sendiri.

Apakah kita benar-benar hadir sebagai bagian dari organisasi, atau hanya sekadar lewat?

Apakah kita menjalankan amanah, atau hanya memegang jabatan?

Apakah kita ingin berproses, atau hanya ingin terlihat?

Karena pada akhirnya, organisasi tidak butuh banyak orang yang pandai berbicara. Ia butuh orang-orang yang bisa diandalkan. Orang-orang yang hadir, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Orang-orang yang tetap menjalankan perannya, meskipun tidak selalu mendapat pengakuan.

Kita sering membanggakan ide besar. Tapi lupa bahwa organisasi berjalan bukan hanya karena ide, melainkan juga karena komitmen kecil yang dijaga setiap hari.

Maka mungkin ini saatnya kita berhenti menyalahkan keadaan. Berhenti melihat keluar. Dan mulai bertanya ke dalam diri sendiri.

Masihkah kita punya komitmen, atau hanya sedang bertahan sampai menemukan tempat yang lebih menguntungkan?

Masihkah kita merasa memiliki, atau hanya menjadikan organisasi sebagai batu loncatan?

Karena jika ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya organisasi. Tapi perlahan, kita sedang kehilangan nilai dalam diri kita sendiri.

Ruang Dialog

Komentar