![]() |
| As'ad Fauzuddin Khunaifi |
Tidak ada rasa memiliki. Organisasi hanya jadi tempat singgah. Datang saat
dibutuhkan, pergi saat tidak lagi memberi manfaat. Ia tidak lagi dipandang
sebagai ruang perjuangan, tapi sekadar batu loncatan.
Fenomena ini bukan sesuatu yang jauh. Kita bisa melihatnya di sekitar kita.
Rapat yang sepi, kehadiran yang tidak pernah penuh, orang-orang yang selalu
itu-itu saja. Nama banyak, tapi yang benar-benar hadir hanya sedikit. Program
disusun dengan rapi, tapi pelaksanaannya berjalan tersendat. Bahkan tidak
jarang, berhenti di tengah jalan tanpa kejelasan.
Yang lebih mengkhawatirkan, kita mulai terbiasa dengan kondisi itu.
Seolah-olah ini hal yang wajar. Seolah-olah memang begitulah organisasi
berjalan.
Padahal kalau kita jujur, ini bukan soal sistem yang kurang baik. Bukan
juga semata soal pimpinan yang tidak mampu. Ini soal bagaimana kita memandang
tanggung jawab.
Kita sering menilai keterlibatan kita dengan ukuran yang sangat sederhana.
Apakah ini menguntungkan saya? Apakah ini penting untuk saya? Jika jawabannya
iya, kita hadir. Jika tidak, kita memilih menjauh.
Cara berpikir seperti ini terlihat logis. Kita merasa sedang membuat
keputusan yang rasional. Tapi sebenarnya, kita sedang menyederhanakan makna
komitmen hanya pada apa yang terlihat.
Kita hanya menghitung waktu dan tenaga yang keluar, tapi tidak menghitung
kepercayaan yang sedang kita jaga. Kita hanya melihat manfaat langsung, tapi
tidak melihat dampak jangka panjang dari sikap kita.
Di titik ini, organisasi mulai kehilangan ruhnya.
Lebih dalam lagi, ada persoalan psikologis yang sering tidak kita sadari.
Manusia memang cenderung mencari yang mudah. Kita ingin hasil tanpa proses yang
panjang. Kita ingin diakui tanpa harus selalu hadir. Kita ingin terlihat aktif,
tanpa benar-benar terlibat.
Dan ketika kita tahu bahwa sikap itu tidak tepat, kita tidak serta-merta
berubah. Kita justru mencari pembenaran. Kita bilang, orang lain juga begitu.
Kita bilang, ini hanya hal kecil. Kita bilang, nanti bisa diperbaiki.
Padahal, dari hal kecil itulah kebiasaan terbentuk.
Lama-lama, kita tidak lagi merasa bersalah ketika tidak hadir. Tidak lagi
merasa bertanggung jawab ketika tugas tidak selesai. Yang dulunya terasa
mengganggu, sekarang terasa biasa.
Di sinilah masalah moral mulai muncul. Tanggung jawab tidak lagi dilihat
sebagai sesuatu yang harus dijaga, tapi sebagai pilihan yang bisa diambil atau
ditinggalkan.
Coba kita bayangkan sebaliknya. Jika kita berada di posisi orang yang
mengandalkan kita. Menunggu kita hadir, menunggu pekerjaan itu selesai, menaruh
kepercayaan pada kita. Tapi yang datang justru ketidakhadiran. Yang muncul
justru alasan.
Sekali dua kali mungkin bisa dimaklumi. Tapi jika itu berulang, yang hilang
bukan hanya pekerjaan. Yang hilang adalah kepercayaan.
Dan organisasi tidak runtuh karena satu kesalahan besar. Ia runtuh karena
terlalu banyak hal kecil yang dibiarkan.
Rapat yang sepi. Tugas yang tidak dijalankan. Program yang berhenti di tengah jalan. Nama
yang ada, tapi tidak pernah benar-benar hadir.
Lalu kita masih bertanya, kenapa organisasi tidak berkembang?
Mungkin jawabannya bukan di luar. Tapi ada pada diri kita sendiri.
Apakah kita benar-benar hadir sebagai bagian dari organisasi, atau hanya
sekadar lewat?
Apakah kita menjalankan amanah, atau hanya memegang jabatan?
Apakah kita ingin berproses, atau hanya ingin terlihat?
Karena pada akhirnya, organisasi tidak butuh banyak orang yang pandai
berbicara. Ia butuh orang-orang yang bisa diandalkan. Orang-orang yang hadir,
bahkan ketika tidak ada yang melihat. Orang-orang yang tetap menjalankan
perannya, meskipun tidak selalu mendapat pengakuan.
Kita sering membanggakan ide besar. Tapi lupa bahwa organisasi berjalan bukan hanya karena
ide, melainkan juga karena komitmen kecil yang dijaga setiap hari.
Maka mungkin ini saatnya kita berhenti menyalahkan keadaan. Berhenti
melihat keluar. Dan mulai bertanya ke dalam diri sendiri.
Masihkah kita punya komitmen, atau hanya sedang bertahan sampai menemukan
tempat yang lebih menguntungkan?
Masihkah kita merasa memiliki, atau hanya menjadikan organisasi sebagai
batu loncatan?
Karena jika ini terus dibiarkan, yang hilang bukan hanya organisasi. Tapi perlahan, kita sedang kehilangan nilai dalam diri kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar