Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa Pustaka
• Buku Pedoman • Format Surat • Logo IPM • Materi
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Adab, Ilmu, dan Cara Kita Memahaminya Secara Terlalu Sederhana

|
Mei 17, 2026 Admin AFK

 

Ilustrasi: AI

Perdebatan tentang mana yang lebih utama antara adab dan ilmu sebenarnya bukan hal baru. Dari ruang pengajian sampai media sosial, keduanya sering dipertentangkan seolah harus ada yang ditempatkan lebih tinggi dan ada yang berada di bawah. Tidak sedikit yang kemudian menyimpulkan secara singkat bahwa adab lebih penting daripada ilmu.

Kalimat itu terdengar baik. Bahkan terlalu baik untuk dibantah. Namun kadang kita lupa bertanya lebih jauh: dari mana sebenarnya adab itu lahir?

Sebab adab bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ia tidak turun secara otomatis hanya karena seseorang bertambah usia, hidup di lingkungan religius, atau terbiasa mendengar nasihat-nasihat kebaikan. Adab tumbuh dari kesadaran. Dan kesadaran tidak lahir dari ruang kosong.

Di situlah ilmu bekerja.

Barangkali karena itu saya justru melihat adab bukan sebagai lawan dari ilmu, melainkan buah dari ilmu itu sendiri. Seseorang yang benar-benar memahami sesuatu biasanya akan sampai pada cara bersikap yang lebih tenang, lebih hati-hati, dan lebih tahu bagaimana menempatkan dirinya.

Karena orang yang memahami kehidupan tidak mudah bertindak sembarangan.

Dengan berpikir, manusia mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Dari proses berpikir itulah seseorang sampai pada tindakan. Dan adab, pada akhirnya, adalah bentuk tindakan dari kesadaran tersebut. Ia bukan sekadar teori yang selesai di kepala, tetapi nilai yang sudah menjelma menjadi sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin karena itu moral menjadi sangat penting dalam pendidikan. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang mencetak manusia yang pandai menjawab soal atau menghafal banyak informasi, tetapi juga manusia yang mampu memahami tanggung jawab dari pengetahuan yang dimilikinya.

Sebab ilmu tanpa arah moral sering kali hanya melahirkan kecerdasan yang dingin.

Menariknya, dalam Islam sendiri perintah pertama yang turun bukanlah tentang tata cara bersikap, melainkan tentang membaca: Iqra’.

Perintah ini terasa sederhana, tetapi sangat mendasar. Membaca bukan hanya soal teks, melainkan tentang memahami kehidupan, manusia, dan realitas di sekitar kita. Dari membaca manusia belajar berpikir. Dari berpikir lahir pengetahuan. Dan dari pengetahuan itulah seseorang perlahan belajar bersikap dengan lebih benar.

Mungkin karena itu adab sebenarnya adalah ilmu yang sudah selesai diperdebatkan di kepala lalu turun menjadi tindakan.

Tanpa ilmu, apa yang disebut adab kadang hanya berubah menjadi formalitas. Terlihat sopan di permukaan, tetapi kosong di dalam. Banyak orang tampak santun karena terbiasa mengikuti lingkungan, bukan karena benar-benar memahami makna menghargai orang lain.

Akibatnya, kesopanan itu mudah runtuh ketika berbeda pendapat. Keramahan itu hilang ketika kepentingannya terganggu. Karena yang bekerja hanya kebiasaan luar, bukan kesadaran yang tumbuh dari pemahaman.

Namun di sisi lain, ilmu juga tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.

Hari ini kita bisa melihat banyak orang yang tampak pintar, gelarnya panjang, cara bicaranya meyakinkan, tetapi perilakunya justru melelahkan. Mudah merendahkan orang lain, sulit menerima kritik, merasa paling benar sendiri, atau menggunakan pengetahuannya untuk membodohi sesama.

Di titik ini masalahnya bukan karena mereka terlalu berilmu, melainkan karena pengetahuan yang dimiliki belum benar-benar tumbuh menjadi kesadaran moral.

Sebab menghafal informasi belum tentu membuat seseorang memahami kehidupan.

Barangkali itulah mengapa ilmu yang tidak melahirkan adab terasa seperti pohon yang sibuk meninggikan batangnya sendiri tetapi lupa berbuah. Ia tampak besar, tetapi tidak memberi keteduhan apa-apa.

Orang-orang terdahulu tampaknya memahami hal ini dengan baik. Mereka tidak hanya sibuk mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana cara menjadi manusia. Karena kecerdasan sejati bukan hanya soal kemampuan bernalar, melainkan juga kemampuan mengendalikan diri, menghormati orang lain, dan memahami batas-batas kemanusiaan.

Maka mungkin selama ini kita memang terlalu suka menyederhanakan perdebatan antara adab dan ilmu. Seolah keduanya berdiri saling berhadapan, padahal sebenarnya saling menguatkan.

Adab bukan sesuatu yang berdiri di atas ilmu sambil merendahkannya. Adab justru menjadi tanda bahwa ilmu seseorang telah benar-benar hidup di dalam dirinya.

#As'ad Fauzuddin Khunaifi

Ruang Dialog

Komentar