![]() |
| Ilustrasi: AI |
Setiap kali mendekati Ramadan, Idul Fitri, atau Idul Adha, ruang publik kita hampir selalu dipenuhi perdebatan yang sama. Ada yang bertanya mengapa bisa berbeda. Ada yang menganggap hisab sekadar hitung-hitungan manusia. Tidak sedikit pula yang merasa heran ketika sebagian orang sudah bisa “memprediksi” hari raya jauh sebelum sidang isbat pemerintah diumumkan.
Padahal jika dipahami dengan tenang, semuanya sebenarnya sangat logis dan ilmiah.
Saya sendiri merupakan bagian dari Muhammadiyah. Karena itu, dalam penetapan awal bulan hijriah saya mengikuti manhaj yang digunakan Muhammadiyah, termasuk Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang kini mulai dikembangkan sebagai upaya penyatuan kalender Islam dunia.
Namun tulisan ini bukan ajakan agar orang harus mengikuti KHGT atau meninggalkan metode lain. Fokus saya sederhana saja: mengapa dalam beberapa momen saya bisa memprediksi apakah Idul Fitri atau Idul Adha kemungkinan besar akan bersamaan atau berbeda dengan pemerintah.
Jawabannya bukan karena merasa paling benar, bukan pula karena “mendahului” sidang isbat. Jawabannya karena astronomi memang memungkinkan itu dihitung.
Bulan, matahari, dan bumi bergerak dengan hukum yang sangat presisi. Karena keteraturan itu, posisi hilal bahkan bisa dihitung hingga bertahun-tahun ke depan. Jadi ketika seseorang mengatakan kemungkinan lebaran akan sama atau berbeda, sebenarnya ia sedang membaca data astronomi, bukan menebak-nebak.
Di Indonesia sendiri, pemerintah melalui Kementerian Agama bersama negara anggota MABIMS—Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura—menggunakan konsep imkanur rukyat, yaitu kemungkinan hilal dapat terlihat.
Sebelum tahun 2022, kriteria MABIMS menggunakan parameter lama:
- Tinggi hilal minimal 2 derajat
- Elongasi minimal 3 derajat
Namun kemudian diperbarui karena secara astronomi dianggap terlalu rendah untuk menjamin keterlihatan hilal. Akhirnya sejak 2022 digunakan kriteria baru:
- Tinggi hilal minimal 3 derajat
- Elongasi minimal 6,4 derajat
Artinya sederhana. Jika posisi bulan saat matahari terbenam belum memenuhi angka tersebut, maka kemungkinan besar hilal belum bisa terlihat. Sebaliknya, jika sudah memenuhi, maka peluang terlihat menjadi besar kecuali terhalang cuaca.
Karena itu sebenarnya kita sudah bisa membaca kemungkinan hasil sidang isbat jauh sebelumnya.
Contohnya pada penetapan Idul Adha 1447 H tahun 2026 ini. Berdasarkan data astronomi, posisi hilal memang sudah memenuhi kriteria visibilitas MABIMS. Maka secara ilmiah sangat mungkin pemerintah menetapkan 1 Zulhijah jatuh pada 18 Mei 2026 dan Idul Adha pada 27 Mei 2026.
Dan benar saja, Kementerian Agama kemudian menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026 berdasarkan hasil Sidang Isbat tanggal 17 Mei 2026.
Bagi saya, ini bukan perkara “ramalan saya benar”, melainkan karena astronomi memang bekerja setepat itu.
Hal yang sama juga terjadi saat Idul Fitri 1447 H. Berdasarkan data hisab MABIMS, posisi hilal pada 19 Maret 2026 belum memenuhi syarat visibilitas karena elongasi masih berada di kisaran 4 derajat hingga 6,1 derajat, sementara syarat minimal adalah 6,4 derajat.
Karena itu saya sudah memperkirakan pemerintah kemungkinan akan mengistikmalkan Ramadan menjadi 30 hari sehingga Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.
Dan memang itu yang kemudian terjadi.
Sementara di sisi Muhammadiyah yang menggunakan KHGT, hasilnya berbeda karena parameter dan pendekatannya memang berbeda.
KHGT mensyaratkan:
- Tinggi hilal minimal 5 derajat
- Elongasi minimal 8 derajat
- Ijtimak terjadi sebelum pukul 00.00 UTC
Selain itu, KHGT menggunakan pendekatan global, bukan regional. Jadi ketika ada satu wilayah di dunia yang sudah memenuhi parameter tersebut sebelum batas waktu UTC, maka awal bulan berlaku untuk seluruh dunia.
Pada data Syawal 1447 H, parameter KHGT telah terpenuhi di beberapa wilayah termasuk Makkah dengan tinggi bulan lebih dari 6 derajat dan elongasi lebih dari 8 derajat. Karena itu Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Di sini kita bisa melihat bahwa perbedaan bukan muncul karena satu pihak “asal beda”, melainkan karena metodologi yang digunakan memang berbeda.
Mungkin persoalan terbesar kita hari ini bukan pada perbedaan metode, tetapi pada cara masyarakat memahami ilmu. Kita terlalu sering melihat persoalan hisab dan rukyat sebagai pertarungan kelompok, padahal di belakangnya ada kerja astronomi, matematika, observasi, dan ijtihad panjang para ulama.
Saya tetap mengikuti Muhammadiyah karena memang itulah manhaj yang saya yakini. Namun saya juga memahami mengapa pemerintah bisa menghasilkan keputusan yang berbeda dalam beberapa kondisi tertentu. Sebab pada akhirnya, semuanya sama-sama sedang membaca langit yang sama dengan pendekatan yang berbeda.
Dan menurut saya, itu justru indah.
Karena baik melalui teleskop, observatorium, maupun rumus astronomi di atas kertas, manusia sebenarnya sedang melakukan hal yang sama: mengagumi keteraturan ciptaan Tuhan dengan ilmu pengetahuan yang diberikan-Nya.
#As'ad Fauzuddin Khunaifi
.png)
Komentar
Posting Komentar