Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa Pustaka
• Buku Pedoman • Format Surat • Logo IPM • Materi
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Antara Kecewa dan Tetap Tinggal

|
Mei 08, 2026 Admin AFK

 

Jangan Lelah Mencintai Indonesia
Ilustrasi: AI
As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pemuda yang tumbuh dari Perbatasan Lamongan Selatan

Belakangan ini, rasanya mudah sekali kecewa pada negeri sendiri. Setiap hari kita membuka media sosial, yang muncul hampir selalu hal-hal yang melelahkan. Hukum yang terasa tajam kepada yang lemah, tetapi lunak kepada yang punya kuasa. Harga kebutuhan yang terus naik, sementara penghasilan banyak orang jalan di tempat. Kebijakan berubah cepat, penjelasan sering tidak menenangkan, dan masyarakat diminta memahami keadaan yang bahkan kadang tidak dijelaskan dengan utuh.

Belum lagi pola yang mulai sering terulang. Sebuah kebijakan muncul tiba-tiba, menuai penolakan besar, viral di media sosial, lalu dicabut kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Situasi seperti ini membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah sebuah keputusan benar-benar direncanakan dengan matang atau hanya diuji coba setelah dilempar ke publik. Negara terasa berjalan tanpa arah yang benar-benar jelas. Pengelolaan yang seharusnya lahir dari perencanaan yang tenang dan matang justru tampak serampangan dan reaktif.

Akhirnya banyak orang mulai lelah. Bukan hanya lelah secara ekonomi, tapi juga lelah secara batin.

Kita hidup di masa ketika rasa percaya perlahan menurun. Orang mulai sulit percaya pada janji, pada pidato, bahkan pada penjelasan resmi. Sebab terlalu banyak hal yang terdengar baik di atas kertas, tetapi berbeda ketika menyentuh kehidupan sehari-hari.

Ekonomi hari ini tidak lagi sekadar dibicarakan lewat angka pertumbuhan atau grafik yang ditampilkan di layar besar. Ia hadir di meja makan keluarga. Di orang tua yang mulai bingung mengatur biaya sekolah anaknya. Di mahasiswa yang semakin cemas memikirkan masa depan. Di pekerja yang tetap bekerja keras tetapi merasa hidupnya tidak benar-benar bergerak ke mana-mana.

Di tengah keadaan seperti ini, banyak orang akhirnya marah. Itu wajar. Sebab yang paling melelahkan bukan hanya kesulitan hidup, melainkan perasaan seperti tidak didengar.

Komunikasi publik kita sering kehilangan rasa. Terlalu penuh istilah teknis, terlalu sibuk menjelaskan data, tetapi lupa bahwa yang dihadapi adalah manusia. Manusia yang punya rasa cemas, takut, dan kecewa. Akibatnya, jarak antara rakyat dan pengelola negara terasa semakin jauh.

Lalu muncul pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu banyak orang: masih pantaskah negeri ini dicintai?

Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan, tetapi sebenarnya nyata. Sebab mencintai Indonesia hari ini tidak selalu mudah. Terutama ketika yang kita lihat justru ketidakadilan, kebingungan, dan keadaan yang terasa tidak baik-baik saja.

Namun mungkin kita perlu membedakan satu hal. Antara kecewa pada keadaan, dan berhenti mencintai rumah tempat kita tinggal.

Negeri ini memang sedang banyak masalah. Tapi mencintai Indonesia tidak berarti menutup mata dari kekeliruannya. Justru karena peduli, kita marah. Justru karena masih merasa memiliki, kita kecewa.

Orang yang benar-benar tidak peduli biasanya memilih diam. Tidak mau tahu. Tidak mau repot. Sedangkan kritik, kemarahan, dan kegelisahan sering lahir dari rasa memiliki yang belum habis.

Barangkali masalah terbesar kita hari ini bukan hanya krisis ekonomi atau politik, tetapi krisis harapan. Banyak orang mulai merasa suaranya tidak berarti. Mulai merasa kritik tidak mengubah apa-apa. Dari situlah apatisme tumbuh.

Padahal ketika masyarakat berhenti peduli, di situlah keadaan menjadi benar-benar berbahaya.

Karena sebuah bangsa tidak hanya berdiri di atas wilayah dan pemerintahan. Ia berdiri di atas rasa percaya bahwa rumah ini masih layak dijaga bersama.

Maka mencintai Indonesia hari ini mungkin bukan tentang memuji keadaan seolah semuanya baik-baik saja. Bukan pula tentang tepuk tangan pada setiap kebijakan. Kadang mencintai justru berarti tetap bersikap kritis tanpa kehilangan kepedulian. Tetap jujur di pekerjaan masing-masing. Tetap menjaga akal sehat di tengah kebisingan. Tetap mau terlibat meski sering kecewa.

Sebab rumah yang sedang berantakan tidak selalu harus ditinggalkan. Kadang ia justru lebih membutuhkan orang-orang yang tetap bertahan untuk membereskannya.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah negeri ini sedang baik atau buruk. Tapi apakah kita masih punya cukup kepedulian untuk tidak menyerah padanya.

Karena jika rasa memiliki itu benar-benar hilang, mungkin yang habis bukan hanya harapan. Tapi juga alasan mengapa kita masih mau menyebut diri sebagai satu bangsa.

#Admin AFK

Ruang Dialog

Komentar