Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa Pustaka
• Buku Pedoman • Format Surat • Logo IPM • Materi
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Sakti, Cepat, Pintar. Tapi Tetap Membumi

|
Mei 08, 2026 Admin AFK
Sakti, Cepat, Pintar. Tapi Tetap Membumi

Ilustrasi: AI

As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pemuda yang tumbuh dari perbatasan Lamongan Selatan

Ada satu falsafah Jawa yang belakangan cukup sering dikutip oleh Presiden Joko Widodo. Kalimatnya sederhana, pendek, dan terdengar sangat membumi:

Lamun siro sekti, ojo mateni.
Lamun siro banter, ojo ndhisiki.
Lamun siro pinter, ojo minteri.

Kalau diterjemahkan secara sederhana: ketika kamu kuat, jangan menjatuhkan. Ketika kamu cepat, jangan mendahului. Ketika kamu pintar, jangan merasa paling pintar.

Sekilas mungkin terdengar seperti petuah orang tua di desa. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa falsafah ini sebenarnya bukan nasihat biasa. Ia adalah cara pandang hidup yang sangat dalam tentang bagaimana manusia mengelola ego saat memiliki kelebihan.

Sebab masalah terbesar manusia sering kali bukan ketika ia tidak punya apa-apa, melainkan ketika ia mulai merasa lebih dari orang lain.

Filosofi Jawa sejak dulu memang tidak dibangun dengan nada yang meledak-ledak. Ia tidak berteriak tentang kekuasaan, kemenangan, atau dominasi. Ia justru berbicara tentang pengendalian diri. Tentang bagaimana seseorang tetap mampu membumi ketika punya kemampuan untuk meninggi.

Dan mungkin itu yang mulai langka hari ini.

Kita hidup di zaman ketika semua orang berlomba terlihat paling hebat. Media sosial dipenuhi keinginan untuk selalu tampil unggul. Sedikit punya jabatan merasa paling berkuasa. Sedikit punya uang merasa paling berhasil. Sedikit punya pengetahuan mulai gemar merendahkan orang lain.

Padahal semakin tinggi seseorang, justru semakin besar tanggung jawab moralnya untuk tidak melukai sekelilingnya.

“Lamun siro sekti, ojo mateni.”

Kalimat ini bukan hanya soal kekuatan fisik atau kekuasaan besar. Dalam kehidupan sehari-hari, “sakti” bisa berarti banyak hal. Punya jabatan lebih tinggi, relasi lebih luas, ekonomi lebih baik, atau kemampuan yang melampaui orang lain.

Masalahnya, banyak orang ketika merasa lebih kuat justru mulai menikmati posisi di atas itu. Sedikit demi sedikit muncul keinginan untuk mengontrol, menekan, bahkan menjatuhkan orang lain demi mempertahankan posisinya.

Padahal kekuatan sejati bukan terletak pada kemampuan menundukkan orang lain, melainkan kemampuan menahan diri saat sebenarnya kita mampu melakukannya.

Orang yang benar-benar kuat biasanya tidak sibuk menunjukkan kekuatannya setiap waktu. Ia tahu kapan harus tegas, tapi juga tahu batas agar tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Lalu ada pesan kedua: “Lamun siro banter, ojo ndhisiki.”

Hari ini kita hidup di era serba cepat. Semua orang ingin lebih dulu. Lebih dulu sukses, lebih dulu dikenal, lebih dulu viral, lebih dulu kaya. Akibatnya hidup berubah seperti perlombaan panjang yang melelahkan.

Dalam organisasi pun sering begitu. Ada orang yang ingin terlihat paling bergerak, paling aktif, paling bekerja. Tapi sayangnya, bukan untuk membawa bersama, melainkan supaya dirinya terlihat paling depan.

Filosofi ini mengingatkan bahwa menjadi cepat bukan berarti harus meninggalkan yang lain. Sebab hidup bukan hanya soal siapa yang sampai duluan. Ada nilai tentang bagaimana kita berjalan bersama.

Pesan terakhir: “Lamun siro pinter, ojo minteri.”

Ada perbedaan besar antara pintar dan merasa paling pintar. Orang pintar biasanya tenang. Ia tidak sibuk membuktikan dirinya hebat di setiap percakapan. Sebaliknya, orang yang gemar “minteri” justru sering memakai pengetahuannya untuk meremehkan orang lain.

Padahal ilmu tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan yang dibungkus bahasa akademik.

Falsafah Jawa ini sebenarnya tidak mengajarkan kita untuk menjadi lemah. Justru sebaliknya. Manusia diuji bukan saat ia tidak punya apa-apa. Manusia diuji ketika ia punya semuanya.

Apakah ia tetap rendah hati saat berada di atas?
Apakah ia tetap mampu menghargai orang lain ketika dirinya lebih unggul?
Apakah ia masih bisa menjadi manusia yang teduh ketika punya kuasa?

Di tengah dunia yang semakin bising, falsafah seperti ini terasa penting. Kita tidak kekurangan orang pintar atau kuat, yang langka adalah orang yang kuat tapi tidak menindas, cepat tapi tidak meninggalkan, serta pintar tanpa merendahkan.

Dan mungkin, pada akhirnya, manusia tidak akan terlalu dikenang karena seberapa hebat dirinya. Melainkan karena seberapa nyaman orang lain berada di dekatnya.

#As'ad Fauzuddin Khunaifi

Ruang Dialog

Komentar