![]() |
| Ilustrasi: AI |
Ada fase yang aneh dalam kehidupan mahasiswa. Kita masih memakai status “mahasiswa aktif”, masih duduk di ruang yang sama, masih mengerjakan revisi dan berhadapan dengan dosen pembimbing, tetapi di saat bersamaan orang-orang sudah mulai memperlakukan kita seolah tinggal menunggu toga dikenakan.
Di titik itu, hidup terasa menggantung.
Belum benar-benar selesai, tapi juga tidak lagi berada di awal perjalanan. Kita berdiri di antara dua dunia: dunia kampus yang perlahan ditinggalkan dan dunia setelah kelulusan yang belum sepenuhnya jelas bentuknya.
Mungkin karena itu, pertanyaan “kapan lulus?” terasa berbeda bagi mahasiswa tingkat akhir.
Awalnya memang terdengar seperti basa-basi. Namun semakin sering diulang, pertanyaan itu perlahan berubah menjadi tekanan kecil yang diam-diam mengganggu pikiran. Kadang kita tersenyum menjawabnya, kadang bercanda mengalihkan pembicaraan, padahal di dalam kepala sendiri kita juga sedang bertanya hal yang sama.
Kapan semuanya benar-benar selesai?
Di fase ini, saya mulai sadar bahwa kelulusan ternyata bukan sekadar soal akademik. Ia juga tentang mental. Tentang bagaimana seseorang menghadapi rasa tertinggal, rasa cemas, dan ketakutan akan masa depan yang belum sepenuhnya bisa ditebak.
Sebab semakin dekat dengan garis akhir, justru semakin terlihat bahwa hidup setelah kampus tidak sesederhana yang dulu dibayangkan.
Waktu masih menjadi mahasiswa baru, kita sering berpikir bahwa lulus adalah titik aman. Seolah setelah itu hidup akan lebih jelas arahnya. Namun semakin dewasa, kita mulai memahami bahwa ijazah hanyalah pintu masuk menuju persoalan baru yang jauh lebih nyata.
Dunia luar tidak selalu peduli seberapa aktif kita dulu di organisasi. Tidak selalu peduli IPK kita berapa. Bahkan kadang tidak terlalu tertarik pada idealisme panjang yang dulu sering kita perdebatkan di ruang diskusi.
Dunia berjalan dengan ritmenya sendiri. Dan itu sering kali membuat banyak orang gugup sebelum benar-benar melangkah keluar.
Mungkin karena itu, masa “belum lulus” sebenarnya bukan fase yang sepenuhnya buruk. Ia memang melelahkan, tetapi di saat bersamaan ia memberi ruang bagi kita untuk berpikir lebih jujur tentang diri sendiri.
Tentang apakah kita benar-benar siap.
Sebab ada orang yang ingin cepat lulus bukan karena sudah siap menghadapi hidup, melainkan hanya lelah ditanya terus-menerus. Ada pula yang terburu-buru menyelesaikan semuanya hanya karena takut tertinggal dari teman-temannya.
Padahal hidup bukan perlombaan siapa paling cepat mengenakan toga.
Semakin ke sini, saya justru merasa bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Ada yang selesai lebih dulu lalu langsung menemukan jalannya. Ada yang lulus cepat tetapi masih kebingungan menentukan arah hidup. Ada juga yang mungkin sedikit lebih lambat, namun justru lebih matang saat benar-benar keluar dari kampus.
Dan itu bukan sesuatu yang perlu dipermalukan.
Kita terlalu sering hidup mengikuti linimasa orang lain sampai lupa bahwa hidup manusia tidak pernah benar-benar seragam. Media sosial membuat semuanya tampak berlomba: wisuda, pekerjaan, pencapaian, pernikahan. Akhirnya banyak orang merasa gagal hanya karena hidupnya tidak secepat orang lain.
Padahal bisa jadi semesta memang sedang meminta sebagian dari kita untuk berjalan lebih pelan.
Barangkali ada mental yang masih perlu dikuatkan. Ada cara berpikir yang masih perlu dibenahi. Ada tanggung jawab hidup yang belum benar-benar siap dipikul.
Karena setelah lulus nanti, hidup tidak lagi memberi banyak ruang untuk terus-menerus bingung.
Maka menjadi mahasiswa tingkat akhir yang belum lulus sebenarnya bukan aib. Ia hanyalah fase transisi yang kadang memang tidak nyaman dijalani. Fase ketika kita dipaksa belajar bersabar sambil tetap berjalan, meski pelan.
Dan mungkin memang tidak perlu buru-buru menertawakan hidup atau berpura-pura baik-baik saja. Tidak apa jika hari ini kita masih merasa cemas. Tidak apa jika masa depan masih terlihat samar.
Yang penting jangan berhenti bergerak.
Sebab pada akhirnya, kelulusan bukan tentang siapa yang paling cepat keluar dari gerbang kampus, melainkan siapa yang benar-benar siap saat kehidupan yang sesungguhnya mulai mengetuk pintu.
#As'ad Fauzuddin Khunaifi

Komentar
Posting Komentar