Berita Opini Refleksi Edukasi Lensa Pustaka
• Buku Pedoman • Format Surat • Logo IPM • Materi
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Negara yang Terlihat Sibuk tetapi Belum Tentu Siap

|
Mei 17, 2026 Admin AFK

 

Ilustrasi: AI

Di tengah keadaan dunia yang semakin tidak menentu, kita mulai menyadari bahwa negara tidak cukup hanya terlihat aktif. Ada saat di mana sebuah pemerintahan diuji bukan dari seberapa sering tampil di depan publik, tetapi dari seberapa siap ia menghadapi keadaan yang berubah cepat.

Belakangan ini, masyarakat cukup sering dibuat bingung oleh arah kebijakan yang berubah-ubah. Ada keputusan yang diumumkan dengan penuh keyakinan, lalu tidak lama kemudian dibatalkan. Ada aturan yang terlanjur membuat gaduh, tetapi akhirnya dikoreksi setelah reaksi publik membesar. Keadaan semacam ini mungkin terlihat biasa dalam politik, namun jika terlalu sering terjadi, lama-kelamaan menimbulkan pertanyaan tentang seberapa matang perencanaannya sejak awal.

Di satu sisi, pemerintah memang terlihat ingin mendengar masyarakat. Namun di sisi lain, publik juga melihat adanya ketidaksinkronan di dalam tubuh pemerintahan sendiri. Seolah-olah keputusan besar kadang berjalan lebih cepat daripada kesiapan di lapangan.

Mungkin ini yang membuat banyak orang mulai merasa negara terlihat sibuk, tetapi belum tentu benar-benar siap.

Kata efisiensi menjadi salah satu istilah yang paling sering muncul belakangan ini. Maksudnya tentu terdengar baik. Mengurangi pengeluaran yang tidak perlu memang penting, apalagi dalam keadaan ekonomi global yang belum stabil. Namun masyarakat juga tidak buta melihat keadaan.

Di tingkat atas, struktur pemerintahan justru terlihat semakin besar. Jabatan bertambah, posisi bertambah, sementara di bawah banyak daerah mulai menghitung ulang kemampuan mereka sendiri. Ada yang khawatir terhadap anggaran pelayanan, ada yang mulai cemas dengan keberlangsungan insentif, bahkan ada yang mempertanyakan nasib pekerjaan mereka ke depan.

Yang terasa sesak akhirnya bukan di pusat, tetapi di bawah.

Di saat yang sama, keadaan global juga sedang tidak benar-benar aman. Konflik di berbagai kawasan dunia mulai berdampak pada ekonomi internasional. Harga energi mudah berubah, nilai tukar ikut bergerak, dan negara-negara mulai sibuk menjaga kepentingannya masing-masing.

Masyarakat desa mungkin tidak membeli dolar setiap hari. Namun mereka tetap merasakan dampaknya. Harga kebutuhan naik pelan-pelan, ongkos distribusi berubah, bahan pokok ikut bergerak. Hal-hal semacam ini sering datang tidak dengan suara keras, tetapi terasa perlahan di pasar, di warung, dan di pengeluaran sehari-hari.

Karena itu, pembahasan tentang swasembada pangan dan energi sebenarnya bukan lagi sekadar slogan politik. Dunia hari ini menunjukkan bahwa ketergantungan selalu memiliki risiko. Negara yang terlalu bergantung pada pihak lain akan lebih mudah goyah ketika keadaan global mulai tidak stabil.

Meski begitu, keadaan ini juga tidak perlu dilihat secara berlebihan. Indonesia mungkin bukan negara yang berada di pusat konflik dunia. Namun bukan berarti kita bisa sepenuhnya tenang. Dunia berubah terlalu cepat untuk dihadapi dengan rasa santai yang berlebihan.

Mungkin yang paling penting saat ini bukan sekadar sibuk memperlihatkan optimisme, tetapi mulai memastikan kesiapan. Kesiapan logistiknya, energinya, pangannya, bahkan kesiapan cara berpikir masyarakatnya.

Karena pada akhirnya, keadaan sulit tidak selalu datang dengan suara ledakan. Kadang ia datang pelan-pelan, melalui kebijakan yang tidak matang, ketergantungan yang terlalu besar, dan kebiasaan merasa aman karena menganggap semuanya masih baik-baik saja.

#Admin AFK 

Ruang Dialog

Komentar