(Ilustrasi: AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi) |
Oleh: As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa
Media sosial belakangan diramaikan oleh sebuah plesetan yang terdengar lucu sekaligus getir: Ajining diri ana ing salary. Kalimat ini memelesetkan pepatah Jawa, ajining diri ana ing lathi, yang mengajarkan bahwa kehormatan seseorang lahir dari tutur kata, kejujuran, dan integritasnya. Kini, maknanya bergeser. Harga diri seolah tidak lagi berada pada lathi, tetapi pada angka yang tertulis di slip gaji.
Sekilas ia hanyalah humor khas pekerja kantoran. Namun, setiap satire biasanya lahir dari kenyataan yang sedang dirasakan banyak orang. Barangkali kita memang sedang hidup pada masa ketika pendapatan menjadi ukuran paling cepat untuk menilai seseorang.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Psikolog Leon Festinger, melalui Social Comparison Theory, menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Jika dahulu perbandingan itu terjadi di lingkungan sekitar, kini media sosial memperluasnya tanpa batas. Setiap hari kita melihat unggahan tentang promosi jabatan, penghasilan fantastis, perjalanan ke luar negeri, hingga gaya hidup mewah. Yang terlihat bukan prosesnya, melainkan hasil akhirnya.
Lama-kelamaan, ukuran keberhasilan pun berubah. Pertanyaan "apa yang sudah kamu pelajari?" bergeser menjadi "berapa gajimu sekarang?"
Alain de Botton menyebut gejala ini sebagai status anxiety, kecemasan akan posisi sosial. Dalam masyarakat modern, seseorang tidak hanya takut miskin, tetapi juga takut dianggap gagal. Ketika penghormatan sosial semakin dikaitkan dengan pendapatan, gaji tidak lagi sekadar alat memenuhi kebutuhan hidup. Ia berubah menjadi simbol martabat.
Tidak mengherankan apabila banyak anak muda bekerja melampaui batas kemampuannya. Lembur menjadi kebiasaan, burnout dianggap konsekuensi kesuksesan, bahkan kesehatan mental sering dikorbankan demi mengejar penghasilan yang lebih tinggi. Sebagian lain memilih mempertahankan citra sukses melalui budaya flexing, meskipun kondisi keuangannya tidak selalu sebaik yang ditampilkan.
Berbagai penelitian bahkan menunjukkan munculnya fenomena doom spending, yaitu kecenderungan berbelanja impulsif sebagai pelarian dari kecemasan finansial. Ironisnya, tekanan untuk terlihat mapan justru sering melahirkan keputusan keuangan yang semakin menjauhkan seseorang dari kemapanan itu sendiri.
Namun persoalan sesungguhnya bukan terletak pada besarnya gaji. Persoalannya muncul ketika nilai seorang manusia direduksi menjadi angka dalam rekeningnya.
Erich Fromm dalam To Have or To Be? mengingatkan bahwa masyarakat modern semakin terjebak pada orientasi having, menilai manusia berdasarkan apa yang dimilikinya, bukan siapa dirinya. Cara pandang seperti ini perlahan mengikis makna kemanusiaan. Guru honorer, perawat, pekerja sosial, atau relawan mungkin tidak memiliki pendapatan setinggi profesi lain, tetapi apakah kontribusi mereka menjadi kurang bermakna? Tentu tidak.
Pandangan serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran Pierre Bourdieu. Menurutnya, modal ekonomi memang penting, tetapi bukan satu-satunya bentuk modal yang menentukan posisi seseorang di masyarakat. Ada modal sosial berupa jejaring dan kepercayaan, modal budaya berupa pengetahuan dan pendidikan, serta modal simbolik berupa kehormatan yang lahir dari integritas. Sayangnya, masyarakat modern sering kali hanya menghitung modal ekonomi, seolah-olah nilai manusia berhenti pada nominal penghasilannya.
Tentu tidak ada yang salah dengan memperjuangkan kehidupan yang lebih sejahtera. Gaji yang layak merupakan hak setiap pekerja. Masalahnya, ketika salary dijadikan satu-satunya ukuran harga diri, kita sedang membangun masyarakat yang mudah mengagungkan kekayaan, tetapi perlahan kehilangan kemampuan menghargai karakter.
Pepatah Jawa itu rupanya masih relevan hingga hari ini. Mungkin yang perlu diperbarui bukanlah maknanya, melainkan cara kita memahaminya. Sebab salary dapat naik dan turun mengikuti kondisi ekonomi, tetapi lathi tetap menjadi cermin integritas seseorang. Dan ketika semua simbol materi itu hilang, yang tersisa untuk membuat seseorang tetap dihormati bukanlah slip gajinya, melainkan cara ia memperlakukan orang lain.
.png)