![]() |
| Ilustrasi : AI/As'ad Fauzuddin Khunaifi |
Oleh: As'ad Fauzuddin Khunaifi
Pimpinan Konsolidosa
Ada anak-anak yang lahir bersama sebuah janji.
Ketika sumur eksplorasi Abadi-1 menemukan cadangan gas raksasa di Laut Arafura pada tahun 2000, sebagian anak di Kepulauan Tanimbar baru belajar mengeja. Mereka tumbuh dengan cerita yang sama: suatu hari nanti, Blok Masela akan mengubah masa depan daerah mereka. Orang tua membicarakannya di rumah, guru menyebutnya di sekolah, pemerintah menjadikannya harapan pembangunan, sementara media berkali-kali menulis bahwa proyek itu akan menjadi salah satu tonggak energi terbesar Indonesia.
Waktu terus berjalan.
Anak-anak itu beranjak remaja. Sebagian melanjutkan kuliah. Sebagian lainnya memilih merantau. Ada pula yang dikirim pemerintah daerah untuk belajar teknologi migas di Cepu dengan harapan kelak pulang sebagai tenaga profesional yang mengelola proyek raksasa tersebut.
Namun proyek yang mereka tunggu tidak kunjung bergerak.
Ketika dunia berubah begitu cepat, Masela tetap menjadi nama yang lebih sering muncul dalam rapat, dokumen, dan pidato daripada dalam aktivitas pembangunan di lapangan.
Baru pada Kamis, 16 Juli 2026, setelah hampir tiga dekade penantian, alat berat akhirnya benar-benar mulai bekerja.
Di Desa Lermatang, Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, batu pertama pembangunan Proyek Strategis Nasional LNG Abadi Blok Masela resmi diletakkan. Dari Istana Merdeka, Presiden Prabowo Subianto mengikuti prosesi secara virtual. Di lokasi proyek, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memimpin langsung seremoni groundbreaking bersama Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, jajaran pemerintah daerah, SKK Migas, serta konsorsium pengembang yang terdiri atas INPEX, Pertamina, dan Petronas.
Momentum tersebut bukan sekadar seremoni pembangunan fisik. Ia menjadi penanda bahwa salah satu proyek energi terbesar Indonesia akhirnya memasuki fase konstruksi setelah melewati perjalanan panjang yang melibatkan pergantian pemerintahan, perubahan kebijakan, restrukturisasi investasi, hingga perubahan paradigma energi dunia.
Presiden Prabowo menyebut proyek ini sebagai utang panjang yang akhirnya mulai dibayar.
"Abadi Masela secara resmi dinyatakan dimulai. Proyek strategis nasional Abadi Masela ini merupakan suatu proyek yang sungguh sangat penting. Proyek ini hampir tiga dekade, tiga dasawarsa kita tunggu, rakyat menunggu. Alhamdulillah hari ini kita mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat, harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya."
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan bahwa proyek ini bukan sekadar investasi bernilai ratusan triliun rupiah, melainkan simbol panjangnya proses pengambilan keputusan dalam pembangunan sektor energi nasional.
Tiga Dekade yang Mengubah Dunia
Ketika Lapangan Gas Abadi ditemukan pada tahun 2000, Indonesia masih berada pada masa awal reformasi. Presiden yang memimpin saat itu adalah Abdurrahman Wahid. Sejak saat itu, pemerintahan berganti berkali-kali. Presiden berubah, menteri berganti, kebijakan direvisi, dan strategi pembangunan mengalami penyesuaian.
Di sektor energi, proyek ini melewati berbagai fase penting. Rencana awal menggunakan fasilitas pencairan gas terapung (Floating LNG) kemudian diubah menjadi kilang darat di Pulau Yamdena. Perubahan tersebut membawa konsekuensi besar terhadap desain teknis, studi lingkungan, kebutuhan investasi, hingga proses pembebasan lahan.
Pandemi Covid-19 semakin memperpanjang penantian. Pada saat yang hampir bersamaan, Shell memutuskan keluar dari konsorsium sehingga struktur investasi kembali harus disusun ulang. Baru setelah Pertamina dan Petronas masuk menggantikan posisi tersebut, fondasi pendanaan proyek kembali menguat.
Sementara Indonesia berkutat dengan berbagai proses tersebut, dunia tidak berhenti bergerak.
Australia berhasil mempercepat pengembangan Pluto LNG. Norwegia menuntaskan proyek Snøhvit LNG dan mulai memasuki fase modernisasi. Qatar terus memperluas kapasitas North Field sehingga semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia.
Paradoks itulah yang membuat perjalanan Masela sering disebut sebagai salah satu proyek energi dengan masa persiapan terpanjang di kawasan.
Bukan Sekadar Kilang Gas
Groundbreaking kali ini menandai dimulainya pembangunan fasilitas kilang LNG darat beserta infrastruktur pendukungnya.
Pabrik dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun. Selain itu, proyek ini juga akan menghasilkan pasokan gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD serta sekitar 35 ribu barel kondensat per hari.
Nilai investasinya mencapai sekitar USD20,9 miliar hingga USD21 miliar atau setara lebih dari Rp340 triliun, menjadikannya salah satu investasi energi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Namun angka-angka tersebut sesungguhnya hanyalah permukaan.
Yang jauh lebih penting adalah posisi strategis Masela dalam menjaga ketahanan energi nasional. Pemerintah menetapkan bahwa sekitar 60 persen produksi LNG akan diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri. Kebijakan tersebut menunjukkan perubahan orientasi pembangunan energi Indonesia yang tidak lagi semata-mata mengejar ekspor, tetapi juga menjamin pasokan bagi industri domestik.
Menunggu di Tanah Sendiri
Bagi masyarakat Tanimbar, proyek ini bukan sekadar statistik investasi.
Di balik angka miliaran dolar terdapat kisah orang-orang yang menunggu terlalu lama.
Sebagian putra daerah pernah dikirim menempuh pendidikan migas dengan harapan menjadi tenaga kerja ketika proyek mulai beroperasi. Akan tetapi, bertahun-tahun setelah lulus, sebagian di antara mereka belum memperoleh kepastian kapan kesempatan itu benar-benar datang.
Di Desa Lermatang, masyarakat adat menyatakan dukungan terhadap pembangunan, tetapi tetap meminta agar hak atas tanah petuanan dihormati. Mereka berharap proses pembebasan lahan dilakukan melalui pendekatan yang adil dengan skema ganti untung, bukan sekadar ganti rugi administratif.
Di pesisir Tanimbar, nelayan juga menyampaikan harapan serupa. Mereka tidak menolak pembangunan, tetapi menginginkan jaminan bahwa jalur pipa, pelabuhan, dan aktivitas konstruksi tidak merusak ruang tangkap maupun ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Harapan-harapan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Masela kelak tidak hanya diukur dari jumlah LNG yang diproduksi, melainkan juga dari seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di sekitar proyek.
Mengapa Baru Bergerak Sekarang?
Pertanyaan yang terus muncul selama bertahun-tahun akhirnya memperoleh jawaban yang lebih jelas pada 2026.
Sejumlah prasyarat teknis dan regulasi akhirnya bertemu pada waktu yang sama.
Dokumen Front End Engineering Design (FEED) mencapai kemajuan yang memadai. Struktur konsorsium kembali lengkap setelah masuknya Pertamina dan Petronas. Pemerintah menyetujui revisi rencana pengembangan yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS), sebuah langkah penting agar proyek tetap sejalan dengan tuntutan transisi energi global.
Di sisi lain, status proyek sebagai Proyek Strategis Nasional memberikan kepastian koordinasi lintas kementerian sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai persoalan administratif.
Bagi pemerintah, percepatan ini juga didorong kebutuhan menjaga ketahanan energi nasional. Penurunan produksi sejumlah lapangan gas tua membuat Indonesia membutuhkan sumber pasokan baru agar tidak semakin bergantung pada impor di masa depan.
Batu Pertama Bukan Garis Akhir
Groundbreaking bukanlah akhir dari cerita panjang Masela.
Masih ada pekerjaan konstruksi besar yang ditargetkan berlangsung mulai 2027. Produksi gas pertama diproyeksikan dimulai pada rentang 2029 hingga akhir 2030. Setelah itu masih terdapat puluhan tahun operasi yang akan menentukan apakah proyek ini benar-benar menjadi penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia.
Karena itu, keberhasilan Masela tidak cukup diukur dari cepatnya pembangunan kilang atau besarnya investasi yang ditanamkan.
Ukuran sesungguhnya adalah apakah masyarakat Tanimbar memperoleh kesempatan kerja yang layak, apakah usaha lokal tumbuh bersama proyek, apakah hak masyarakat adat dihormati, apakah lingkungan tetap terjaga, dan apakah energi yang dihasilkan benar-benar memperkuat kemandirian Indonesia.
Selama hampir tiga puluh tahun, Masela hidup sebagai janji.
Pada 16 Juli 2026, janji itu akhirnya berubah menjadi batu pertama.
Kini, sejarah menunggu apakah batu pertama tersebut akan benar-benar menjelma menjadi nyala api yang menerangi masa depan Tanimbar sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.
