Kabar Feature Edukasi Lensa
Jejak Tentang As'ad Tentang Portal

Tekan Enter untuk mencari

Di Balik Mikrofon Fortasi MUH1BA

Admin Juli 13, 2026 0 Komentar
Pemaparan materi Fortasi ke-IPM-an (Dok. Tim media MUH1BA)

Senin pagi, 13 Juli 2026. Saya melangkah memasuki Aula SMA Muhammadiyah 1 Babat dengan membawa sebuah materi yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa: ke-IPM-an. Namun, setiap kali mendapat amanah berbicara di hadapan pelajar baru, saya selalu merasa sedang memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi organisasi.

Di hadapan saya duduk ratusan siswa baru. Wajah-wajah yang masih canggung memasuki lingkungan baru. Sebagian masih berbincang dengan teman di sebelahnya, sebagian lain sibuk mengamati suasana aula. Mereka datang membawa harapan, kecemasan, dan rasa ingin tahu yang bercampur menjadi satu. Saya sadar, pagi itu saya tidak sedang berbicara kepada peserta Fortasi semata. Saya sedang berhadapan dengan generasi yang kelak akan menentukan arah Muhammadiyah, bahkan bangsa ini.

Saat nama saya dipanggil oleh moderator, saya berdiri, mengambil mikrofon, lalu mengawali materi dengan basmalah. Ada jeda beberapa detik sebelum kata pertama saya ucapkan. Bukan karena lupa materi, tetapi karena saya memilih untuk memperhatikan wajah-wajah yang sedang memandang ke arah saya.

Saya bertanya dalam hati, bagaimana cara memperkenalkan IPM kepada generasi yang lahir ketika internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari? Bagaimana menjelaskan organisasi yang berdiri sejak 1961 kepada anak-anak yang lebih akrab dengan video berdurasi satu menit daripada membaca sejarah panjang sebuah gerakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hadir setiap kali saya menjadi pembicara. Saya tidak ingin mereka mengenal IPM hanya sebagai organisasi sekolah. Saya ingin mereka memahami bahwa IPM adalah ruang belajar menjadi manusia.

Karena itulah saya tidak memulai materi dengan struktur organisasi ataupun contoh rencana program kerja. Saya lebih memilih mengajak mereka memahami mengapa IPM lahir. Organisasi ini bukan dibangun untuk memperbanyak rapat dan kegiatan atau mengejar jabatan. IPM hadir untuk menyiapkan pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil sebagaimana dirumuskan dalam tujuan organisasi. Organisasi hanyalah wadah. Yang ingin dibentuk adalah manusianya.

Saya kemudian mengajak mereka merenungkan semboyan yang selalu melekat pada IPM: Nuun wal Qolami wa Maa Yasthurun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan.

Bagi saya, semboyan itu tidak pernah kehilangan makna, bahkan di tengah derasnya perkembangan teknologi. Pena hari ini tidak selalu berupa tinta di atas kertas. Pena bisa berubah menjadi papan ketik komputer, layar telepon genggam, atau berbagai media digital yang digunakan setiap hari. Persoalannya bukan lagi alat yang dipakai, melainkan gagasan apa yang dilahirkan melalui alat tersebut.

Generasi hari ini sebenarnya adalah generasi yang paling banyak menulis sepanjang sejarah. Mereka menulis status, komentar, pesan singkat, dan berbagai bentuk percakapan digital hampir setiap saat. Namun, tantangan terbesar bukanlah membuat mereka lebih sering menulis, melainkan mengajak mereka menulis sesuatu yang memiliki nilai, gagasan, dan tanggung jawab.

Di tengah penyampaian materi, saya teringat pemikiran Paulo Freire bahwa pendidikan yang membebaskan bukanlah proses mengisi kepala peserta didik dengan sebanyak mungkin informasi, melainkan membangun dialog yang melahirkan kesadaran kritis. Saya merasa, Fortasi juga seharusnya demikian. Orientasi tidak boleh menjadi ruang indoktrinasi. Ia harus menjadi ruang percakapan.

Mungkin karena itulah saya tidak pernah percaya bahwa kaderisasi dapat dibangun melalui rasa takut. Perpeloncoan mungkin mampu menciptakan kepatuhan sesaat, tetapi tidak pernah melahirkan kesadaran. Sebaliknya, penghormatan terhadap peserta didik justru akan melahirkan rasa memiliki. Ketika seseorang merasa diterima, ia akan tumbuh bersama organisasi, bukan sekadar berada di dalamnya.

Menjelang akhir sesi, moderator membuka kesempatan bertanya.

Namun, satu pertanyaan yang terus saya ingat hingga hari ini datang dari seorang peserta.

"Kak, apa kualifikasi utama untuk menjadi kader IPM?"

Saya tersenyum. Pertanyaan itu sederhana, tetapi justru menyentuh inti dari seluruh materi yang saya sampaikan.

Saya tidak langsung menjawab.

Saya membiarkan suasana hening sejenak.

Lalu saya berkata, "Yang paling utama adalah moralitas."

Jawaban itu mungkin berbeda dengan yang mereka bayangkan. Mungkin juga berbeda dengan materi yang biasa disampaikan dalam forum-forum perkaderan. Banyak orang akan memulai dari ideologi organisasi, kemampuan memimpin, kecakapan berbicara, atau penguasaan administrasi. Semua itu memang penting. Saya pun mempelajarinya selama berproses di IPM.

Namun, bagi saya, semuanya harus berdiri di atas satu fondasi yang sama: moralitas.

Keilmuan dapat dipelajari.

Kemampuan berbicara dapat dilatih.

Pengalaman memimpin akan tumbuh seiring waktu.

Tetapi moralitas adalah pilihan hidup.

Saya kemudian menjelaskan bahwa tujuan IPM memang membentuk pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil. Ketiga unsur itu saling melengkapi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, hal pertama yang dinilai orang bukanlah seberapa banyak kita memahami ideologi organisasi ataupun seberapa tinggi jabatan yang kita emban.

Orang akan lebih dahulu melihat bagaimana kita bersikap.

Bagaimana kita menghormati guru.

Bagaimana kita memperlakukan teman.

Bagaimana kita menjaga amanah.

Bagaimana kita berbicara kepada orang lain.

Dan bagaimana kita bertindak ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Itulah moralitas.

Saya mengatakan kepada mereka bahwa seseorang tidak akan dikenal sebagai kader IPM hanya karena mengenakan atribut organisasi. Justru ketika atribut itu dilepas, orang lain tetap harus dapat mengenali nilai-nilai IPM melalui perilakunya.

Saya percaya, atribut hanyalah identitas visual. Moralitas adalah identitas yang sesungguhnya.

Karena itu saya selalu berkeyakinan, jangan pernah merasa menjadi kader hanya karena memakai seragam. Jangan pernah merasa menjadi pemimpin hanya karena memegang jabatan. Sebab, orang tidak menghormati kita karena atribut yang kita kenakan. Mereka menghormati kita karena karakter yang kita tunjukkan.

Bagaimana mungkin seorang pimpinan IPM tidak bermoral?

Pertanyaan itu selalu saya ajukan kepada diri sendiri.

Sebab, jabatan hanyalah amanah yang diberikan organisasi. Moralitaslah yang membuat amanah itu layak dipercaya.

Ketika sesi berakhir dan saya meninggalkan Aula SMA Muhammadiyah 1 Babat, saya tidak berharap seluruh peserta mengingat sejarah panjang IPM ataupun setiap penjelasan tentang struktur organisasi yang saya sampaikan.

Saya hanya berharap ada satu hal yang tetap tinggal dalam ingatan mereka.

Bahwa menjadi kader bukanlah tentang seberapa cepat naik jabatan.

Bukan pula tentang seberapa sering tampil di depan forum.

Menjadi kader adalah tentang bagaimana menjaga akhlak dalam setiap keadaan.

Sebab, organisasi akan selalu membutuhkan orang-orang yang cerdas. Namun, masyarakat hanya akan mempercayakan masa depannya kepada orang-orang yang bermoral.

Mungkin itulah pelajaran yang kembali saya bawa pulang dari Fortasi hari itu. Ternyata setiap kali saya diminta berbicara di depan pelajar, sesungguhnya saya sedang diingatkan kembali tentang makna menjadi seorang kader. Bahwa sebelum mengajak orang lain berubah, saya harus terlebih dahulu memastikan nilai-nilai itu tetap hidup dalam diri saya sendiri.

Karena pada akhirnya, mikrofon hanyalah alat untuk menyampaikan suara. Yang akan terus dikenang orang bukanlah suara itu sendiri, melainkan keteladanan yang mengiringinya.



0 COMMENTS

ARTIKEL TERKAIT